Ceritra
Ceritra Update

Bukan Sekadar Pendamping Makan, Kini Teh Jadi Ritual Self-Care

Shannon - Monday, 06 July 2026 | 04:00 PM

Background
Bukan Sekadar Pendamping Makan, Kini Teh Jadi Ritual Self-Care
(Adobe Stock/)

Bukan Sekadar Celup: Seni Menikmati Teh Sebagai Ritual Healing

Kalau kita bicara soal minuman yang paling "merakyat" di Indonesia, kopi mungkin sedang naik daun dengan segala hiruk-pikuk kedai kopi estetik di setiap sudut gang. Tapi, coba deh ingat-ingat lagi. Saat kamu bertamu ke rumah saudara, saat perut kembung, atau saat lagi makan di warteg pinggir jalan, apa yang selalu hadir? Ya, teh. Minuman ini ibarat sahabat lama yang nggak pernah protes, selalu ada, dan nggak banyak tingkah. Namun, belakangan ini, teh bukan lagi sekadar minuman pendamping nasi padang atau es teh manis plastik di depan minimarket. Teh sudah berevolusi jadi sebuah gaya hidup, sebuah ritual self-care, bahkan masuk ke dalam kategori minuman mewah yang punya strata tersendiri.

Mengenal Karakter Teh: Bukan Cuma Hitam dan Hijau

Masih banyak yang mengira kalau semua teh itu sama saja, cuma beda warna. Padahal, dunia pertehan itu seluas samudra, lho. Semua teh sebenarnya berasal dari tanaman yang sama, yaitu Camellia sinensis. Yang bikin beda adalah cara prosesnya, alias tingkat oksidasinya. Mari kita bedah satu-satu biar kamu nggak bingung pas lagi liat menu di tea house yang harganya bikin kantong meriang.

Pertama, ada Teh Hitam (Black Tea). Ini adalah tipe teh yang paling "berani" dan punya kandungan kafein paling tinggi. Proses oksidasinya penuh, makanya warnanya gelap dan rasanya pekat. Di Indonesia, teh hitam ini jadi primadona buat bikin es teh manis yang segar tiada tara. Lalu ada Teh Hijau (Green Tea), yang sering banget diasosiasikan dengan diet dan hidup sehat. Karena nggak lewat proses oksidasi, rasanya cenderung grassy atau mirip rumput segar. Kalau kamu tipe orang yang peduli banget sama antioksidan, teh hijau adalah kuncinya.

Jangan lupakan Teh Oolong. Ini adalah jalan tengah buat kamu yang nggak suka terlalu pekat tapi nggak mau yang terlalu hambar. Oolong itu ibarat anak tengah yang paling fleksibel; rasanya bisa sangat floral atau malah creamy. Dan yang paling "ningrat" adalah Teh Putih (White Tea). Diambil dari pucuk daun termuda, teh ini minim proses dan harganya biasanya bikin mata terbelalak. Rasanya sangat halus, ringan, dan manis alami. Minum teh putih itu rasanya kayak lagi dapet pelukan hangat di pagi hari.

Lebih dari Sekadar Penghilang Haus: Manfaat yang Bikin Nagih

Kenapa sih orang-orang zaman sekarang, terutama anak muda yang sering merasa burnout, lari ke teh? Jawabannya simpel: teh punya kandungan L-theanine. Ini adalah asam amino yang bisa bikin otak kita rileks tanpa bikin ngantuk. Beda sama kopi yang kadang bikin jantung deg-degan kayak abis liat mantan, teh memberikan efek waspada tapi tenang. Itulah kenapa istilah "tea meditation" makin populer.

Selain bikin tenang, teh adalah gudangnya antioksidan bernama polifenol. Buat kamu yang sering terpapar polusi Jakarta atau kota besar lainnya, teh bisa jadi tameng buat menangkal radikal bebas. Belum lagi manfaatnya buat metabolisme tubuh. Teh hijau, misalnya, sering banget disebut sebagai pembakar lemak alami. Ya, meskipun nggak bakal langsung bikin perut rata kalau setelahnya kamu tetap makan gorengan lima biji, sih. Tapi setidaknya, teh membantu proses pencernaan jadi lebih lancar.

Cara Seduh: Berhenti Menyiksa Daun Teh!

Nah, ini nih kesalahan yang paling sering dilakukan: asal celup dan pakai air mendidih buat semua jenis teh. Tolong, jangan siksa daun tehmu! Menyeduh teh itu ada seninya. Kalau kamu pakai air yang benar-benar mendidih (100 derajat Celsius) buat nyeduh teh hijau, yang ada rasanya bakal pahit banget dan sepat. Itu karena daunnya "terbakar".

Idealnya, teh hijau diseduh dengan air suhu sekitar 70-80 derajat saja. Teh hitam baru deh boleh pakai air yang agak panas sekitar 90-95 derajat. Selain suhu, waktu seduh juga krusial. Jangan ditinggal tidur! Cukup 2 sampai 3 menit saja. Kalau terlalu lama, tanin dalam teh bakal keluar berlebihan dan bikin rasanya jadi nggak karuan. Oh iya, kalau pakai teh celup, jangan ditekan-tekan kantongnya sampai sarinya habis. Itu cuma bakal bikin tehmu terasa pahit yang mengganggu, bukan pahit yang nikmat.

Tren Teh Masa Kini: Oplosan dan Artisan

Dunia teh sekarang lagi seru banget. Kalau kamu main ke daerah Solo atau Jogja, ada tren yang namanya "Teh Oplosan" atau Gitu-gitu (Legi, Kenthel, Panas). Ini adalah seni mencampur beberapa merek teh lokal buat dapetin aroma melati yang nendang dan warna yang mantap. Ini bukti kalau teh bukan cuma soal kemewahan, tapi soal selera komunal.

Di sisi lain, muncul juga tren Artisan Tea. Ini adalah teh yang dicampur dengan bunga kering (seperti marigold atau lavender), potongan buah, sampai rempah-rempah. Visualnya cantik banget, cocok banget buat difoto dan masuk feed Instagram. Tren Tea Pairing juga mulai muncul, di mana teh disajikan dengan makanan tertentu layaknya wine. Misalnya, teh oolong yang cocok banget dipadukan dengan makanan berlemak, atau teh melati yang pas buat teman makan camilan manis.

Pada akhirnya, ngeteh itu soal mengambil jeda. Di tengah dunia yang serba cepat ini, meluangkan waktu lima menit buat menyeduh teh, mencium aromanya, dan menyesapnya pelan-pelan adalah bentuk kemewahan yang paling sederhana. Jadi, besok-besok kalau lagi stres, coba deh jangan langsung pesen kopi susu gula aren. Coba seduh teh favoritmu, duduk diam, dan rasakan ketenangannya. Karena kadang, jawaban dari masalah hidup kita bukan ada di dasar gelas kopi yang pahit, tapi di dalam secangkir teh yang menenangkan.

Logo Radio
🔴 Radio Live