Ceritra
Ceritra Update

Lewat "Teh Hijau", Tulus Ajak Kita Bicara Soal Anhedonia

Shannon - Thursday, 02 July 2026 | 04:00 PM

Background
Lewat "Teh Hijau", Tulus Ajak Kita Bicara Soal Anhedonia
(RadarBali.id/)

Menyeduh Sepi dalam Secangkir Teh Hijau: Saat Tulus Memotret Fenomena Mati Rasa Kita

Siapa sih yang nggak kenal Tulus? Pria yang suaranya kalau sudah masuk ke telinga rasanya seperti dipuk-puk oleh semesta. Setelah sukses bikin kita semua merasa jadi "Manusia" yang punya banyak cela lewat album sebelumnya, kini Tulus kembali hadir dengan sebuah karya bertajuk Teh Hijau. Lagu ini bukan sekadar urusan seduh-menyeduh daun teh di sore hari yang estetik, tapi lebih ke arah potret jujur tentang sebuah kondisi yang mungkin sedang banyak dari kita alami: anhedonia alias mati rasa.

Pernah nggak sih kamu merasa kalau hari-harimu itu cuma kayak kaset rusak yang diputar ulang terus-menerus? Bangun tidur, buka HP, kerja atau kuliah, makan, tidur lagi, dan siklus itu berputar tanpa ada percikan emosi yang berarti. Nah, di lagu ini, Tulus menangkap fenomena "misteri lenyap senang" itu dengan sangat apik. Lewat lirik di verse pertama, dia bercerita tentang betapa repetitifnya hidup sampai rasa bahagia itu perlahan menguap tanpa pamit. Lucunya, di saat kita merasa kosong, biasanya bakal muncul ribuan saran dari orang sekitar yang sebenarnya niatnya baik tapi kadang malah bikin makin pusing.

Ada yang bilang, "Coba deh lu keluar, main ke alam, healing gitu." Atau saran standar lainnya seperti "Cari hobi baru yang menantang, keluar dari zona nyaman." Tulus merangkum semua kebisingan saran itu dalam baris liriknya. Tapi pertanyaannya, apakah keluar ke alam atau mendaki gunung tertinggi bakal otomatis balikin rasa senang yang hilang itu? Belum tentu. Terkadang, masalahnya bukan karena kita kurang piknik, tapi karena ada sesuatu yang "patah" atau "mati" di dalam sana.

Masuk ke bagian pre-chorus, Tulus mulai mengajak kita menyelam lebih dalam ke sisi psikologis. Dia mengakui ada yang hilang belakangan ini. Mencari pencetus atau penyebab rasa hampa itu ternyata nggak segampang mencari kunci motor yang terselip di sofa. Apakah ini karena sebuah kehilangan yang traumatis? Ataukah ini memang sekadar siklus hidup yang harus dilewati? Bagian ini terasa sangat relate buat anak muda jaman sekarang yang seringkali terjebak dalam quarter-life crisis. Kita bingung kenapa tiba-tiba segalanya terasa hambar, padahal secara objektif hidup kita mungkin baik-baik saja.

Lalu tibalah kita pada bagian chorus yang jujur banget sampai rasanya agak ngenes kalau didengerin pas lagi sendirian di kamar. "Mungkin aku sedang tak bisa, tak bisa jatuh cinta." Kalimat ini tajam banget. Di era di mana semua orang seolah berlomba-lomba pamer kemesraan di media sosial atau sibuk cari pasangan di dating apps, Tulus justru memberikan pengakuan bahwa ada fase di mana hati kita benar-benar terkunci rapat. Bukan karena sombong atau pilih-pilih, tapi memang kapasitas emosionalnya lagi di titik nol.

Membuka hati untuk "apapun" dan "siapapun" itu butuh energi besar. Kalau baterai jiwa kita lagi drop, boro-boro mau jatuh cinta sama orang lain, jatuh cinta sama diri sendiri atau sekadar menikmati hobi lama saja rasanya berat banget. Istilah kerennya mungkin burnout emosional. Kita menutup diri bukan sebagai bentuk pertahanan yang agresif, tapi lebih ke mekanisme survival karena kita memang nggak punya apa-apa lagi untuk dibagikan.

Kenapa judulnya Teh Hijau? Kalau kita filosofikan secara ngasal tapi masuk akal, teh hijau itu punya rasa yang unik. Ada sepet-sepetnya, ada pahitnya, tapi aromanya menenangkan dan konon bagus buat detoks. Mungkin lagu ini adalah cara Tulus melakukan detoks emosional. Dia mengakui kepahitan hidupnya, mengakui bahwa dia lagi nggak oke, dan pengakuan itulah yang justru jadi langkah awal menuju ketenangan. Kadang kita terlalu memaksakan diri untuk terlihat bahagia, padahal jujur pada diri sendiri bahwa kita lagi "nggak bisa apa-apa" adalah bentuk self-love yang paling tulus.

Secara musikalitas, lagu ini tetap membawa ciri khas Tulus yang elegan namun tetap punya sentuhan modern yang fresh. Aransemennya nggak berisik, seolah memberikan ruang bagi pendengarnya untuk benar-benar meresapi setiap kata. Ini bukan lagu yang bakal bikin kamu pengen joget di lantai dansa, tapi ini lagu yang bakal bikin kamu termenung sambil melihat rintik hujan di jendela café, atau sekadar jadi teman melamun di dalam KRL saat perjalanan pulang kerja.

Observasi menarik lainnya adalah bagaimana Tulus selalu berhasil memanusiakan perasaan-perasaan yang seringkali dianggap tabu atau memalukan. Di masyarakat kita, mengaku "nggak bisa jatuh cinta" seringkali dianggap aneh atau dicap berhati dingin. Tapi lewat Teh Hijau, Tulus bilang kalau itu normal. Itu cuma fase. Itu cuma bagian dari siklus hidup yang misterius.

Jadi, buat kamu yang sekarang lagi merasa dunianya kehilangan warna, yang merasa saran "main ke alam" udah nggak mempan lagi, atau yang merasa hatinya lagi digembok rapat-rapat tanpa kunci cadangan, lagu ini adalah untukmu. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kalau memang lagi nggak bisa jatuh cinta, ya sudah. Kalau memang lagi pengen menutup hati dulu, nggak apa-apa. Seduh saja teh hijaumu, nikmati pahitnya, dan biarkan waktu yang bekerja merestorasi rasamu kembali.

Pada akhirnya, Tulus sekali lagi membuktikan bahwa dia adalah penyambung lidah bagi jiwa-jiwa yang kesepian di tengah keramaian. Teh Hijau bukan cuma lagu, tapi sebuah pelukan virtual yang bilang: "Gue paham kok rasa hambar yang lo alami." Dan terkadang, dipahami itu rasanya jauh lebih melegakan daripada sekadar diberi saran untuk pergi liburan.

Logo Radio
🔴 Radio Live