Ceritra
Ceritra Kota

Menanti Langit Bersih: Kapan Kekusutan Kabel di Langit Kota Hilang?

Shannon - Thursday, 09 July 2026 | 07:00 PM

Background
Menanti Langit Bersih: Kapan Kekusutan Kabel di Langit Kota Hilang?
(iStock/BrendanV)

Kenapa Langit Kita Isinya Cuma Spageti Kabel? Sebuah Curhatan Visual dari Jalanan Indonesia

Pernah nggak sih kamu lagi niat banget mau foto estetik ala-ala 'cityscape' di sore hari, niatnya mau nangkep gradasi langit oranye yang cakep, tapi pas liat hasilnya malah pengen nangis? Bukan karena fotonya blur, tapi karena ada kabel item melintang semrawut yang kayaknya lebih ribet daripada benang layangan putus. Fenomena "spageti kabel" ini udah jadi bumbu harian di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Dari Jakarta yang katanya mau jadi kota global sampai pelosok kabupaten, kabel-kabel ini kayak nggak ada capeknya bergelantungan tanpa dosa.

Pertanyaannya simpel, tapi jawabannya ternyata berbelit-belit kayak kabelnya itu sendiri. Kenapa sih tiang listrik kita sebegitu berantakannya? Kenapa nggak ditanam aja di bawah tanah kayak di Singapura atau negara-negara Eropa yang langitnya bersih melompong itu? Terus, dana pajaknya dikemanain kalau urusan visual kota aja masih sekacau ini? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi, biar nggak emosi-emosi amat liat pemandangan di atas kepala.

Masalah Klasik: Biaya yang Bikin Dompet Negara Teriak

Alasan paling klise tapi paling nyata adalah soal cuan, alias anggaran. Membangun infrastruktur kabel bawah tanah itu mahalnya bukan main. Kalau kita bandingin, biaya narik kabel di atas tiang itu ibarat beli kopi sachet di warung, sementara narik kabel ke bawah tanah itu ibarat nongkrong tiap hari di cafe hits Senopati. Perbandingannya bisa 3 sampai 10 kali lipat lebih mahal!

Coba bayangin, kalau kabel mau ditaruh di bawah tanah, pemerintah atau PLN harus bikin parit khusus yang terisolasi dengan baik agar nggak korslet kalau kena air. Belum lagi kalau jalannya udah aspal mulus, harus dibongkar lagi. Biaya bongkar muat aspal, ganti rugi kalau ada pipa yang kegaruk, sampai urusan kabel yang harus punya jaket pelindung ekstra kuat biar nggak dimakan tikus tanah itu luar biasa "boncos". Akhirnya, pilihan paling rasional buat negara yang masih banyak kebutuhan mendesak lainnya ya pakai tiang. Murah, cepat, dan gampang benerinnya kalau ada yang putus.

Bukan Cuma Kabel Listrik, Tapi Kabel "Numpang"

Kalau kamu perhatiin, yang bikin tiang listrik itu kelihatan kayak sarang laba-laba sebenarnya bukan cuma kabel milik PLN. Di sana ada kabel fiber optic buat internet dari berbagai provider, kabel telepon, sampai kabel CCTV. Masalahnya, regulasi kita kadang masih agak "longgar" atau bahkan tumpang tindih. Setiap ada provider internet baru, mereka bakal pasang kabel baru. Tiangnya ya itu-itu juga.

Jadinya, tiang listrik itu ibarat rak baju yang udah penuh tapi dipaksa dijejali baju-baju baru tiap minggu. Estetika? Ah, itu urusan belakangan, yang penting sinyal internet lancar jaya dan pelanggan nggak komplain. Kurangnya koordinasi antar instansi ini yang bikin kabel jadi semrawut. Kadang kabel yang udah mati pun nggak dicabut, dibiarin aja ngegantung sampai jadi beban sejarah buat generasi mendatang.

Kenapa Nunggu Lama Banget? Emang Nunggu Apa?

Mungkin kamu mikir, "Kan kita udah merdeka puluhan tahun, masa benerin kabel aja nunggu kiamat?" Nah, kendala lainnya adalah soal koordinasi lintas sektoral yang ribetnya minta ampun. Di Indonesia, ada istilah legendaris: "Gali Lubang, Tutup Lubang, Gali Lagi."

Hari ini aspal dibongkar buat benerin pipa air. Besok ditutup. Eh, minggu depan dibongkar lagi buat nanem kabel internet. Minggu depannya lagi ada perbaikan kabel listrik. Kenapa nggak barengan aja? Ya itu dia misteri birokrasi kita. Belum ada satu komando yang benar-benar tegas buat bikin Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) di bawah tanah secara serentak. Kita nungguin sistem yang terpadu ini jalan, tapi sayangnya, ego sektoral antar lembaga seringkali lebih tinggi daripada tiang listriknya sendiri.

Faktor Geografis dan "Bakat" Banjir

Jangan lupakan kalau Indonesia ini rawan bencana, terutama banjir. Kalau kabel ditaruh di bawah tanah tanpa teknologi drainase dan proteksi yang canggih, risiko tersetrum masal pas banjir itu nyata adanya. Negara-negara maju punya sistem terowongan kabel yang sangat kering dan terjaga. Di kita? Kadang got aja mampet gara-gara sampah plastik, apalagi kalau ditambah instalasi kabel yang kompleks di bawah sana. Jadi, ada ketakutan teknis kalau dipaksain tanpa perencanaan matang, malah jadi bom waktu pas musim hujan tiba.

Dana Pajaknya ke Mana Sih?

Ini pertanyaan paling pedas yang sering muncul di kolom komentar media sosial. "Pajak gue dikemanain?" Sebenarnya, dana tersebut dialokasikan ke banyak hal. Prioritas pemerintah sejauh ini masih di pembangunan jalan tol, bendungan, subsidi energi, dan pemerataan listrik ke daerah pelosok yang bahkan belum punya tiang sama sekali. Logikanya begini: mending bangun kabel bawah tanah yang estetik di satu jalan protokol Jakarta, atau bangun seribu tiang listrik di desa terpencil di Papua biar mereka bisa liat lampu pas malam? Pemerintah biasanya milih yang kedua buat ngejar rasio elektrifikasi.

Tapi, bukan berarti nggak ada harapan. Di beberapa titik di Jakarta, kayak daerah Mampang atau Senopati, proyek penurunan kabel ke bawah tanah sudah mulai jalan. Memang lambat, kayak siput lagi marathon, tapi setidaknya ada progres. Pemerintah mulai sadar kalau kota yang cantik itu juga butuh "langit yang bersih" biar turis betah dan warga nggak stres liat pemandangan kabel ruwet.

Kesimpulan: Sabar Adalah Kunci (dan Kenikmatan Visual yang Tertunda)

Jadi, kenapa tiang listrik kita nggak estetik? Karena kita masih dalam fase transisi antara "yang penting fungsi" menuju "yang penting cantik". Biaya mahal, koordinasi birokrasi yang masih kayak benang kusut, serta prioritas pembangunan nasional jadi alasan utama kenapa kabel-kabel itu masih setia menemani perjalanan kita setiap hari.

Nunggu apa lagi? Nunggu anggaran cukup, nunggu ego instansi melunak, dan nunggu teknologi kita siap buat ngadepin banjir tanpa bikin kabel korslet. Sampai saat itu tiba, mungkin kita harus belajar mencintai "estetika spageti" ini sebagai ciri khas urban Indonesia. Kalau mau foto langit cakep, ya pinter-pinter cari angle aja, atau terpaksa pakai aplikasi edit foto buat ngilangin kabelnya. Emang ribet sih, tapi ya mau gimana lagi? Selamat menikmati pemandangan sarang laba-laba raksasa di atas kepala kita!

Logo Radio
🔴 Radio Live