Ceritra
Ceritra Warga

Termometer Sang Konduktor: Bagaimana Suhu Mengatur Jam Kehidupan Surabaya

Fildzah - Tuesday, 01 September 2026 | 12:00 PM

Background
Termometer Sang Konduktor: Bagaimana Suhu Mengatur Jam Kehidupan Surabaya
Suhu Indonesia (magnific.com/magnific.com)

Surabaya dan Jam Biologis Termometer: Ketika Matahari Mengatur Denyut Kota

Pukul enam pagi di Jalan Tunjungan atau kawasan Kenjeran adalah sebuah selebrasi kehidupan. Trotoar dipenuhi pejalan kaki dengan sepatu lari warna-warni, pesepeda dengan jersey ketat yang sibuk mengejar target kilometer, hingga aroma kopi dari kedai-kedai kecil yang mulai membuka rolling door mereka. Udara masih cukup ramah, sekitar 24 derajat Celsius—sebuah kemewahan singkat yang diberikan alam kepada warga Surabaya. Namun, coba datanglah kembali ke titik yang sama lima jam kemudian. Pukul sebelas siang, transformasi magis (atau lebih tepatnya, tragis) terjadi. Aspal Jalan Tunjungan yang tadi riuh mendadak sunyi, hanya menyisakan fatamorgana panas yang menari di kejauhan. Jalanan nyaris lengang, seolah-olah seluruh penduduk kota baru saja dievakuasi karena ancaman nuklir.

Fenomena ini bukan karena warga Surabaya pemalas. Sebaliknya, Surabaya sebenarnya adalah dua kota yang berbeda dalam satu koordinat geografis yang sama. Ada "Kota Pagi dan Sore" yang penuh hiruk-pikuk, dan ada "Kota Siang" yang sunyi senyap karena matahari sedang galak-galaknya. Angka suhu di layar ponsel—yang biasanya bergerak dari 24 ke 33 derajat Celsius—ternyata memiliki otoritas yang jauh lebih tinggi daripada jam weker di nakas kamar. Warga Surabaya tidak lagi patuh pada pembagian waktu formal; mereka lebih patuh pada "jadwal harian tak tertulis" yang didikte oleh termometer. Jika angka sudah menyentuh 30 derajat ke atas, hukum rimba perkotaan berlaku: siapa yang berani di bawah matahari, dia yang kalah.

Ekonomi Panas: Domino Cuan di Balik Terik

Menariknya, suhu udara yang meroket ini menciptakan sebuah ekosistem ekonomi mikro yang unik. Setiap kenaikan satu atau dua derajat Celsius ternyata memicu efek domino bagi dompet para pelaku usaha jalanan. Di satu sisi, ada "penerima berkah cuaca". Tengok saja kedai es teh plastik yang menjamur di tiap sudut gang, atau kafe-kafe ber-AC yang mendadak penuh sesak oleh orang-orang yang memesan segelas kopi hanya demi bisa duduk diam selama tiga jam di bawah hembusan udara dingin. Bisnis pendinginan suhu—baik itu dalam bentuk minuman cair maupun hembusan freon—menjadi pemenang mutlak di tengah gempuran gelombang panas.

Namun, di sisi lain mata uang, ada para pejuang jalanan yang harus memutar otak agar tidak "terpanggang" sia-sia. Pedagang kaki lima yang lapaknya tidak memiliki naungan pohon, tukang parkir, hingga ojek pangkalan kini menjadi ahli strategi cuaca. Mereka mengubah jam operasional dengan drastis. Berdasarkan observasi santai di lapangan, banyak dari mereka yang kini memulai hari jauh lebih pagi—bahkan sebelum matahari benar-benar nongol—dan memilih untuk "hibernasi" sementara di jam-jam krusial antara pukul 11.00 hingga 14.00. Mereka lebih memilih tutup lebih awal dan membuka kembali lapaknya saat bayangan pohon mulai memanjang di sore hari. Ekonomi jalanan Surabaya tidak lagi bergerak mengikuti kurva jam kerja kantoran, melainkan mengikuti kurva suhu udara.

Antropologi Urban: Migrasi Massal ke "Pulau Dingin"

Tanpa kita sadari, panas Surabaya telah mengubah cara manusia di dalamnya berperilaku. Ini adalah bentuk antropologi urban yang nyata. Warga punya rute-rute rahasia yang mungkin tidak tercatat di Google Maps; rute yang lebih mementingkan aspek "teduh" daripada "cepat". Memilih memutar sejauh 500 meter demi mendapatkan rute yang banyak pohon beringinnya adalah hal yang sangat logis di sini. Keluar rumah untuk urusan yang tidak mendesak saat tengah hari adalah sebuah dosa sosial bagi diri sendiri.

Lalu, ke mana perginya ribuan orang yang menghilang dari jalanan itu? Jawabannya sederhana: Mal. Di Surabaya, pusat perbelanjaan bukan lagi sekadar tempat konsumerisme atau sekadar belanja baju baru. Mal telah bermutasi menjadi "ruang publik pengungsian dari panas". Lihat saja bangku-bangku di lorong mal atau food court yang penuh oleh orang-orang yang sebenarnya tidak sedang berbelanja apa pun. Mereka hanya ingin numpang ngadem. "Kalau di rumah, AC-nya bikin tagihan listrik jebol, Mas. Mending di sini, bisa jalan-jalan sambil dapet dingin gratis," ujar Pak Bambang, seorang pensiunan yang sering terlihat menghabiskan waktu siangnya di sebuah mal di kawasan Surabaya Selatan.

Negosiasi dengan cuaca ini juga dirasakan oleh para ojek online. "Dulu kita kejar target siang-siang. Sekarang? Kalau siang mending cari masjid yang adem atau SPBU yang ada pohonnya. Mesin motor panas, badan juga bisa rontok kalau dipaksa," ungkap Rian, seorang pengemudi ojek online. Kelompok-kelompok sosial ini secara kolektif melakukan "migrasi harian" demi bertahan hidup dari sengatan matahari yang seolah menempel di kulit.

Kota yang Bernapas Mengikuti Termometer

Pada akhirnya, pola adaptasi ini memberikan kita sebuah refleksi yang lebih besar. Surabaya, sebagai salah satu kota tropis terbesar di Indonesia, menunjukkan bagaimana sebuah peradaban modern tetap harus tunduk pada hukum alam. Panas yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun akibat perubahan iklim dan beton yang semakin padat memaksa warga kota untuk punya daya tahan dan kreativitas tinggi. Kita tidak hanya sedang membicarakan soal cuaca hari ini, tapi soal bagaimana desain sebuah kota seharusnya mampu melindungi penghuninya dari panas yang semakin ekstrem.

Pola hidup warga Surabaya yang dinamis di pagi hari, sunyi di siang hari, dan kembali berpesta di malam hari adalah cerminan dari kota yang sedang bernapas mengikuti ritme termometer. Mungkin tanpa kita sadari, warga Surabaya sudah mengembangkan "jam biologis kolektif" yang baru. Sebuah jam yang jarumnya tidak lagi digerakkan oleh baterai, melainkan oleh merkuri di dalam tabung suhu. Pertanyaan besarnya: apakah kita akan terus-menerus bersembunyi di balik tembok AC, ataukah suatu saat Surabaya bisa kembali menjadi kota yang ramah pejalan kaki meski di jam dua siang? Sampai pertanyaan itu terjawab, mari kita teruskan ritual ini: berlindung di balik bayangan, mencari segelas es, dan menunggu hingga matahari sedikit lebih tenang.

Logo Radio
🔴 Radio Live