Ceritra
Ceritra Kota

Perjalanan Ke Surabaya Lewat Jalur Kereta? Berikut Deretan Lokasi Stasiun yang Ada Di Surabaya

Nizar - Friday, 15 May 2026 | 03:15 PM

Background
Perjalanan Ke Surabaya Lewat Jalur Kereta? Berikut Deretan Lokasi Stasiun yang Ada Di Surabaya
Stasiun Surabaya Gubeng (Liputan6/)

Surabaya itu unik. Kota ini bukan cuma soal cuaca panas yang saking ekstrimnya sering dibilang punya jarak cuma sejengkal dari matahari. Di balik deru klakson kendaraan di Jalan Ahmad Yani atau aroma gurih Lontong Balap yang menggoda selera, Surabaya menyimpan cerita yang tertulis rapi di atas bantalan rel kereta api. Bagi para perantau atau pejuang long distance relationship (LDR), stasiun-stasiun di Surabaya bukan sekadar tempat transit, melainkan panggung drama penuh emosi—mulai dari pelukan rindu yang tumpah di peron sampai lambaian tangan perpisahan yang bikin nyesek di dada.

Kalau kamu main ke Kota Pahlawan naik kereta, kemungkinan besar kamu bakal mendarat di salah satu dari "Big Three" stasiun utamanya. Tapi, tahukah kamu kalau Surabaya punya lebih banyak stasiun dengan karakter yang beda-beda? Yuk, kita bedah satu per satu layaknya lagi ngobrol santai di warung kopi pinggir rel.

Surabaya Gubeng: Si Sulung yang Punya Dua Wajah

Bisa dibilang, Stasiun Surabaya Gubeng adalah "selebritisnya" stasiun di sini. Hampir semua orang luar kota kalau ditanya mau turun di mana, jawabannya pasti Gubeng. Tapi jangan sampai salah, Gubeng itu punya dua kepribadian yang kontras banget: Gubeng Lama dan Gubeng Baru.

Gubeng Baru (Pintu Timur) itu ibarat anak muda yang necis dan modern. Gedungnya lebih megah, lebih rapi, dan biasanya melayani kereta api kelas eksekutif dan bisnis. Di sini, suasananya lebih tertata dengan deretan gerai makanan kekinian yang siap mengisi perut sebelum berangkat. Sementara itu, Gubeng Lama (Pintu Barat) adalah sisi nostalgia. Bangunannya masih mempertahankan arsitektur kolonial yang ikonik. Kalau kamu turun di sini, hawa sejarahnya langsung kerasa. Satu hal yang nggak boleh dilewatkan adalah tradisi lagu "Bengawan Solo" yang diputar setiap ada kereta datang atau berangkat. Entah kenapa, denger lagu itu di tengah hawa Surabaya yang gerah malah bikin suasana jadi syahdu-syahdu gimana gitu.

Surabaya Pasar Turi: Gerbang Pantura yang Tangguh

Geser sedikit ke arah utara, kita punya Stasiun Surabaya Pasar Turi. Kalau Gubeng itu pusatnya jalur selatan, Pasar Turi adalah rajanya jalur utara atau Pantura. Namanya aja udah "Pasar Turi", jadi jangan heran kalau lokasinya emang nempel banget sama pusat grosir legendaris, PGS.

Stasiun ini punya aura kesibukan yang beda. Penumpangnya kebanyakan adalah kaum pekerja atau pelancong yang mau menuju Semarang atau Jakarta lewat jalur pantai. Di sekitar stasiun, kamu bakal nemuin banyak banget penjual Lontong Balap yang otentik. Rasanya kurang afdol kalau ke Pasar Turi tapi nggak nyicipin kuah segar dan tauge melimpahnya. Secara visual, stasiun ini memang nggak se-estetik Gubeng Lama, tapi soal fungsionalitas, Pasar Turi adalah tulang punggung transportasi yang nggak ada duanya.

Stasiun Surabaya Kota (Semut): Sang Legenda yang Melawan Zaman

Nah, kalau kamu tipe orang yang suka bangunan vintage atau hobi fotografi arsitektur, Stasiun Surabaya Kota—atau yang lebih akrab dipanggil Stasiun Semut—adalah surganya. Stasiun ini adalah stasiun tertua di Surabaya dan statusnya adalah bangunan cagar budaya.

Dulu, stasiun ini sempat mengalami sengketa dan kondisinya agak terbengkalai, tapi sekarang perlahan mulai bersolek kembali. Meskipun aktivitasnya nggak seramai Gubeng atau Pasar Turi (lebih banyak melayani kereta lokal atau komuter), Semut punya karisma yang nggak bisa dibeli. Langit-langitnya yang tinggi dan struktur besinya bener-bener bawa kita kembali ke era tahun 1800-an. Berdiri di peronnya saat sore hari, sambil melihat sinar matahari yang nyelip di sela-sela atap tua, rasanya kayak lagi masuk ke dalam mesin waktu.

Wonokromo: Stasiun Rakyat Sejuta Umat

Nggak lengkap ngomongin Surabaya kalau nggak nyebut Stasiun Wonokromo. Ini adalah stasiun yang paling "merakyat". Lokasinya strategis banget, tepat di seberang mall legendaris Darmo Trade Center (DTC) dan dekat banget sama Terminal Joyoboyo.

Wonokromo itu sibuknya minta ampun. Di sini, kamu bakal ketemu mahasiswa yang mau berangkat kuliah ke Malang, pedagang yang bawa barang dagangan segambreng, sampai karyawan yang mau kerja di Sidoarjo. Suasananya mungkin agak chaotic buat sebagian orang, tapi di situlah letak seninya. Wonokromo adalah detak jantung mobilitas warga Surabaya dan sekitarnya. Kalau mau ngerasain realita kehidupan Surabaya yang asli, coba deh nongkrong sebentar di sini.

Stasiun Kecil yang Tak Kalah Penting

Selain raksasa-raksasa di atas, Surabaya masih punya beberapa stasiun kecil yang sering terlupakan tapi punya peran vital. Ada Stasiun Benteng yang letaknya dekat daerah militer dan pelabuhan, ada Stasiun Tandes dan Kandangan yang melayani warga di wilayah Surabaya Barat, hingga Stasiun Sidotopo yang terkenal sebagai "kuburan" kereta api—tempat gerbong-gerbong tua yang sudah pensiun diletakkan hingga menciptakan pemandangan yang estetik sekaligus mistis.

Bagi saya pribadi, stasiun di Surabaya itu bukan cuma soal transportasi. Mereka adalah saksi bisu dari jutaan cerita manusia. Ada yang datang membawa harapan baru, ada yang pergi meninggalkan kenangan pahit. Setiap bunyi peluit masinis adalah tanda bahwa hidup harus terus berjalan, entah itu menuju ke timur atau ke barat. Jadi, kalau nanti kamu punya kesempatan main ke Surabaya, cobalah sesekali buat nggak cuma lewat, tapi duduk sejenak di peron salah satu stasiunnya. Perhatikan orang-orang di sekitarmu, hirup aroma khas stasiun yang bercampur bensin dan besi, dan nikmati betapa hidup ini tetap indah di tengah hiruk-pikuk kota yang katanya kasar tapi sebenarnya punya hati yang hangat ini. Gaskeun, Rek!

Logo Radio
🔴 Radio Live