Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya Bagi Mesin Pesawat?

cintami - Wednesday, 09 September 2026 | 03:00 PM

Background
Kenapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya Bagi Mesin Pesawat?
Dampak Abu Vulkanik di Mesin Pesawat (rubikindo.com/)

Abu Vulkanik: Musuh Bebuyutan Pesawat yang Bikin Rencana Liburan Berantakan

Bayangkan situasinya begini: Kamu sudah rapi, pakai outfit paling kece buat foto di bandara, paspor sudah di tangan, dan bayangan pantai di Bali atau dinginnya pegunungan di Jepang sudah menari-nari di kepala. Tiba-tiba, pengeras suara bandara berbunyi dengan nada datar yang paling kita benci: "Mohon maaf, penerbangan Anda dibatalkan karena adanya aktivitas gunung berapi."

Kesal? Pasti. Tapi sebelum kamu mulai ngomel-ngomel di media sosial soal maskapai yang dianggap "lebay", ada baiknya kita ngobrol santai soal kenapa debu yang kelihatannya sepele itu bisa jadi mimpi buruk paling horor bagi mesin jet seharga ratusan miliar rupiah. Indonesia, sebagai "pentolan" di wilayah Ring of Fire, memang punya hubungan benci tapi rindu dengan gunung berapi. Dan bagi dunia penerbangan, abu vulkanik itu bukan sekadar debu biasa; itu adalah butiran kaca yang siap menghancurkan segalanya.

Bukan Debu Biasa, Tapi Pecahan Kaca yang "Jahat"

Kesalahan terbesar kita adalah menganggap abu vulkanik itu sama dengan debu yang ada di atas lemari atau debu jalanan yang bikin bersin. Padahal, kalau kita lihat di bawah mikroskop, abu vulkanik itu sebenarnya adalah batuan kecil, mineral, dan kaca vulkanik yang bentuknya tajam bin runcing. Ia sangat keras dan punya sifat abrasif yang luar biasa.

Nah, masalahnya, mesin jet pesawat modern itu super sensitif. Mesin ini bekerja dengan cara menyedot udara dalam jumlah besar. Kalau pesawat nekat menembus awan abu, mesin itu bakal berubah jadi "vacuum cleaner" raksasa yang menyedot ribuan partikel kaca kecil tersebut. Di sinilah bencana dimulai. Saat masuk ke dalam ruang bakar yang suhunya luar biasa panas, partikel kaca ini bakal meleleh. Bayangkan, kaca cair yang lengket masuk ke komponen mesin yang sedang berputar kencang. Begitu kaca cair ini mendingin di bagian mesin yang lebih belakang, dia bakal membeku dan membentuk lapisan keras yang menutup aliran udara. Hasilnya? Mesin bisa mati mendadak alias stall di tengah awan gelap. Serem, kan?

Belajar dari Tragedi Hampir Celaka: Kisah British Airways 009

Kalau kamu butuh bukti betapa ngerinya abu ini, carilah kisah British Airways Flight 009 tahun 1982. Waktu itu, pesawat Boeing 747 ini terbang di atas Samudra Hindia dan nggak sengaja melewati awan abu dari Gunung Galunggung yang lagi "hajatan". Efeknya gila banget. Keempat mesin pesawat mati total. Bayangkan, pesawat sebesar itu melayang tanpa tenaga di tengah kegelapan malam.

Pilotnya sampai harus melakukan manuver turun darurat demi mendapatkan udara bersih supaya mesin bisa di-restart. Beruntung, mereka berhasil mendarat di Jakarta meski kaca depan pesawat sudah buram karena "diamplas" oleh abu vulkanik sampai pilot nggak bisa melihat apa-apa ke arah luar. Kejadian legendaris ini jadi alasan kenapa standar keamanan penerbangan sekarang jadi sangat ketat soal urusan gunung berapi. Nggak ada pilot yang mau jadi pahlawan dengan menembus awan abu kalau risikonya adalah mesin yang mogok berjamaah.

Nggak Cuma Mesin, Sensor Pesawat Pun Bisa "Error"

Selain bikin mesin mogok, abu vulkanik juga hobi banget bikin sistem elektronik pesawat jadi bingung. Pesawat itu punya alat namanya Pitot Tube, sensor kecil yang berfungsi buat mengukur kecepatan udara. Kalau lubang kecil di sensor ini tersumbat abu, pilot nggak bakal tahu berapa kecepatan asli pesawat mereka. Terbang tanpa tahu kecepatan itu ibarat lari dengan mata tertutup di pinggir jurang; salah sedikit, fatal akibatnya.

Belum lagi soal kaca kokpit. Seperti yang dialami kru British Airways tadi, abu vulkanik yang keras itu bakal bergesekan dengan kaca depan pesawat dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Efeknya? Kaca bakal tergores parah sampai jadi putih buram seperti kaca es. Kalau pilot nggak bisa lihat landasan saat mau mendarat, ya wassalam. Jadi, penundaan jadwal terbang itu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang maskapai supaya kita nggak perlu merasakan sensasi "blind landing" yang bikin jantung copot.

Dampak Ekonomi yang Bikin Dompet Menangis

Mari kita bicara realistis. Selain soal nyawa, abu vulkanik ini adalah musuh besar bagi ekonomi dan logistik. Ketika satu bandara besar seperti Ngurah Rai atau Soekarno-Hatta tutup karena abu, efek dominonya ke mana-mana. Ribuan penumpang terlantar, hotel penuh dadakan, dan yang paling parah adalah kargo barang yang tertahan.

Maskapai kehilangan jutaan dolar tiap harinya, dan biaya buat membersihkan pesawat yang "terkontaminasi" abu itu nggak murah. Pesawat yang nekat terbang di area yang sedikit terpapar abu pun harus menjalani inspeksi super ketat yang memakan waktu lama. Jadi, kalau jadwal penerbangan kacau, itu bukan cuma soal satu atau dua pesawat yang telat, tapi soal sistem transportasi global yang sedang berusaha menyelamatkan diri dari kerugian yang lebih besar.

Kesimpulan: Sabar Adalah Kunci

Memang menyebalkan kalau rencana yang sudah disusun rapi harus hancur gara-gara gunung yang tiba-tiba batuk. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Kita tinggal di negara yang diberkati dengan tanah subur hasil aktivitas vulkanik, maka risikonya ya harus siap berbagi ruang dengan "nafas" bumi tersebut. Abu vulkanik adalah pengingat bahwa sekanggih apa pun teknologi manusia, kita tetap kecil di hadapan kekuatan alam.

Jadi, kalau lain kali penerbanganmu dibatalkan karena abu vulkanik, cobalah tarik nafas dalam-dalam. Mendingan kita nunggu di ruang tunggu bandara sambil ngopi dan update status galau, daripada harus terjebak di dalam kabin pesawat yang mesinnya lagi "tersedak" butiran kaca di ketinggian 30 ribu kaki. Safety first, liburan kemudian. Setuju, kan?

Logo Radio
🔴 Radio Live