Eksplorasi Sudut Estetik Jalan Untung Suropati Lewat Lensa Analog
Shannon - Tuesday, 19 May 2026 | 12:00 PM


Menepi Sejenak di Untung Suropati: Tentang Gulungan Film, Potongan Pizza, dan Skena Kalcer yang Hidup
Zaman sekarang, kalau jalan-jalan ke area estetik tapi nggak denger bunyi "cekrek" yang mekanik dan mantap dari kamera analog, rasanya ada yang kurang. Entah itu tren yang kembali berputar atau memang kita semua sudah jenuh dengan hasil foto smartphone yang terlalu sempurna, kamera jadul resmi jadi primadona lagi. Nah, kalau kita bicara soal tempat nongkrong yang mengakomodasi hobi "mahal" nan ribet ini, perhatian saya belakangan tertuju pada satu titik: Jalan Untung Suropati.
Kawasan ini pelan-pelan bertransformasi jadi jantungnya anak-anak "kalcer". Istilah kalcer sendiri, yang merupakan plesetan dari culture, seolah jadi label wajib buat tempat-tempat yang menggabungkan estetika retro, kopi enak, dan komunitas kreatif. Di Jalan Untung Suropati, getaran itu terasa sangat kental. Bukan cuma soal deretan kafe yang punya desain interior industrial atau mid-century, tapi soal bagaimana orang-orang di dalamnya benar-benar menikmati waktu yang bergerak lebih lambat.
Ritual Cuci Film: Menanti Ketidakpastian yang Manis
Salah satu alasan utama kenapa Jalan Untung Suropati makin ramai dikunjungi adalah keberadaan lab film yang tersembunyi alias hidden gem. Di tengah gempuran aplikasi filter instan, anak muda sekarang malah rela antre buat cuci film. Ada sensasi berbeda saat kita menyerahkan gulungan roll film isi 36 eksposur ke tangan teknisi lab. Kita nggak tahu apakah foto kita underexposed, bocor cahaya (light leak), atau malah blank sama sekali. Ketidakpastian itulah yang mahal harganya.
Tempat cuci film di sini biasanya nyempil di pojokan bangunan tua atau menyatu dengan creative space. Masuk ke dalamnya, kamu bakal disambut bau cairan kimia yang khas dan deretan kamera-kamera analog legendaris mulai dari Pentax, Olympus sampai kamera mainan macam cuil yang terpajang rapi. Sambil menunggu hasil scan dikirim via Google Drive, biasanya para pengunjung bakal saling bertukar informasi soal stok film yang lagi murah atau sekadar pamer kamera incaran di eBay. Ini bukan sekadar transaksi jasa, tapi sudah jadi ruang komunal.
Pizza Sourdough dan Kopi yang Nggak Neko-Neko
Nungguin film diproses itu butuh kesabaran, dan apa cara terbaik buat membunuh waktu selain makan pizza? Di Jalan Untung Suropati, ada satu kedai pizza yang jadi omongan karena nggak cuma mengandalkan tempat yang instagrammable, tapi juga rasa yang autentik. Kita nggak bicara soal pizza fast-food yang rotinya tebal kayak roti bantal. Kita bicara soal pizza tipis dengan pinggiran yang sedikit gosong (charred) karena dipanggang dengan suhu tinggi, alias pizza artisan.
Menu andalan mereka biasanya yang klasik, seperti Margherita dengan daun basil segar yang wanginya semerbak begitu pesanan sampai di meja. Skena di sini sangat santai. Kamu bisa lihat orang duduk sendirian sambil baca buku, atau sekelompok anak muda dengan gaya berpakaian vintage thrifted yang lagi asyik diskusi soal pameran seni. Kopi yang disajikan pun biasanya nggak banyak tingkah—fokus pada beans berkualitas, entah itu manual brew yang jernih atau white coffee yang pas takaran susunya.
Kenapa "Untung Suropati" Begitu Spesial?
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa harus di jalan ini? Kenapa nggak di pusat kota yang lebih ramai? Jawabannya sederhana: kenyamanan. Jalan Untung Suropati memberikan ruang yang cukup lega bagi para pelarian dari hiruk-pikuk kota. Di sini, kamu nggak perlu merasa terburu-buru. Trotoarnya mungkin nggak selebar di luar negeri, tapi suasana rindangnya pohon-pohon besar di sekitar memberikan vibe yang adem banget buat jalan kaki sore-sore.
Jujur saja, menurut opini saya, daya tarik utama kawasan ini adalah "kejujurannya". Tempat-tempat yang ada di sini tumbuh secara organik karena kebutuhan komunitas, bukan sekadar proyek besar-besaran investor yang ingin mengejar tren sesaat. Itulah kenapa tempat cuci filmnya terasa personal, dan pizzanya terasa dibuat dengan hati. Ada semacam koneksi emosional yang terbangun ketika kita tahu bahwa orang yang menyeduh kopi kita juga punya hobi yang sama, misalnya koleksi piringan hitam atau rajin motret pakai film hitam-putih.
Skena Kalcer: Bukan Sekadar Gaya Hidup
Fenomena analog dan nongkrong di Jalan Untung Suropati ini membuktikan bahwa anak muda sekarang mulai menghargai proses. Menyiapkan kamera, mengatur fokus secara manual, memutar tuas film, sampai akhirnya mencuci dan melihat hasilnya adalah sebuah perjalanan panjang. Di dunia yang serba cepat ini, aktivitas "lambat" seperti ini adalah bentuk pemberontakan kecil-kecilan. Kita nggak lagi cuma ingin hasil foto yang sempurna buat konten, kita ingin cerita di balik foto itu.
Kalau kamu kebetulan lagi merasa suntuk dan butuh suasana baru, cobalah sisihkan waktu sore hari untuk main ke sini. Bawa kamera analogmu—atau kalau nggak punya, HP pun jadi—lalu pesanlah loyang pizza dan secangkir kopi. Rasakan angin sore yang berhembus dan perhatikan bagaimana komunitas ini bergerak. Siapa tahu, sepulang dari sana, kamu nggak cuma bawa file foto yang estetik, tapi juga semangat baru setelah melihat betapa hidupnya skena lokal di sudut jalan ini.
Pada akhirnya, Jalan Untung Suropati bukan cuma soal pizza, kopi, atau kamera analog. Ini soal bagaimana kita menemukan kembali kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang selama ini mungkin kita abaikan. Dan selama orang-orang masih suka dengan aroma film dan rasa pizza yang dipanggang dengan kayu bakar, jalan ini akan tetap menjadi tempat yang paling "kalcer" di hati para pecintanya.
Next News

Pesona Organik Jalan MERR Surabaya Menjelang Idul Adha
14 hours ago

Perjalanan Ke Surabaya Lewat Jalur Kereta? Berikut Deretan Lokasi Stasiun yang Ada Di Surabaya
4 days ago

Daftar Lengkap 5 Mall di Surabaya Paling Hits Untuk Rekomendasi Tempat Nongkrong dan Belanja
6 days ago

Menjelajahi Surga Kolesterol di Jawa Timur: Dari Kuah Hitam Rawon hingga Kenyalnya Cingur
7 days ago

Staycation di Surabaya? Ini 5 Hotel Paling Ikonik yang Wajib Kamu Coba!
7 days ago

Hari Jadi Kota Surabaya 2026 Diramaikan Beragam Festival dan Hiburan Sepanjang Mei
7 days ago

"Kerja Terus, Cukup Nggak?": May Day 2026 Jadi Suara Keresahan Buruh Muda
19 days ago

Wisata Lengkap Ponorogo: Dari Magisnya Reog, Lezatnya Sate, hingga Syahdunya Telaga Ngebel
25 days ago

Gagal PTN Bukan Kiamat: Menakar Lifestyle dan Peluang Kerja di Kampus Swasta Hits Surabaya
a month ago

Era Overstimulasi: Saat Otak Dipaksa Lari Maraton Tanpa Henti
a month ago





