Tanggal Tua Tak Harus Sengsara, Ini Cara Mengatur Keuangan Akhir Bulan
ananda maharani - Sunday, 30 August 2026 | 11:53 AM


Ada satu fase dalam sebulan yang kadang terasa berjalan lebih lambat dari biasanya: tanggal tua. Saldo rekening mulai diperiksa lebih sering. Ajakan nongkrong mendadak harus dipikir dua kali. Promo makanan yang biasanya terlihat menggoda malah dilewati. Sementara tanggal gajian masih terasa jauh di ujung kalender. Lucunya, kondisi seperti ini sering berulang setiap bulan. Begitu gaji masuk, rasanya hidup kembali normal. Tagihan dibayar, belanja kebutuhan dilakukan, sesekali memberi hadiah kepada diri sendiri. Ada makan enak, kopi, belanja daring, langganan aplikasi, sampai transaksi kecil yang rasanya tidak terlalu berarti.
Tahu-tahu, dua atau tiga minggu berlalu dan saldo mulai menipis. Persoalannya sebenarnya bukan semata-mata karena akhir bulan. Banyak kasus justru bermula sejak hari pertama menerima penghasilan.Dalam artikel finansial Media Keuangan Kementerian Keuangan tentang mengatur keuangan akhir bulan, salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya membuat anggaran, mengendalikan utang konsumtif, menyiapkan dana cadangan, sampai membagi uang berdasarkan periode penggunaannya.
Salah satu metode yang dikenalkan adalah teknik 20:10, yakni memisahkan anggaran untuk 20 hari pertama dan 10 hari terakhir dalam sebulan. Jadi, daripada selalu menganggap tanggal tua sebagai musim bertahan hidup, mungkin yang perlu dibenahi bukan kalendernya, melainkan cara kita memperlakukan uang sejak tanggal muda.
Jangan Habiskan Energi Berhemat Hanya di Akhir Bulan
Kesalahan yang sering terjadi adalah hidup cukup bebas setelah gajian, lalu mendadak menjadi superhemat ketika saldo mulai menipis. Awal bulan pesan makanan tanpa banyak pertimbangan. Tengah bulan masih berani checkout barang yang sebenarnya bisa ditunda. Masuk tanggal 25, baru mulai menghitung uang makan sampai gajian berikutnya.
Pola seperti ini melelahkan. Cara yang lebih masuk akal adalah membagi kemampuan belanja sejak awal. Begitu pemasukan masuk, pisahkan terlebih dahulu kebutuhan wajib seperti tempat tinggal, listrik, transportasi, cicilan, kebutuhan rumah tangga, pendidikan, hingga tabungan.
Setelah itu, baru terlihat berapa uang yang benar-benar bisa digunakan untuk kebutuhan fleksibel. Dengan begitu, saldo rekening tidak lagi memberikan ilusi seolah semua uang yang ada bebas dibelanjakan. Punya Rp5 juta di rekening, misalnya, tidak otomatis berarti kita punya Rp5 juta untuk jalan-jalan dan jajan. Bisa jadi sebagian dari uang itu sebenarnya "milik" tagihan listrik, biaya transportasi, kebutuhan dapur, tabungan, atau kewajiban lain yang belum jatuh tempo.
Coba Teknik 20:10 agar Uang Tidak Habis di Tengah Jalan
Salah satu cara sederhana yang bisa dicoba adalah teknik 20:10. Konsepnya tidak rumit. Anggaran belanja satu bulan dibagi menjadi dua bagian: dana untuk 20 hari pertama dan dana untuk 10 hari terakhir. Misalnya, setelah semua kebutuhan wajib dan tabungan dipisahkan, tersedia Rp3 juta untuk kebutuhan sehari-hari selama satu bulan. Dana itu tidak harus langsung berada di satu rekening yang mudah diakses.
Sebagian bisa dialokasikan untuk 20 hari pertama, sedangkan sisanya ditempatkan di rekening atau kantong digital berbeda dan baru digunakan memasuki sepuluh hari terakhir.
Tujuannya sederhana: membuat batas psikologis. Ketika seluruh uang berada dalam satu rekening, kita cenderung melihat angka saldo sebagai satu kesatuan. Padahal uang itu sebenarnya harus cukup untuk melewati beberapa minggu ke depan. Memisahkannya membuat kita seolah sudah menyiapkan "gaji kedua" untuk akhir bulan.
Teknik ini tentu tidak harus diterapkan secara kaku. Pembagiannya bisa 15:15, mingguan, atau menyesuaikan tanggal pembayaran berbagai kebutuhan. Yang terpenting adalah uang untuk akhir bulan sudah diamankan sebelum sempat terpakai.
Kalau Masih Sering Kebablasan, Gunakan Batas Harian
Ada orang yang nyaman menggunakan anggaran bulanan. Ada juga yang melihat angka besar lalu tergoda menghabiskannya. Kalau termasuk kelompok kedua, anggaran harian bisa menjadi pilihan. Misalnya tersedia Rp3 juta untuk kebutuhan fleksibel selama 30 hari. Secara sederhana, batas rata-ratanya sekitar Rp100 ribu per hari.
Bukan berarti setiap hari wajib menghabiskan Rp100 ribu. Kalau hari ini hanya mengeluarkan Rp60 ribu, sisanya justru menjadi ruang untuk kebutuhan hari lain. Sebaliknya, kalau hari ini menghabiskan Rp150 ribu, perlu ada penyesuaian di hari berikutnya. Cara seperti ini membantu kita memahami satu hal penting: pengeluaran kecil tetap pengeluaran.
Kopi Rp25 ribu mungkin terasa ringan. Ongkos kirim Rp15 ribu juga terlihat kecil. Begitu pula camilan, biaya admin, parkir, atau pembelian impulsif Rp20 ribuan. Tapi ketika transaksi kecil itu terjadi berkali-kali, jumlahnya bisa cukup besar pada akhir bulan. Bukan berarti kopi atau jajan harus dihapus dari kehidupan. Yang dibutuhkan hanya kesadaran bahwa setiap transaksi mengambil bagian dari anggaran yang sama.
Waspadai Utang untuk Menjaga Gaya Hidup
Tanggal tua juga bisa terasa lebih berat ketika sebagian pendapatan sudah habis sebelum masuk rekening karena harus membayar berbagai cicilan. Utang produktif dan utang konsumtif tentu punya karakter berbeda. Masalah biasanya muncul ketika cicilan digunakan terus-menerus untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya berada di atas kemampuan keuangan. Belanja karena diskon, paylater untuk barang yang tidak mendesak, atau menggunakan kartu kredit hanya karena uang tunai sedang habis bisa membuat masalah bulan ini berpindah ke bulan depan.
Akhirnya, gaji baru datang bukan untuk memulai bulan baru, melainkan untuk membayar keputusan bulan sebelumnya. Karena itu, sebelum mencicil sesuatu, pertanyaannya sebaiknya bukan hanya, "Mampukah saya membayar cicilan bulanannya?"
Tanyakan juga, "Apakah barang ini memang perlu, dan apakah saya tetap akan membelinya jika harus membayar tunai?" Pertanyaan sederhana itu cukup ampuh untuk membedakan kebutuhan dan keinginan sesaat.
Jangan Lupakan Dana Darurat
Keuangan yang terlihat aman bisa berubah hanya karena satu kejadian tak terduga. Motor rusak. Laptop untuk bekerja bermasalah. Ada kebutuhan keluarga mendadak. Pendapatan berkurang. Atau muncul biaya kesehatan yang tidak direncanakan. Di sinilah dana darurat punya peran.
Dana ini sebaiknya tidak dicampur dengan uang makan, dana liburan, atau anggaran belanja bulanan. OJK juga menempatkan dana darurat sebagai salah satu prioritas dalam perencanaan keuangan dan menyarankan penempatannya pada instrumen yang likuid serta relatif rendah risiko sehingga mudah digunakan saat benar-benar dibutuhkan. Tidak harus langsung terkumpul dalam jumlah besar. Mulai saja perlahan.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten daripada menunggu punya penghasilan besar baru mulai menabung.
Bonus Bukan Berarti Harus Langsung Dihabiskan
Ada satu momen yang sering membuat rencana keuangan berantakan: menerima uang tambahan. Bonus, honor proyek, insentif, komisi, atau penghasilan di luar gaji rutin sering dianggap sebagai "uang bebas". Karena tidak masuk anggaran bulanan, rasanya sah digunakan untuk apa saja. Padahal uang tambahan justru bisa menjadi jalan pintas memperbaiki kondisi finansial.
Tidak ada salahnya menggunakan sebagian untuk bersenang-senang. Kita tetap boleh menikmati hasil kerja. Tapi sebelum semuanya menghilang dalam beberapa kali transaksi, sisihkan sebagian untuk dana darurat, tabungan tujuan, melunasi utang, atau investasi sesuai kebutuhan dan profil risiko.
Artikel Media Keuangan juga menyarankan agar penghasilan tambahan tidak otomatis langsung dibelanjakan, melainkan lebih dulu dimasukkan ke tabungan sebelum diputuskan penggunaannya. Prinsipnya sederhana: jangan menaikkan gaya hidup setiap kali pendapatan naik.
Hidup Hemat Bukan Berarti Tidak Boleh Menikmati Uang
Mengatur keuangan bukan kompetisi menjadi orang paling pelit. Kalau seluruh pengeluaran menyenangkan dihapus, anggaran justru berisiko tidak bertahan lama karena terasa seperti hukuman. Tetap sediakan ruang untuk nongkrong, membeli sesuatu yang disukai, menonton film, kulineran, atau melakukan kegiatan yang membuat hidup menyenangkan. Bedanya, lakukan dengan anggaran. Ada kepuasan berbeda antara membeli sesuatu karena memang sudah direncanakan dan membelinya secara impulsif lalu menyesal tiga hari kemudian.
Keuangan yang sehat bukan berarti setiap rupiah harus disimpan. Tujuannya adalah membuat kita tahu ke mana uang pergi, apa yang sedang diprioritaskan, serta memastikan kebutuhan hari ini tidak mengorbankan kehidupan beberapa minggu atau beberapa tahun ke depan.
Biar Tanggal Tua Tetap Bisa Santai
Pada akhirnya, tanggal tua sebenarnya hanya tanggal biasa. Ia terasa menakutkan ketika uang sudah habis lebih dulu. Karena itu, mengatur keuangan akhir bulan sebaiknya tidak dimulai pada tanggal 25, melainkan sejak hari pertama menerima penghasilan.
Pisahkan kebutuhan wajib. Tentukan anggaran belanja. Amankan uang untuk minggu terakhir. Hindari utang konsumtif yang tidak perlu. Siapkan dana darurat. Kalau diperlukan, buat batas belanja harian. Tidak semuanya harus langsung sempurna dalam satu bulan. Kalau selama ini uang selalu habis pada tanggal 20, target pertama mungkin cukup membuatnya bertahan sampai tanggal 25. Bulan berikutnya, coba sampai tanggal 28. Perlahan, pola keuangan bisa berubah.
Sebab yang membuat kondisi finansial lebih nyaman sering kali bukan trik rumit atau besarnya gaji semata. Kadang, perubahan paling terasa justru datang dari kebiasaan sederhana: tahu kapan harus mengeluarkan uang, kapan harus berhenti, dan kapan harus menyimpannya untuk diri kita di masa depan.
Next News

Masih Bawa Uang Cash? Simak Alasan Dompet Mulai Terlupakan
17 days ago

Fenomena In This Economy: Saat Uang Seolah Lari dari Dompet
19 days ago

Cashless Society: Siapkah Kita Hidup Tanpa Uang Tunai?
a month ago

Split Bill: Solusi Patungan yang Makin Populer di Kalangan Anak Muda
a month ago

PayLater Semakin Populer, Kemudahan atau Godaan Belanja?
a month ago

QRIS: Mengapa Satu Kode QR Bisa Dipakai di Berbagai Aplikasi?
a month ago

Teknologi Finansial dalam Kehidupan Sehari-hari: Cara Baru Kita Mengelola dan Menggunakan Uang
a month ago

Dari Sosmed ke Bursa: Panduan Lengkap Mengenal Istilah IPO
2 months ago

Isi Bensin Bikin Stres? Rahasia Hemat BBM Biar Dompet Sehat
2 months ago

Nyesek Kena Tipu Harga Pasar? Ini Cara Menghindarinya
2 months ago




