Ceritra
Ceritra Warga

Awas! Baju Keren Bisa Jadi Pemicu Bau Badan Saat Cuaca Panas

cintami - Thursday, 13 August 2026 | 03:15 PM

Background
Awas! Baju Keren Bisa Jadi Pemicu Bau Badan Saat Cuaca Panas
Bahan Polyester (www.zalora.co.id/)

Kenapa Baju Poliester Seringkali Jadi Biang Kerok Bau Badan yang 'Semriwing'

Pernah nggak sih, kamu lagi merasa paling ganteng atau cantik sedunia karena baru aja beli baju baru yang modelnya lagi tren banget? Warnanya cerah, bahannya nggak gampang kusut, dan harganya—ini yang paling penting—ramah banget di dompet. Tapi, baru juga dipakai jalan satu jam di mal atau nunggu ojek online di pinggir jalan, tiba-tiba ada aroma nggak sedap yang menyeruak. Awalnya kamu pikir itu bau got di pinggir jalan, tapi pas kamu iseng hirup area ketiak sendiri... Amsyong! Ternyata sumber bau itu berasal dari diri kamu sendiri.

Padahal, kamu sudah mandi dua kali, pakai deodoran yang iklannya menjanjikan kesegaran 48 jam, bahkan sudah semprot parfum mahal. Masalahnya bukan di kebersihan diri kamu, melainkan di label baju yang kamu pakai: 100% Polyester. Ya, bahan sejuta umat ini memang punya rahasia gelap yang seringkali bikin kita malu di depan gebetan.

Kenalan Sama Poliester, Si Plastik yang Menyamar Jadi Kain

Sebelum kita menyalahkan keringat kita sendiri, kita perlu tahu dulu apa itu poliester. Singkatnya, poliester itu adalah serat sintetis yang dibuat dari polimer. Kalau mau jujur-juran, poliester itu sekerabat dekat sama botol plastik minuman yang biasa kamu beli di minimarket. Karena dasarnya adalah plastik, poliester punya sifat yang sangat berbeda dengan serat alami kayak katun, sutra, atau wol.

Poliester disukai produsen fashion karena murah, kuat, warnanya awet, dan yang paling penting: nggak perlu disetrika pun sudah rapi. Buat kita yang malas ngurus cucian, poliester adalah anugerah. Tapi buat urusan aroma tubuh? Nah, di situlah masalahnya dimulai. Poliester punya sifat hidrofobik, alias benci air. Dia nggak menyerap keringat. Jadi, pas kamu keringatan, cairan itu nggak masuk ke serat kain, tapi cuma nangkring di permukaan kulit atau terjebak di sela-sela serat kain.

Kenapa Malah Jadi Bau? Salahkan Sifat 'Oleofilik'

Di sinilah plot twist-nya. Meskipun benci air, poliester ternyata punya sifat 'oleofilik', alias cinta banget sama minyak. Keringat manusia itu bukan cuma air doang, tapi juga mengandung lemak dan protein. Bakteri yang ada di kulit kita, terutama spesies bernama Micrococcus, benar-benar doyan nongkrong di serat poliester karena mereka bisa dengan mudah memecah lemak dan minyak yang menempel di sana.

Hasil dari 'pesta' bakteri ini adalah asam lemak yang mengeluarkan bau menyengat. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri penyebab bau badan ini tumbuh jauh lebih subur di kain poliester dibandingkan di kain katun. Di kain katun, keringat diserap ke dalam serat, sehingga bakteri nggak punya banyak kesempatan buat berpesta di permukaan. Sedangkan di poliester, keringat dan minyak terjebak di ruang antara serat, menciptakan 'apartemen mewah' bagi bakteri untuk berkembang biak dan berproduksi.

Perangkap Bau yang Susah Hilang

Pernah nggak kamu ngerasa baju poliester kamu tetap bau meskipun sudah dicuci berkali-kali? Kamu sudah pakai deterjen paling wangi, ditambah pelembut kain satu sachet penuh, tapi pas baju itu dipakai dan kena panas tubuh sedikit saja, bau 'prengus' itu balik lagi. Ini bukan sihir, tapi memang sifat dasar poliester.

Karena sifatnya yang suka minyak tadi, molekul bau yang berasal dari lemak tubuh kita benar-benar terperangkap di dalam serat plastik tersebut. Deterjen biasa kadang nggak sanggup mengangkat sisa minyak yang sudah 'nyaman' bersembunyi di sana. Jadi, pas kamu pakai lagi, suhu tubuh kamu yang hangat bertindak seperti pemanas yang menguapkan sisa-sisa bau yang tertinggal dari pemakaian sebelumnya. Menyebalkan, bukan?

Katun vs Poliester: Sebuah Dilema Gaya Hidup

Kalau kita bandingkan sama katun, bedanya memang bumi dan langit. Katun itu kayak paru-paru, dia bernapas. Udara bisa keluar masuk dengan bebas, dan keringat yang diserap serat katun bakal lebih cepat menguap tanpa harus jadi ladang bakteri. Tapi ya itu tadi, katun gampang lecek. Pakai kemeja katun kalau duduknya sembarangan sedikit saja, langsung kelihatan kayak kertas gorengan yang diremas-remas.

Gengsi kita seringkali menuntut kita untuk tetap tampil rapi tanpa kerutan, yang akhirnya membawa kita kembali ke pelukan poliester. Apalagi sekarang banyak brand fast fashion yang memoles poliester sedemikian rupa sampai teksturnya mirip sutra atau linen. Kita tertipu oleh tampilan luar yang aesthetic, tanpa sadar kita sedang memakai 'kantong plastik' yang siap memerangkap bau badan kita sendiri.

Gimana Caranya Biar Tetap Wangi Walau Pakai Poliester?

Kalau kamu sudah terlanjur jatuh cinta sama model baju yang ternyata bahannya poliester, jangan langsung dibuang. Ada beberapa trik yang bisa kamu lakukan. Pertama, jangan pernah pakai baju poliester lebih dari satu kali tanpa dicuci. Kalau katun mungkin masih bisa 'diselamatkan' dengan semprotan parfum buat dipakai besoknya, poliester haram hukumnya dilakukan begitu.

Kedua, coba gunakan deterjen yang memang dikhususkan untuk pakaian olahraga (sportswear). Pakaian olahraga biasanya terbuat dari poliester, dan deterjen jenis ini punya formula khusus buat mengangkat minyak dan bakteri lebih kuat daripada deterjen biasa. Ketiga, hindari penggunaan pelembut kain (softener) berlebihan pada poliester, karena softener malah bisa melapisi serat kain dan semakin mengunci minyak serta bakteri di dalamnya.

Terakhir, kalau kamu tahu hari itu kamu bakal banyak aktivitas di luar ruangan dan panas-panasan, mendingan simpan dulu deh baju poliester kamu. Pakailah bahan yang lebih ramah di kulit seperti katun atau bambu. Nggak mau kan, lagi asyik nongkrong di kafe kekinian, tiba-tiba orang di meja sebelah bisik-bisik karena mencium bau yang nggak seharusnya ada di sana?

Kesimpulannya, poliester itu memang praktis dan bikin kita kelihatan rapi setiap saat. Tapi, ada harga 'aroma' yang harus dibayar. Mengetahui cara kerja kain ini setidaknya bikin kita lebih waspada dan nggak melulu menyalahkan deodoran kita yang nggak ampuh. Karena kadang-kadang, masalahnya bukan di badan kita, tapi di benang-benang plastik yang kita bungkus ke tubuh kita setiap hari.

Logo Radio
🔴 Radio Live