Ceritra
Ceritra Warga

"Saya Orangnya Stoik": Antara Filosofi Kuno dan Gaya Hidup Kekinian

Fildzah - Thursday, 20 August 2026 | 10:00 AM

Background
"Saya Orangnya Stoik": Antara Filosofi Kuno dan Gaya Hidup Kekinian
Stoikisme (pinterest/pinterest)

Label "Stoik" di Media Sosial: Antara Tren Biar Keren atau Benar-benar Paham?

Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrolling di aplikasi kencan atau sekadar melihat-lihat bio Instagram orang, terus nemu satu kata yang belakangan ini lagi naik daun banget? Iya, kata itu adalah "Stoik". Biasanya, label ini disandingkan dengan foto estetik yang memperlihatkan sosok yang lagi menatap senja dengan tatapan kosong, atau mungkin foto hitam putih yang terlihat sangat dalam dan misterius. Narasi yang dibangun pun seragam: "Gue orangnya stoik, nggak gampang baper, dan cenderung cuek sama omongan orang."

Tiba-tiba saja, menjadi "Stoik" jadi semacam branding baru yang kelihatannya keren banget. Stoikisme seolah-olah berubah jadi zodiak atau MBTI versi lebih intelektual. Orang-orang merasa kalau sudah pasang label itu, mereka otomatis punya tameng dari drama-drama kehidupan yang melelahkan. Tapi, pertanyaannya, apakah makna "Stoik" yang berseliweran di obrolan santai atau caption medsos itu benar-benar sama dengan apa yang dipikirkan para filsuf di teras-teras bangunan Yunani kuno ribuan tahun lalu? Ataukah kita cuma sekadar memungut remah-remah kerennya saja tanpa mau tahu roti utuhnya?

Bukan Sekadar "Jangan Baperan"

Kalau kita tarik mundur sejarahnya, Stoikisme ini bukan barang baru yang diciptakan oleh influencer pengembangan diri. Akar filosofi ini bermula dari Zeno dari Citium di Athena sekitar awal abad ke-3 SM. Zeno ini dulunya pedagang kaya yang bangkrut total karena kapal dagangnya karam. Bukannya ngamuk atau depresi berkepanjangan, dia malah mulai belajar filsafat dan akhirnya mendirikan sekolahnya sendiri di sebuah teras yang disebut "Stoa Poikile". Itulah kenapa namanya Stoikisme.

Filsafat ini kemudian berkembang pesat lewat tokoh-tokoh besar seperti Seneca si penasihat kaisar, Epictetus yang dulunya seorang budak, hingga Marcus Aurelius yang notabene adalah Kaisar Romawi. Nah, intisari dari ajaran mereka sebenarnya sangat simpel tapi praktiknya minta ampun susahnya: Dikotomi Kendali. Intinya, kita harus bisa membedakan mana hal yang bisa kita kendalikan (pikiran dan tindakan kita sendiri) dan mana hal yang tidak bisa kita kendalikan (opini orang lain, cuaca, macet, hingga kematian).

Masalahnya, di media sosial, makna "Stoik" ini sering kali mengalami pergeseran makna yang cukup jauh. "Stoik" sering disalahartikan sebagai sikap dingin, nggak punya emosi, atau bahkan jadi alasan buat bersikap cuek yang menjurus ke arah toksik. Kalau ada orang yang bilang "Gue kan stoik, jadi nggak masalah kalau nggak balas chat kamu seminggu," jujurly, itu bukan stoik, itu namanya ghosting yang dikasih bumbu filosofis supaya kelihatan bonafide.

Menahan Emosi vs Mengolah Emosi

Banyak orang mengira menjadi stoik berarti menjadi robot. Mereka pikir kalau sedih jangan nangis, kalau marah harus dipendam sedalam mungkin supaya kelihatan kalem. Padahal, Stoikisme yang asli nggak pernah menyuruh kita jadi manusia tanpa perasaan. Marcus Aurelius dalam catatan pribadinya saja sering curhat soal betapa capeknya dia menghadapi orang-orang yang menjengkelkan. Bedanya, mereka nggak membiarkan emosi itu menyetir hidup mereka.

Di medsos, label "Stoik" sering dipakai sebagai topeng untuk menyembunyikan kerapuhan. Ada semacam tekanan untuk terlihat kuat dan "selesai dengan diri sendiri". Padahal, Stoikisme sejati justru menuntut kejujuran yang luar biasa. Kita harus berani mengakui, "Oke, gue sedih karena gagal ujian," tapi kemudian secara sadar memilih untuk tidak membiarkan kesedihan itu menghancurkan hari-hari berikutnya. Ini bukan soal menekan perasaan sampai meledak di dalam, tapi soal merespons perasaan itu dengan bijak.

Kontras banget kan sama fenomena sekarang? Di mana orang merasa sudah jadi stoik hanya karena mereka nggak mau ambil pusing soal isu sosial atau sengaja bersikap apatis demi gaya-gayaan. Padahal, para filsuf Stoik dulu sangat peduli dengan peran sosial mereka. Mereka percaya bahwa manusia adalah makhluk sosial yang harus berkontribusi pada komunitasnya. Jadi, kalau kamu ngaku stoik tapi hobinya cuma mikirin diri sendiri dan bodo amat sama keadaan sekitar, mungkin kamu perlu baca ulang buku-bukunya Seneca.

Menjadi Stoik yang Sebenarnya

Jadi, gimana sih caranya jadi stoik tanpa harus jadi orang yang menyebalkan? Langkah pertamanya adalah berhenti menjadikan filosofi ini sebagai sekadar hiasan di bio medsos. Stoikisme itu latihan harian, bukan sekadar kutipan estetik di Pinterest. Ini soal bagaimana kita bereaksi saat kopi kita tumpah, saat dijalan diklakson orang nggak sabaran, atau saat kerjaan kita dikritik habis-habisan oleh atasan.

Stoikisme sejati adalah tentang mengenali emosi kita, merangkulnya sejenak, lalu bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini ada di bawah kendaliku?". Kalau tidak, ya sudah, lepaskan. Tapi ingat, melepaskan bukan berarti tidak peduli. Kita tetap boleh berusaha semaksimal mungkin, tapi hasilnya bukan lagi menjadi beban pikiran yang bikin kita susah tidur.

Sebelum bangga menyematkan label "Stoik" untuk menarik perhatian calon pasangan atau audiens di medsos, ada baiknya kita memahami dulu esensi filosofinya. Stoikisme bukan soal terlihat kuat di depan kamera, tapi soal memiliki kedamaian di dalam jiwa yang nggak gampang goyah oleh badai dari luar. Menjadi stoik berarti menjadi manusia yang paling jujur pada perasaannya sendiri, namun tetap memegang kendali atas respon yang diberikan.

Mungkin mulai sekarang, daripada sibuk memoles citra sebagai sosok yang "dingin dan tak tersentuh", lebih baik kita mulai berlatih untuk lebih bijak mengelola ekspektasi. Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal seberapa keren kita terlihat di mata orang lain, tapi seberapa mampu kita tetap tenang di tengah kekacauan dunia yang seringkali nggak masuk akal ini. Jadi, kamu beneran Stoik, atau cuma lagi pengen kelihatan keren aja?

Logo Radio
🔴 Radio Live