Rahasia Daya Tahan Ikan Sapu-Sapu di Sungai Surabaya
Shannon - Tuesday, 30 June 2026 | 01:00 PM


Ikan Sapu-Sapu Surabaya: Sang 'Tank' Penghuni Sungai yang Tak Terkalahkan
Kalau kamu sedang melipir di sepanjang bantaran Kali Mas atau nongkrong sore di sekitaran pintu air Jagir, Surabaya, coba deh sesekali intip ke permukaan airnya yang warnanya mirip-mirip kopi susu itu. Selain tumpukan eceng gondok atau sampah plastik yang hanyut dengan santainya, ada satu pemandangan yang hampir pasti selalu ada: penampakan ikan hitam legam, bersisik keras, dan hobi menempel di dinding beton sungai. Ya, apalagi kalau bukan ikan sapu-sapu.
Ikan ini bisa dibilang sebagai "warga kehormatan" sungai-sungai di Surabaya. Bukan karena mereka dihormati, tapi karena saking banyaknya dan susahnya mereka buat diusir. Di saat ikan-ikan lokal kayak nila atau mujair mulai kembang kempis gara-gara polusi air yang makin aduhai, si ikan sapu-sapu ini justru makin subur. Mereka kayak punya cheat code buat bertahan hidup di tengah kerasnya ekosistem perkotaan. Istilahnya, mereka ini adalah "tank" yang didesain khusus buat menghadapi kiamat kecil di dasar sungai Surabaya.
Sang Penjajah yang Berkulit Baja
Sebenarnya, ikan sapu-sapu ini bukan ikan asli Surabaya, apalagi asli Indonesia. Mereka ini perantau jauh dari Amerika Selatan, tepatnya dari perairan Sungai Amazon. Nama kerennya Loricariidae. Awalnya mereka dibawa ke sini sebagai ikan hias pembersih akuarium karena hobinya yang suka makan lumut. Tapi, ya namanya juga manusia, kadang kalau sudah bosan atau ikannya tumbuh terlalu besar, solusinya cuma satu: dibuang ke sungai terdekat.
Masalahnya, begitu menyentuh air sungai di Surabaya, mereka bukannya mati merana, malah merasa kayak pulang kampung. Ikan sapu-sapu punya kemampuan adaptasi yang gokil. Mereka punya organ pernapasan tambahan yang bikin mereka bisa bertahan di air dengan kadar oksigen yang sangat rendah. Jadi, kalau air sungai sudah hitam dan bau karena limbah, ikan sapu-sapu cuma bakal bilang, "Halah, begini doang?".
Gak cuma itu, sisik mereka itu keras banget, Rek. Kalau kamu pernah nggak sengaja memegang atau mencoba memotong ikan ini, kamu bakal tahu kalau kulitnya lebih mirip zirah ksatria daripada kulit ikan pada umumnya. Predator alami di sungai kita pun angkat tangan. Mau dimakan biawak? Susah dikunyah. Mau dimakan burung kuntul? Malah bikin keselek. Alhasil, populasi mereka meledak tanpa ada yang mengerem.
Mitos Siomay dan Ketakutan Kolektif Warga
Bicara soal ikan sapu-sapu di Surabaya nggak lengkap kalau nggak bahas soal urban legend yang satu ini: siomay ikan sapu-sapu. Ini adalah horor nyata bagi para pecinta kuliner pinggir jalan. Selama bertahun-tahun, muncul isu kalau pedagang siomay atau batagor nakal menggunakan daging ikan sapu-sapu sebagai campuran karena harganya yang nol rupiah—alias tinggal serok di sungai.
Secara teknis, ikan ini memang punya daging. Tapi secara etika dan kesehatan? Wah, itu cerita lain. Ikan sapu-sapu di sungai Surabaya itu ibarat spons hidup. Mereka menyerap segala macam logam berat yang ada di air, mulai dari merkuri sampai timbal. Bayangkan kalau logam-logam itu masuk ke tubuh kita lewat sepiring siomay. Mungkin setelah makan kita nggak jadi kuat kayak pahlawan super, malah jadi pasien rumah sakit.
Meski sampai sekarang kebenaran isu ini masih diperdebatkan dan lebih banyak dianggap sebagai mitos untuk menakut-nakuti, efeknya nyata. Warga Surabaya jadi punya kewaspadaan tingkat tinggi. Kalau ada siomay yang harganya terlalu murah dan rasanya sedikit "aneh", pikiran pertama yang muncul pasti: "Iki iwak sapu-sapu ta?". Sebuah bentuk trauma kolektif yang unik sekaligus menyedihkan.
Ikan yang Gagal Jadi Pahlawan Kebersihan
Ironisnya, meski namanya "sapu-sapu", ikan ini nggak benar-benar membersihkan sungai Surabaya. Banyak orang mengira mereka bakal makan sampah plastik atau limbah industri. Padahal, mereka cuma makan lumut, alga, dan detritus (sisa-sisa organik). Mereka nggak bakal menyapu botol plastik yang menyumbat saluran air di daerah Kedung Cowek.
Malah, keberadaan mereka dianggap merusak. Karena mereka invasif, mereka memakan sumber makanan yang seharusnya buat ikan-ikan lokal. Mereka juga hobi bikin lubang di tebing-tebing tanah sungai buat tempat bertelur. Bayangkan kalau ribuan ikan bikin lubang di satu area, lama-lama tanahnya bisa ambrol alias longsor. Jadi, bukannya jadi petugas kebersihan, mereka malah jadi kontraktor penghancur infrastruktur sungai tanpa izin.
Fenomena Memancing yang 'Ngenes'
Coba deh perhatikan bapak-bapak yang hobi mancing di pinggir jembatan Merah atau sepanjang sungai Jagir. Banyak dari mereka yang sebenarnya berharap dapat ikan mujair atau patin. Tapi apa daya, yang menyambar umpan justru si "hitam keras" ini. Ekspresi para pemancing saat menarik kail dan melihat yang nyangkut adalah ikan sapu-sapu biasanya seragam: kecewa berat campur jengkel.
Beberapa pemancing biasanya bakal langsung membanting ikan itu ke aspal atau membiarkannya mati di daratan. Kejam? Mungkin. Tapi buat mereka, ikan sapu-sapu itu hama yang menghabiskan umpan mahal-mahal tanpa memberikan kepuasan saat dimasak. Ikan ini benar-benar nggak ada harganya di mata warga, kecuali mungkin buat orang-orang kreatif yang mulai mencoba mengolah kulitnya jadi kerajinan tangan atau pupuk, meski itu pun masih sangat jarang.
Apa Kabar Sungai Kita?
Keberadaan ikan sapu-sapu yang mendominasi sungai-sungai di Surabaya sebenarnya adalah sebuah alarm keras. Mereka adalah indikator kalau kualitas air kita memang sedang tidak baik-baik saja. Ikan ini adalah cermin dari lingkungan yang sudah terlalu banyak menerima beban polusi. Semakin banyak ikan sapu-sapu, berarti semakin sedikit jenis ikan lain yang bisa bertahan hidup di sana.
Mungkin kita harus mulai memandang ikan sapu-sapu bukan sebagai musuh, tapi sebagai pengingat. Pengingat bahwa sungai kita butuh perhatian lebih dari sekadar seremoni tanam pohon setahun sekali. Selama sungai kita masih penuh limbah, si ikan tank ini bakal terus berjaya, berkembang biak dengan santainya sambil menertawakan kita dari balik keruhnya air.
Jadi, buat kamu yang tinggal di Surabaya, jangan cuma bangga sama taman-tamannya yang indah atau mal-malnya yang megah. Sesekali tengoklah ke bawah jembatan. Lihatlah pergerakan si ikan sapu-sapu itu. Mereka adalah saksi bisu perjalanan kota ini, makhluk paling tangguh yang mungkin akan tetap ada bahkan setelah kita semua nggak lagi menghirup udara Surabaya yang panas ini. Ikan sapu-sapu bukan sekadar ikan, mereka adalah simbol ketahanan hidup yang luar biasa, sekaligus monumen hidup atas kerusakan lingkungan yang kita buat sendiri.
Next News

Kaget! Ternyata Bandara Juanda Bukan Milik Kota Surabaya
4 days ago

Menjelajahi Sudut Terangker Surabaya yang Melegenda Sejak Dulu
12 days ago

Cari Oleh-oleh Surabaya? Ini Daftar Jajanan yang Wajib Dibeli
13 days ago

Dibuang Hari Ini, Bisa Sampai Laut Besok: Surabaya Jadi Pilot Project Pengurangan Sampah Plastik
22 days ago

Beli Atau Pinjam? Menelusuri Ruang Literasi Favorit Anak Surabaya
a month ago

Rek! Ini Lho Alasan Kenapa Surabaya Ulang Tahun Tiap 31 Mei.
a month ago

Ibukota Boleh Jakarta, Tapi Gudang Hits Tetap Jawa Timur: Menelusuri Jejak Dewa 19 hingga Letto
a month ago

Kelezatan Bebek Goreng di Surabaya: Simbol Kuliner Kota Pahlawan
a month ago

Eksplorasi Sudut Estetik Jalan Untung Suropati Lewat Lensa Analog
a month ago

Pesona Organik Jalan MERR Surabaya Menjelang Idul Adha
a month ago





