Kenapa Ada Orang Harus Dengar Musik Agar Bisa Konsentrasi?
cintami - Tuesday, 01 September 2026 | 03:45 PM


Belajar Pakai Musik: Antara Jadi Jenius atau Malah Bengong Sambil Nyanyi
Bayangkan kamu lagi di sebuah coffee shop yang estetik. Di meja sebelah, ada seorang mahasiswa yang dahinya berkerut serius, matanya menatap laptop, tapi kepalanya manggut-manggut mengikuti dentuman bass dari headphone besarnya. Di sisi lain, ada orang yang baru saja menegur barista karena suara musik di kafe itu dianggap terlalu keras dan bikin dia nggak bisa konsen baca buku. Fenomena ini klasik banget, kan? Ada orang yang kalau belajar harus pakai playlist "Lofi Hip Hop Radio - Beats to Relax/Study To", tapi ada juga yang kalau dengar suara sendok berdenting saja langsung buyar fokusnya.
Kenapa sih manusia bisa beda banget urusan kuping dan otak ini? Kenapa ada yang merasa musik itu bahan bakar kreativitas, sementara buat yang lain musik cuma jadi polusi suara yang mengganggu proses masuknya materi ke otak? Ternyata, jawabannya nggak sesederhana "selera" doang. Ada urusan sains, struktur otak, sampai tipe kepribadian yang main di belakang layar.
Dopamin vs Konsentrasi: Pertarungan di Balik Headphone
Secara ilmiah, alasan utama kenapa banyak orang suka dengerin musik pas lagi ngerjain tugas adalah karena musik itu pabrik dopamin. Saat kita dengar lagu favorit, otak kita ngelepasin hormon rasa senang ini. Mood jadi naik, stres berkurang, dan rasanya ngerjain tugas kalkulus yang menyebalkan itu jadi sedikit lebih ringan. Buat orang-orang tipe ini, musik berfungsi sebagai "pelumas" mental agar mesin otaknya nggak gampang panas.
Tapi, ada tapinya nih. Masalahnya muncul ketika jenis musik yang diputar itu salah sasaran. Pernah nggak kamu lagi nulis esai tapi sambil dengerin lagu pop yang liriknya galau abis? Bukannya nulis argumen yang tajam, tanganmu malah otomatis ngetik lirik lagunya. Ini yang disebut dengan gangguan pada phonological loop dalam memori kerja kita. Otak kita itu punya kapasitas terbatas buat memproses informasi bahasa. Kalau kamu lagi baca atau nulis (proses bahasa) sambil dengerin orang nyanyi (juga proses bahasa), otakmu bakal rebutan sumber daya. Hasilnya? Kamu cuma dapet capeknya doang, materinya nggak masuk-masuk.
Si Ekstrovert yang Butuh Rame vs Si Introvert yang Butuh Hening
Kalau kita ngomongin kepribadian, ada teori menarik dari psikolog Hans Eysenck. Singkatnya, otak manusia itu punya level "arousal" atau tingkat rangsangan dasar yang beda-beda. Orang introvert biasanya punya level rangsangan dasar yang sudah tinggi. Artinya, tanpa musik pun, otak mereka sudah cukup "ramai". Kalau ditambah musik yang kencang, mereka bakal merasa overstimulated alias kewalahan. Makanya, anak-anak introvert cenderung lebih suka keheningan total kalau lagi mikir berat.
Kebalikannya, para ekstrovert seringkali punya level rangsangan dasar yang lebih rendah. Otak mereka itu kayak baterai yang perlu dicas dari luar. Tanpa stimulus tambahan seperti musik atau suasana kafe yang agak berisik, mereka malah gampang bosan dan akhirnya ngantuk. Musik buat mereka bukan gangguan, tapi justru pengingat agar otak tetap "bangun" dan waspada. Jadi, kalau kamu punya teman yang bisa belajar sambil dengerin EDM, mungkin dia emang butuh kejutan listrik mental supaya nggak ketiduran di atas tumpukan buku.
Ritme yang Mengatur Fokus
Nggak cuma soal kepribadian, jenis tugas yang dikerjain juga sangat menentukan. Mari kita jujur, nggak semua tugas itu butuh pemikiran mendalam. Ada tugas-tugas yang sifatnya repetitif atau administratif, kayak masukin data ke Excel atau desain layout ringan. Di saat-saat begini, musik adalah penyelamat biar kita nggak mati gaya. Musik bisa bikin waktu terasa jalan lebih cepat.
Namun, ceritanya beda kalau kamu lagi belajar materi baru yang kompleks, misalnya memahami teori fisika kuantum atau menghafal anatomi tubuh manusia. Di sini, otak butuh fokus maksimal. Musik dengan tempo cepat atau lirik yang dominan bakal jadi musuh besar. Itulah kenapa banyak ahli menyarankan kalau memang harus pakai musik, pilihlah musik instrumental, klasik, atau suara alam (white noise). Musik tanpa lirik nggak bakal "ngajak ngobrol" otak kamu, jadi dia cuma berfungsi sebagai penutup suara bising di lingkungan sekitar (noise masking).
Tips Biar Musik Nggak Jadi Penghambat
Buat kamu yang masih bingung masuk tim mana, mungkin kamu perlu bereksperimen dengan beberapa hal berikut supaya kegiatan belajarmu nggak berujung cuma konser tunggal di kamar:
- Pilih Instrumen: Coba dengerin genre seperti Post-Rock, Ambient, atau Lo-fi. Tanpa vokal, otakmu bebas mengolah kata-kata dari buku.
- Atur Volume: Jangan sampai volumenya mengalahkan suara pikiranmu sendiri. Musik harusnya jadi latar belakang (background), bukan penampil utama.
- Kenali Batas Diri: Kalau kamu merasa mulai baca satu paragraf yang sama berulang kali tapi nggak paham juga, itu tandanya musikmu harus dimatikan. Jangan dipaksa.
- Gunakan Playlist yang Familiar: Jangan dengerin album baru yang belum pernah kamu dengar sebelumnya pas lagi belajar. Kamu bakal cenderung pengen nyimak lagunya daripada ngerjain tugas. Pakailah lagu-lagu lama yang sudah khatam di telinga.
Pada akhirnya, belajar dengan musik atau tidak itu bukan soal siapa yang lebih pintar atau lebih keren. Ini soal mengenal "operating system" masing-masing. Ada otak yang butuh suasana sunyi senyap ala perpustakaan tua di Inggris, ada juga otak yang baru bisa panas kalau dikasih dentuman musik indie lokal. Nggak ada yang salah dengan keduanya. Yang penting, tugas selesai, ujian lancar, dan kewarasan tetap terjaga.
Jadi, gimana? Hari ini mau nyetel playlist apa, atau malah mau minta semua orang di rumah buat diam total? Apapun pilihannya, yang penting jangan sampai kamu cuma dengerin musiknya doang, tapi bukunya cuma dijadiin bantal tidur.
Next News

Alasan Medis Kenapa Toleransi Pedas Tiap Orang Berbeda
14 hours ago

Termometer Sang Konduktor: Bagaimana Suhu Mengatur Jam Kehidupan Surabaya
18 hours ago

Tren Belanja Online Warga Surabaya: Dari Marketplace ke Live Shopping
20 hours ago

Bukan Sekadar 'Buta Aturan': Menelusuri Akar Rendahnya Kepatuhan Hukum di Indonesia
12 days ago

Trotoar Berbagi: Dilema Pedagang Kaki Lima Antara Hak Ekonomi dan Hak Pejalan Kaki
12 days ago

Graffiti: Seni atau Perusak Lingkungan?
12 days ago

Ironi Gambar Leher Berlubang dan Nikmatnya Asap Rokok
13 days ago

"Saya Orangnya Stoik": Antara Filosofi Kuno dan Gaya Hidup Kekinian
13 days ago

Evolusi Nail Art: Ekspresi Diri di Ujung Jari Selama 2 Dekade
13 days ago

Kritik Mengalir Deras, Mengapa Respon Pemerintah Begitu Datar?
13 days ago






