Ceritra
Ceritra Warga

Hati-hati! Ini Tanda Tongkrongan Kamu Sudah Mulai Jadi Toxic

Shannon - Tuesday, 30 June 2026 | 12:00 PM

Background
Hati-hati! Ini Tanda Tongkrongan Kamu Sudah Mulai Jadi Toxic
Ilustrasi Nongkrong di Cafe (kompasiana.com/)

Seni Merusak Suasana: Menelanjangi Kebiasaan Buruk yang Sering Muncul di Tongkrongan

Bagi anak muda di Indonesia, "nongkrong" bukan sekadar aktivitas duduk-duduk sambil menyesap kopi sachet atau latte kekinian. Nongkrong adalah ritual. Ia adalah katarsis setelah seharian dihajar deadline kantor atau tugas kuliah yang tidak ada habisnya. Di sana, ide-ide brilian lahir, tawa pecah, dan solidaritas dipupuk. Namun, ibarat sayur tanpa garam, hampir setiap tongkrongan pasti punya bumbu-bumbu menyebalkan yang kalau dibiarkan terus-menerus bisa bikin "vibes" yang tadinya asyik berubah jadi "toxic".

Kita semua punya satu atau dua teman atau jangan-jangan kita sendiri yang tanpa sadar membawa kebiasaan buruk ke atas meja. Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tapi efeknya bisa merusak mood kolektif. Mari kita bedah satu per satu perilaku yang sering kali bikin kita pengen teriak "Mending lo balik aja deh!" di tengah-tengah obrolan.

1. Si Raja "Talangin Dulu Ya"

Kebiasaan yang satu ini adalah musuh nomor satu dalam stabilitas ekonomi sirkular tongkrongan. Kamu pasti kenal tipe manusia yang kalau tagihan datang tiba-tiba mendadak lupa password m-banking, atau merasa dompetnya ketinggalan di laci meja belajar. Kalimat andalannya? "Eh, talangin dulu ya, nanti gue transfer pas nyampe rumah."

Masalahnya, "nanti" itu bersifat relatif. Bisa nanti malam, bisa minggu depan, atau yang paling parah, nanti setelah kiamat kurang dua hari. Meminjam uang untuk bayar kopi mungkin nilainya nggak seberapa, tapi kalau dilakukan berulang kali tanpa inisiatif untuk membayar kembali, ini bukan lagi masalah lupa, melainkan karakter. Di tongkrongan yang sehat, transparansi soal duit itu penting. Jangan sampai persahabatan bertahun-tahun retak cuma gara-gara urusan kopi susu dua puluh ribu rupiah yang tak kunjung lunas.

2. Fisik Ada, Jiwa di Algoritma (Budak Gadget)

Pernah nggak kamu lagi asyik cerita soal masalah hidup yang berat, eh teman di depanmu malah sibuk scroll FYP TikTok sambil ketawa sendiri? Sakitnya tuh nggak berdarah. Fenomena ini sering disebut "phubbing" (phone snubbing). Kita bela-belain menembus macet dan hujan buat ketemu secara fisik, tapi pas sudah duduk bareng, masing-masing malah asyik dengan dunia digitalnya sendiri.

Nongkrong itu tujuannya buat koneksi, bukan sekadar pindah tempat main HP. Kalau cuma mau main game atau nonton video pendek, mending di kamar sambil rebahan, kan? Kebiasaan ini bikin obrolan jadi tersendat. Setiap kali ada yang tanya, responnya cuma "Hah? Apa? Coba ulangin." Capek, Bos!

3. Si Paling Tahu (The Gatekeeper)

Dalam setiap tongkrongan, biasanya ada satu orang yang merasa dirinya adalah kurator segala hal. Mulai dari musik, film, sampai cara menyeduh kopi yang benar. Kalau kamu suka band yang lagi viral, dia bakal bilang, "Ah, itu mah mainstream. Lo harusnya dengerin band indie asal Islandia yang anggotanya cuma dua orang ini."

Sifat "Si Paling" ini benar-benar pembunuh mood. Mereka membuat orang lain merasa inferior hanya karena punya selera yang berbeda. Padahal, inti dari nongkrong adalah keberagaman isi kepala. Kita nggak butuh kuliah umum soal kenapa film dokumenter lebih baik daripada film superhero pas lagi santai. Biarkan semua orang menikmati apa yang mereka suka tanpa perlu merasa dihakimi.

4. Penyakit "On the Way" Padahal Baru Mau Mandi

Budaya jam karet di Indonesia memang sudah melegenda, tapi dalam urusan tongkrongan, ini sudah masuk level kriminalitas sosial. Janjian jam tujuh malam, di grup WhatsApp bilangnya "Gue otw," tapi nyatanya dia baru mau ambil handuk. Teman-teman yang lain sudah sampai di lokasi, sudah pesan minum, bahkan sudah habis setengah gelas, tapi yang bersangkutan belum juga muncul batang hidungnya.

Menghargai waktu orang lain adalah bentuk penghormatan paling dasar. Kalau memang telat, jujur saja. Jangan memberi harapan palsu dengan share loc fiktif atau alasan ban bocor yang sudah dipakai sepuluh kali dalam sebulan. Konsistensi dalam telat hanya akan membuatmu pelan-pelan tidak diajak lagi dalam agenda-agenda seru berikutnya.

5. Gosip yang Melampaui Batas

Membicarakan orang lain memang bumbu yang paling gurih saat nongkrong. Tapi ada garis tipis antara sekadar update kabar dengan melakukan pembunuhan karakter. Kebiasaan buruk yang sering muncul adalah saat obrolan berubah jadi sesi menjatuhkan orang yang nggak ada di situ. Lebih parah lagi kalau yang dibicarakan adalah teman sendiri dalam lingkaran tersebut.

Tongkrongan yang isinya cuma gibah negatif biasanya punya energi yang berat. Kamu bakal mulai mikir, "Kalau dia bisa ngomongin si A kayak gitu di depan gue, jangan-jangan dia ngomongin gue juga di depan si B?" Trust issue pun muncul, dan rasa nyaman pun hilang.

6. Si "Mager" yang Nggak Tahu Diri

Kebiasaan ini biasanya muncul di tongkrongan yang basisnya di rumah salah satu teman (basecamp). Ada tipe tamu yang merasa dirinya raja. Datang nggak bawa apa-apa, makan cemilan tuan rumah sampai habis, pakai listrik buat charge laptop sambil main game berat, dan pas pulang sampah bekas makannya ditinggal begitu saja di atas karpet.

Nongkrong di rumah orang itu ada etikanya. Minimal, bantu-bantu beresin gelas setelah selesai atau sesekali bawa gorengan buat dimakan bareng. Jangan sampai tuan rumah malah kapok dan ogah rumahnya dijadikan tempat kumpul lagi gara-gara kamu yang malasnya minta ampun.

Nongkrong itu seni menjaga keseimbangan. Kita nggak perlu jadi orang suci yang nggak punya salah, tapi minimal kita sadar kalau kehadiran kita seharusnya membawa kegembiraan, bukan beban bagi orang lain. Dengan mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk di atas, kita nggak cuma menyelamatkan mood teman-teman kita, tapi juga menjaga agar lingkaran pertemanan kita tetap awet sampai tua nanti.

Jadi, gimana? Di antara poin-poin tadi, ada yang merasa tersindir atau langsung kepikiran wajah salah satu temanmu? Kalau iya, mungkin ini saatnya buat kirim link artikel ini ke grup WhatsApp tongkrongan kalian tentu saja dengan caption: "No offense ya, guys!"

Logo Radio
🔴 Radio Live