Ceritra
Ceritra Uang

Fenomena In This Economy: Saat Uang Seolah Lari dari Dompet

Zaza - Tuesday, 11 August 2026 | 12:15 PM

Background
Fenomena In This Economy: Saat Uang Seolah Lari dari Dompet
ketika ekonomi tidak mendukung isi dompet (serambinews.com/)

Seni Bertahan Hidup di Era In This Economy: Tips Belanja Tanpa Bikin Kantong Kena Mental

Pernah nggak sih lo ngerasa kalau uang seratus ribu sekarang tuh kayak nggak ada harganya? Baru juga narik di ATM, masuk ke minimarket bentar beli sabun sama minyak goreng, eh kembaliannya cuma recehan yang bahkan nggak cukup buat bayar parkir. Rasanya tuh kayak uang kita punya kaki sendiri terus lari maraton menjauh dari dompet. Fenomena "in this economy" bukan cuma meme di Twitter atau TikTok, tapi realita pahit yang bikin kita semua mendadak jadi akuntan dadakan tiap akhir bulan.

Harga beras naik, cabai makin pedas harganya daripada rasanya, bahkan telur ayam pun seolah-olah lagi ikut kompetisi jadi barang mewah. Kalau kita nggak pinter-pinter ngatur strategi, bisa-bisa status "kaum mendang-mending" kita naik level jadi "kaum mending nggak usah jajan". Tapi tenang, hidup harus tetap berlanjut dan perut harus tetap kenyang tanpa harus mengorbankan kesehatan mental karena liat saldo m-banking. Berikut adalah beberapa tips belanja hemat nan taktis biar lo tetep bisa survive di tengah gempuran inflasi yang makin nggak ngotak.

1. Musuhi "Laper Mata" dengan Senjata Bernama Catatan Belanja

Kedengarannya emang klise banget, kayak nasihat nyokap zaman dulu. Tapi percaya deh, masuk ke supermarket tanpa daftar belanja itu sama aja kayak masuk ke medan perang tanpa senjata. Lo bakal tersesat di lorong makanan ringan, tergoda promo "buy 2 get 1" barang yang sebenernya nggak lo butuhin, dan berakhir dengan belanjaan penuh camilan tapi nggak punya bahan buat masak makan malam.

Cobalah buat bikin daftar belanja yang spesifik. Jangan cuma tulis "sayur", tapi tulis "kangkung 2 ikat". Dengan punya daftar, lo punya misi yang jelas: ambil barangnya, bayar, lalu keluar. Hindari keliling-keliling nggak jelas cuma buat liat "ada yang baru nggak ya?". Inget, setiap menit tambahan yang lo habisin di dalam toko adalah peluang buat lo nambahin barang nggak penting ke keranjang belanja.

2. Turunkan Gengsi, Naikkan Level ke Pasar Tradisional

Gue tau, belanja di supermarket ber-AC itu nyaman, wangi, dan estetik buat di-update di Story. Tapi kalau lo mau beneran hemat, pasar tradisional adalah koentji. Perbedaan harga antara sawi di supermarket premium sama sawi di pasar subuh itu bisa buat beli kopi saset seminggu. Di pasar, lo nggak perlu bayar "biaya kenyamanan" alias AC dan lighting yang bikin sayuran kelihatan lebih glowing.

Selain itu, di pasar tradisional lo bisa ngasah skill negosiasi. Nawar seribu atau dua ribu perak itu bukan soal pelit, tapi soal prinsip bertahan hidup di era ini. Plus, biasanya kalau lo udah jadi langganan, si Ibu penjual suka kasih bonus atau "imbuhan" kayak segenggam cabai atau sebatang daun bawang gratis. Hal-hal kecil kayak gini yang nggak bakal lo dapetin dari mesin kasir otomatis di mall.

3. Strategi "Generic Brand" Adalah Jalan Ninja

Lo sadar nggak sih kalau banyak supermarket punya produk merek mereka sendiri (private label)? Mulai dari tisu, gula, minyak goreng, sampai sabun cuci piring. Seringkali, kualitasnya sama aja sama merek-merek beken yang iklannya seliweran di TV. Bedanya cuma di kemasan dan biaya marketing yang nggak perlu lo bayar.

Coba deh sesekali lirik rak bagian bawah atau produk dengan kemasan yang lebih simpel. Garam tetep asin, gula tetep manis, dan kapas tetep lembut mau mereknya apa pun. Dengan beralih ke produk generic brand, lo bisa menghemat sekitar 20-30% dari total belanjaan bulanan. Uangnya lumayan banget kan bisa buat nambahin slot tabungan darurat atau sekadar beli boba di akhir pekan.

4. Jangan Belanja Pas Lagi Laper

Ini adalah aturan emas yang sering dilanggar. Belanja dalam kondisi perut keroncongan itu bahaya banget buat kesehatan finansial. Secara psikologis, saat laper, otak kita bakal ngerasa semua hal itu terlihat enak dan "butuh" dibeli. Hasilnya? Lo bakal beli roti, sosis, gorengan, dan segala macem makanan instan yang sebenernya nggak masuk dalam budget.

Makanlah dulu di rumah sebelum berangkat belanja. Pas perut kenyang, lo bakal lebih objektif dan logis dalam memilih barang. Lo nggak bakal gampang tergoda sama aroma roti yang baru mateng atau display ayam goreng yang menggoda iman. Intinya, kendalikan perutmu sebelum perutmu mengendalikan dompetmu.

5. Audit Ulang "Self-Reward" dan Langganan Digital

Kadang kita suka berlindung di balik kata "self-reward" buat menjustifikasi pengeluaran yang sebenernya impulsif. Beli kopi susu kekinian tiap sore dengan dalih "biar semangat kerja" padahal harganya hampir setara makan siang lengkap. Di era serba naik ini, kita perlu mendefinisikan ulang apa itu reward. Mungkin masak makanan enak di rumah bareng temen bisa jadi reward yang lebih hemat daripada nongkrong di kafe yang harga air mineralnya aja bikin istighfar.

Jangan lupa juga cek langganan aplikasi di HP. Coba cek, masih langganan streaming musik, video, sama premium apps yang jarang dipake nggak? Kalau dijumlahin, biaya langganan "receh" itu kalau dikumpulin bisa buat beli beras satu karung. Kalau emang lagi jarang nonton, mending diputus dulu langganannya. Nanti kalau ada film bagus yang beneran pengen ditonton, baru langganan lagi. Be smart, jangan biarkan saldo kepotong otomatis buat hal yang nggak lo nikmatin.

Belanja hemat di era sekarang emang butuh usaha ekstra dan disiplin yang tinggi. Emang capek sih harus mikirin harga selisih gopek atau seribu, tapi di tengah kondisi ekonomi yang lagi nggak menentu, efisiensi adalah bentuk paling nyata dari self-care. Dengan bisa ngatur pengeluaran, lo bakal punya rasa tenang karena nggak perlu dikejar-kejar perasaan bersalah pas liat struk belanja. Stay frugal, stay sane!

Logo Radio
🔴 Radio Live