Fenomena Kesurupan Massal di Sekolah: Mitos atau Gangguan Medis?
Shannon - Tuesday, 07 July 2026 | 11:00 AM


Antara Jin Penunggu Pohon dan Otak yang Lagi 'Konslet': Bedah Tuntas Fenomena Kesurupan dari Sisi Medis
Bayangkan situasinya seperti ini: Hari Senin yang terik, upacara bendera baru saja dimulai, dan tiba-tiba seorang siswi di barisan belakang menjerit histeris. Suaranya berubah jadi berat, matanya melotot, dan dia mulai meracau dalam bahasa daerah yang konon nggak pernah dia pelajari. Dalam hitungan menit, suasana sekolah yang tadinya tertib berubah jadi kacau balau. Guru-guru panik, teman-teman kelas ketakutan, dan biasanya ada satu orang yang paling sigap lari mencari minyak kayu putih atau ustadz terdekat.
Di Indonesia, pemandangan kayak gini udah kayak menu wajib di berita-berita lokal atau cerita urban di tongkrongan. Kita menyebutnya kesurupan. Diagnosis saktinya biasanya seragam: "Kemasukan jin penunggu pohon beringin sebelah lab fisika" atau "Lagi kosong pikirannya, makanya disinggahi makhluk halus." Tapi, pernah nggak sih kalian kepikiran, kenapa jin-jin ini hobi banget mampir ke sekolah atau pabrik, dan jarang banget "merasuki" orang yang lagi asyik scrolling TikTok atau lagi rapat direksi bank swasta?
Nah, sebelum kita makin jauh bahas soal klenik, yuk kita coba pakai kacamata medis dan psikologi. Ternyata, dunia kedokteran punya penjelasan yang nggak kalah seru (dan jauh lebih masuk akal) soal kenapa seseorang bisa tiba-tiba "berubah wujud" jadi entitas lain.
Bukan Setan, Tapi Mekanisme 'Disosiasi'
Dalam dunia psikiatri, fenomena yang kita sebut kesurupan ini punya nama resmi yang cukup keren: Dissociative Trance Disorder atau Gangguan Trans Disosiatif. Gampangnya gini, otak manusia itu punya sistem pertahanan diri yang canggih banget. Kalau seseorang mengalami tekanan mental, stres berat, atau trauma yang nggak sanggup dia tanggung, otak bisa melakukan semacam "unplug" atau mencabut kabel koneksi dari kenyataan.
Saat kondisi disosiatif ini terjadi, identitas asli seseorang seolah-olah "terpinggirkan" dan digantikan oleh identitas lain. Kenapa harus jadi macan atau sosok kakek-kakek? Ya karena itu yang tersimpan di memori bawah sadarnya. Lingkungan budaya kita yang kental dengan mitos membuat otak kita secara otomatis memilih "peran" yang paling sesuai dengan narasi yang ada di sekitar kita. Jadi, kalau dari kecil kita sering dengar cerita hantu penjaga hutan, ya otak kita bakal memproyeksikan sosok itu saat lagi "konslet".
Histeria Massa: Ketika Kesurupan Menular Lewat 'Sinyal' Stres
Pernah dengar kasus kesurupan massal? Yang satu teriak, eh yang lain ikutan tumbang kayak kartu domino. Medis menyebut ini sebagai Mass Psychogenic Illness. Ini bukan berarti jinnya lagi ada promo buy 1 get 10 ya. Ini murni fenomena psikologis di mana sekelompok orang yang berada dalam tekanan yang sama (misalnya stres ujian nasional atau beban kerja pabrik yang tinggi) saling menularkan kecemasan mereka secara bawah sadar.
Manusia itu makhluk sosial yang sangat empatik. Kalau ada satu orang yang melepaskan emosinya lewat jeritan, otak orang di sekitarnya yang juga lagi stres bisa ikut-ikutan terpicu. Ini mirip kayak fenomena kalau ada satu orang menguap, yang lain pasti ikutan nguap. Bedanya, yang ini versi yang jauh lebih dramatis dan menguras tenaga.
Kenapa Sasarannya Seringkali Remaja atau Buruh?
Kalau kita perhatikan pola kasusnya, kesurupan sering banget menimpa remaja sekolah atau pekerja pabrik. Secara medis, ini ada penjelasannya. Kelompok ini biasanya berada di bawah tekanan struktur otoritas yang kuat. Siswa harus nurut guru, buruh harus ngejar target produksi. Ketika mereka merasa tertekan tapi nggak punya ruang untuk curhat atau protes, tubuh mereka mencari "pintu keluar" yang legal secara sosial.
Lucunya, di masyarakat kita, orang yang lagi kesurupan itu "bebas tugas". Mereka boleh teriak-teriak, boleh maki-maki atasan, dan setelah sadar, mereka nggak bakal disalahkan karena dianggap "bukan diri mereka yang asli". Secara nggak sadar, ini jadi semacam mekanisme pelepasan katarsis bagi jiwa-jiwa yang lagi lelah sama beban hidup.
Bukan Cuma Psikologis, Ada Faktor Fisik Juga
Selain faktor mental, kondisi fisik yang drop juga berpengaruh besar. Kurang tidur, dehidrasi, atau kadar gula darah yang rendah (hipoglikemia) bisa bikin fungsi kognitif otak menurun drastis. Pas kondisi lagi lemes begitu, ditambah suasana ruangan yang pengap dan mencekam, ya sudah, lengkaplah resep untuk terjadinya halusinasi atau pingsan yang kemudian dianggap sebagai kesurupan.
Dalam beberapa kasus yang lebih serius, apa yang dianggap kesurupan bisa jadi sebenarnya adalah serangan epilepsi lobus temporal atau gangguan bipolar yang sedang memasuki fase manik. Itulah kenapa penting banget untuk nggak langsung mendatangkan "orang pintar" sebagai langkah pertama, tapi coba dicek dulu kondisi medis dasarnya.
Menghargai Budaya Tanpa Meninggalkan Logika
Oke, kita nggak perlu kok jadi orang yang kaku banget dan menentang segala bentuk kepercayaan lokal. Budaya Indonesia memang unik dengan segala mistisismenya. Tapi, menaruh semua beban penjelasan pada "makhluk halus" juga nggak bijak. Kasihan dong jinnya, sering dijadikan kambing hitam atas masalah kesehatan mental kita sendiri.
Langkah terbaik kalau ketemu orang yang diduga kesurupan adalah: tetap tenang, bawa ke tempat yang sejuk, pastikan dia nggak melukai diri sendiri, dan coba ajak bicara pelan-pelan. Kalau frekuensinya sering, mungkin yang dibutuhkan bukan air doa, tapi sesi konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Karena kadang-kadang, "hantu" yang paling menakutkan itu bukan yang nungguin pohon beringin, tapi trauma dan stres yang kita simpan sendirian di dalam kepala.
Jadi, lain kali kalau ada berita kesurupan massal, yuk kita coba lebih kritis. Mungkin mereka bukan butuh pengusir setan, tapi butuh waktu libur yang lebih lama atau sekadar telinga yang mau mendengarkan keluh kesah mereka. Sehat-sehat ya otaknya, jangan sampai konslet!
Next News

Bukan Sekadar Pendamping Makan, Kini Teh Jadi Ritual Self-Care
15 hours ago

Nonton Film atau Ikut Ujian? Fenomena 'Polisi Film' di Era Media Sosial
20 hours ago

Ganteng Maksimal Pas Nongkrong: Tips Skincare Pria Anti Kusam
4 days ago

Lewat "Teh Hijau", Tulus Ajak Kita Bicara Soal Anhedonia
5 days ago

PPN 11 Persen Berlaku di Strava, Apakah Dompet Akan Terbebani?
5 days ago

Sisir Bambu: Rahasia Rambut Sehat atau Cuma Tren Media Sosial?
5 days ago

Tembok Tak Lagi Punya Telinga: Saat Anak Muda Berani Bersuara
6 days ago

Mengapa Gadget Bisa Bikin Anak & Orang Dewasa Overstimulasi? Ini Faktanya
6 days ago

Sukses Tapi Cemas? Mungkin Kamu Kena 'Imposter Syndrom'
6 days ago

Baju Warna Apa Pun Tetap Cakep Pakai Denim, Ini Rahasianya
7 days ago






