Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Sekadar 'Buta Aturan': Menelusuri Akar Rendahnya Kepatuhan Hukum di Indonesia

Fildzah - Friday, 21 August 2026 | 10:00 AM

Background
Bukan Sekadar 'Buta Aturan': Menelusuri Akar Rendahnya Kepatuhan Hukum di Indonesia
tanda larangan (istock/istock)

Kenapa Sih Kita Hobi Banget Melanggar Aturan? Bukan Cuma Soal Bandel, Tapi Soal Kepercayaan

Bayangkan situasi ini: Jam menunjukkan pukul dua pagi. Jalanan sepi nyenyak, nggak ada suara knalpot brong, apalagi batang hidung polisi. Di depan kamu, lampu lalu lintas menyala merah merona. Apa yang bakal kamu lakukan? Sejujurnya, sebagian besar dari kita mungkin bakal menoleh kanan-kiri sebentar, lalu tancap gas tanpa rasa bersalah. Toh, nggak ada yang lihat, kan?

Fenomena ini bukan cuma soal lampu merah. Mulai dari urusan membuang bungkus gorengan sembarangan, parkir motor di atas trotoar yang jelas-jelas ada logo "P" dicoret, sampai urusan serobot antrean di minimarket dengan alasan "cuma mau beli satu barang kok". Kita sering bertanya-tanya: apakah masyarakat kita memang "bebal" aturan, atau ada sesuatu yang lebih sistemik di baliknya? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi.

Wajar Karena Biasa: Ketika Pelanggaran Jadi Budaya Populer

Di permukaan, pelanggaran-pelanggaran ringan ini sudah dianggap kayak bumbu penyedap kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kalau kamu berhenti tepat di belakang garis marka jalan saat lampu merah, malah kadang kamu yang diklakson sama orang di belakang. Lucu, kan? Orang yang taat aturan justru dianggap "cupu" atau menghambat jalan.

Kalau kita bandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura atau Jepang, perbedaannya memang jomplang banget. Di sana, kepatuhan seolah sudah mendarah daging. Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menyimpulkan kalau orang Indonesia punya "gen" melanggar aturan. Masalahnya bukan di DNA kita, tapi di lingkungan yang membentuk perilaku tersebut. Di sana, sistemnya memaksa orang untuk patuh, sementara di sini, sistemnya seringkali "memberi ruang" untuk nego.

Bukan Soal Bodoh, Tapi Soal Sistem yang Bolong-bolong

Banyak pengamat yang gampang banget melabeli masyarakat kita "kurang edukasi" atau bahkan "bodoh". Padahal, masalah utamanya seringkali ada pada penegakan hukum yang nggak konsisten. Aturan kita itu banyak, tebal, dan serem-serem sanksinya di atas kertas. Tapi di lapangan? Semua bisa diatur.

Pernah nggak kamu dengar istilah "damai di tempat"? Ketika sebuah pelanggaran bisa selesai hanya dengan selembar uang berwarna biru atau merah, maka wibawa aturan itu otomatis luntur. Masyarakat jadi belajar satu pelajaran berharga: aturan itu nggak mutlak, tapi bisa ditawar. Akhirnya, buat apa repot-repot taat kalau ujung-ujungnya yang melanggar bisa tetap melenggang bebas?

Belum lagi soal ketimpangan penerapan hukum yang bikin geregetan. Ada persepsi yang sangat kuat di masyarakat bahwa hukum itu "tajam ke bawah, tumpul ke atas". Saat masyarakat kecil kena tilang atau digusur karena jualan di trotoar, hukum terasa sangat galak. Tapi saat ada pejabat atau orang berduit yang melanggar, prosesnya bisa berbulan-bulan atau bahkan hilang ditiup angin. Rasa ketidakadilan inilah yang membuat masyarakat jadi apatis. "Ah, mereka yang di atas aja nggak taat, kenapa saya harus repot?"

Psikologi Ikut-ikutan: Efek Domino di Jalanan

Secara psikologis, kita ini makhluk sosial yang hobi banget melihat apa yang dilakukan orang lain. Ada istilahnya, *social proof*. Kalau ada satu orang berani lawan arus dan dia selamat-selamat saja tanpa kena semprit, maka orang kedua akan ikut. Orang ketiga bakal berpikir itu hal yang normal, dan orang kesepuluh akan merasa bodoh kalau nggak ikut lewat situ juga.

Norma sosial informal kita seringkali lebih kuat dibanding aturan formal negara. Kita lebih takut diteriaki "Woi, gerak dong!" oleh pengendara lain daripada takut melanggar garis marka. Pelanggaran kecil yang dibiarkan terus-menerus ini menciptakan toleransi kolektif. Lama-lama, kita nggak lagi melihat itu sebagai kesalahan, melainkan sebagai "cara bertahan hidup" di tengah hiruk-pikuk kota.

Melihat Dari Sudut Pandang Lain: Ini Bukan Soal Watak Bangsa

Satu hal yang perlu kita ingat, narasi bahwa "rakyat Indonesia memang susah diatur" itu seringkali jadi tameng buat pemerintah untuk menutupi kegagalan mereka membangun sistem yang adil. Kalau kita perhatikan, ada banyak komunitas di Indonesia yang punya kepatuhan luar biasa tinggi terhadap aturan adat atau aturan lokal. Lihat saja masyarakat di desa-desa tertentu yang sangat menjaga kebersihan sungai karena ada sanksi sosial yang jelas.

Artinya, kita itu bisa taat, asalkan aturannya masuk akal, adil, dan dijalankan dengan konsisten. Seringkali, aturan yang ada nggak dibarengi dengan fasilitas yang memadai. Kita dilarang parkir di pinggir jalan, tapi gedung-gedung nggak menyediakan parkir yang cukup. Kita dilarang jualan di trotoar, tapi pasar yang disediakan pemda letaknya jauh dan sepi pembeli. Jadi, sebagian pelanggaran itu muncul bukan karena niat jahat, tapi karena desakan ekonomi dan kondisi lapangan yang nggak mendukung.

Menuju Budaya Taat yang Bukan Karena Takut

Jadi, apa solusinya? Apakah kita butuh polisi di setiap sudut jalan? Tentu nggak. Kepatuhan hukum yang sehat itu tumbuh dari kepercayaan, bukan cuma dari rasa takut akan sanksi. Kita butuh transparansi. Kita butuh melihat bahwa aturan berlaku buat siapa saja, tanpa kecuali.

Penegakan hukum yang konsisten adalah kunci. Kalau setiap pelanggaran kecil benar-benar disanksi secara adil dan tanpa "nego", pelan-pelan mentalitas masyarakat akan berubah. Selain itu, pendidikan hukum sejak dini juga penting, tapi bukan sekadar menghafal pasal, melainkan membangun empati. Bahwa saat kita menerobos lampu merah atau membuang sampah sembarangan, ada hak orang lain yang kita rampas.

Pada akhirnya, membangun budaya taat aturan adalah kerja kolektif. Berhenti menyalahkan "watak bangsa" dan mulailah menuntut sistem yang lebih jujur. Sambil tentu saja, mencoba untuk tidak tancap gas saat melihat lampu merah di jam dua pagi tadi. Karena tertib itu keren, dan jujur itu jauh lebih menenangkan hati.

Logo Radio
🔴 Radio Live