Ceritra
Ceritra Warga

Aksi Heroik Fathimah Azzahra Hadapi Polisi di Jantung Jakarta

Fildzah - Wednesday, 19 August 2026 | 12:00 PM

Background
Aksi Heroik Fathimah Azzahra Hadapi Polisi di Jantung Jakarta
Fathimah Azzahra (sidonews.com/sidonews.com)

Fathimah Azzahra dan Standar Ganda di Garis Depan: Ketika Air Mata Menjadi Headline

Bayangkan Anda berada di tengah hiruk-pikuk Bundaran HI pada 18 Agustus 2026. Suasana panas, bukan hanya karena terik matahari Jakarta yang memang tidak pernah ramah, tapi juga karena tensi massa yang meninggi. Di tengah kepungan barikade polisi, ada satu sosok yang tertangkap kamera media sedang berhadapan langsung dengan aparat hingga air matanya jatuh. Sosok itu adalah Fathimah Azzahra, aktivis sekaligus pengurus BEM UI yang namanya kemudian viral.

Namun, ada yang janggal dari narasi yang beredar keesokan harinya. Media massa, salah satunya TribunNews, cenderung menyoroti sisi emosionalnya dengan tajuk berita yang menekankan kata "menangis". Ini adalah fenomena klasik yang sering kita temui: ketika aktivis perempuan turun ke jalan, sisi kemanusiaan dan emosinya lebih laku dijual daripada substansi orasinya. Coba bandingkan dengan aktivis laki-laki. Saat mereka berteriak lantang atau bahkan terlibat gesekan fisik, narasi yang muncul biasanya soal "keberanian" atau "ketegasan". Jarang sekali ada media yang sibuk membahas apakah mereka berkaca-kaca atau tidak. Di sinilah pertanyaan besar itu muncul: apakah ruang aktivisme kita benar-benar netral gender, atau jangan-jangan ada beban tambahan yang harus dipikul perempuan tanpa pernah disadari publik?

Visibilitas yang Menjadi Dua Mata Pisau

Fathimah Azzahra sebenarnya bukan "orang baru" yang sekadar cari panggung. Ia dikenal luas karena gaya bicaranya yang sangat tenang, terstruktur, dan dingin saat menguliti kebijakan pemerintah. Berbeda dengan beberapa rekan pimpinan BEM UI lainnya yang mungkin lebih meledak-ledak, Fathimah membawa nuansa intelektual yang kental. Menariknya, laporan dari Antara News Makassar sempat menganalisis bagaimana cara bicara ini justru menjadi bahan penilaian publik.

Ada standar ganda yang bermain secara halus di sini. Perempuan dalam ruang publik seringkali dinilai dari "kemasan" komunikasinya—nada suara, ekspresi wajah, hingga tingkat kesantunannya—sama besarnya dengan isi argumen yang ia bawa. Jika ia terlalu keras, ia dianggap emosional atau tidak terkontrol. Jika ia terlalu tenang, argumennya dianggap kurang "powerfull". Sementara itu, rekan-rekan lelakinya seringkali mendapatkan "free pass" untuk bersikap agresif tanpa harus dikomentari soal etikanya. Framing media terhadap Fathimah menunjukkan bahwa menjadi perempuan di garis depan berarti harus siap diawasi secara mikroskopis, bukan hanya soal apa yang kamu perjuangkan, tapi bagaimana caramu bernapas saat memperjuangkannya.

Ancaman yang Menyasar Ranah Personal

Bergerak sebagai aktivis di Indonesia memang berisiko tinggi, tapi bagi perempuan, risikonya punya lapisan gelap yang berbeda. Fathimah tidak hanya menghadapi represi di lapangan, tapi juga teror yang bersifat sangat personal. Bayangkan betapa mengerikannya dikirimi kain kafan dan senjata tajam ke alamat pribadi. Lebih jauh lagi, serangan terhadapnya merambah ke dunia digital melalui manipulasi video dan penyebaran konten hoaks untuk menjatuhkan reputasinya.

Berdasarkan laporan Tribunnews Aceh dan beberapa utas yang viral di media sosial X, serangan ini bahkan melibatkan peretasan nomor telepon ayahnya. Pesan-pesan ancaman dan video manipulatif dikirimkan langsung ke anggota keluarganya. Ini adalah pola intimidasi yang spesifik menyasar perempuan: serangan pada tubuh, keluarga, dan kehormatan personal. Bagi aktivis laki-laki, ancaman biasanya berhenti pada posisi politik atau keselamatan fisik. Namun bagi perempuan, musuh seringkali mencoba menghancurkan seluruh ekosistem sosial dan mentalnya. Ini bukan sekadar perbedaan teknis ancaman, melainkan bentuk kekerasan berbasis gender yang sistematis untuk membungkam suara perempuan.

Represi Lapangan: Fisik sebagai Medan Kontestasi

Saat konfrontasi fisik terjadi di lapangan, tubuh perempuan seringkali menjadi objek dilema bagi publik. Ketika Fathimah terekam menangis di depan polisi, publik terbelah. Ada yang melihatnya sebagai bentuk kerentanan yang dieksploitasi media, namun ada juga yang gagal melihat bahwa air mata itu bisa jadi adalah manifestasi dari kemarahan yang meluap, bukan kelemahan.

Di ruang yang represif, ekspresi emosi seringkali dianggap sebagai "titik lemah". Padahal, tetap berdiri di depan barikade meski suara bergetar dan air mata jatuh justru menunjukkan tingkat keberanian yang berbeda. Ini adalah jenis keberanian yang jarang diakui setara dengan agresivitas verbal gaya maskulin yang biasa kita agung-agungkan. Kita perlu bertanya, mengapa kita lebih menghargai teriakan kasar daripada keteguhan hati yang dibalut air mata? Apakah standar "pahlawan" kita memang hanya didesain untuk satu jenis ekspresi saja?

Beban Ganda yang Tak Kasat Mata

Mari kita lihat latar belakangnya sebentar. Fathimah adalah mahasiswi Kedokteran FKUI angkatan 2023. Menjadi mahasiswa kedokteran saja sudah menuntut waktu dan energi yang luar biasa besar. Sekarang, tambahkan peran sebagai pemimpin organisasi dan wajah publik gerakan kritis. Laporan Jawa Pos sempat mengulas bagaimana ia harus menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan tanggung jawab organisasi.

Namun, di balik itu semua, ada ekspektasi sosial tambahan. Aktivis perempuan seringkali diharapkan tetap "feminin", tetap "santun", dan tidak boleh terlihat "terlalu ambisius" agar tetap diterima oleh masyarakat luas. Ada tekanan untuk menjadi sempurna di semua lini: pintar di kelas, berani di jalanan, tapi tetap manis di mata publik. Beban ganda ini jarang sekali dibebankan kepada aktivis laki-laki dengan berat yang sama. Mereka boleh saja berantakan secara akademik asalkan "vokal" di organisasi, dan publik biasanya akan tetap memaklumi.

Belajar dari Sejarah yang Sering Melupakan

Fenomena yang dialami Fathimah Azzahra bukanlah kasus terisolasi. Jika kita menengok sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia, mulai dari Reformasi 1998 hingga berbagai aksi lokal, kontribusi perempuan seringkali tersisih dari buku sejarah atau hanya dijadikan catatan kaki. Kita mengenal tokoh-tokoh besar laki-laki, tapi sering lupa bahwa di samping mereka, ada banyak perempuan yang mengorganisir massa, menyediakan logistik, hingga berhadapan langsung dengan peluru.

Pengalaman aktivis perempuan di berbagai kampus menunjukkan pola serupa. Mereka seringkali harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan rekan laki-lakinya. Visibilitas mereka seringkali hanya dihargai jika memenuhi standar estetika atau narasi emosional tertentu yang diinginkan pasar media.

Mendefinisikan Ulang Makna "Garda Depan"

Pada akhirnya, kisah Fathimah Azzahra di Bundaran HI mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali standar penilaian kita terhadap seorang pejuang. Apakah keberanian hanya milik mereka yang tidak pernah menangis? Ataukah keberanian justru terletak pada kesediaan untuk tetap melangkah maju meskipun tahu bahwa risiko yang dihadapi jauh lebih besar dan lebih personal?

Kita perlu berhenti melihat air mata aktivis perempuan sebagai tanda kelemahan dan mulai melihatnya sebagai bagian dari integritas emosional dalam berjuang. Definisi "garda depan" seharusnya tidak lagi sempit. Menjadi garda depan berarti menanggung beban publik sekaligus beban gender yang seringkali tidak adil. Sudah saatnya kita memberikan ruang bagi semua bentuk ekspresi perjuangan, tanpa harus memberikan label yang membatasi hanya karena seseorang adalah perempuan.

Logo Radio
🔴 Radio Live