Ceritra
Ceritra Update

Fungsi Penting Hidran Kebakaran yang Sering Diabaikan Warga

Shannon - Tuesday, 30 June 2026 | 02:00 PM

Background
Fungsi Penting Hidran Kebakaran yang Sering Diabaikan Warga
Fire Hydrant (Getty image/iStock/fotosav)

Si Merah yang Kesepian di Pinggir Jalan: Lebih dari Sekadar Pajangan atau Tempat Duduk Dadakan

Pernah nggak sih, pas lagi jalan kaki di trotoar yang lebarnya nggak seberapa—atau malah lagi berjuang menembus kemacetan mata kamu nangkep sosok benda besi warna merah mencolok yang berdiri kaku di pinggir jalan? Bentuknya agak unik, kayak robot bantet yang pakai topi. Yup, itulah fire hydrant, atau kalau dalam bahasa teknisnya sering disebut hidran kebakaran. Tapi buat sebagian besar warga +62, benda ini seringkali cuma dianggap sebagai pemanis jalanan, tempat naruh plastik sampah sementara, atau malah jadi kursi gratisan sambil nunggu ojek online datang.

Padahal nih, kalau kita mau sedikit "deep talk" soal tata kota, keberadaan si merah ini tuh krusial banget. Bayangin deh, di tengah padatnya pemukiman kita yang kadang jarak antar rumah udah kayak nempel pake lem Korea, hidran adalah garis pertahanan pertama kalau si jago merah tiba-tiba ngamuk. Tapi ya gitu, nasibnya seringkali kayak mantan yang baru diingat pas lagi butuh doang. Selebihnya? Dilupakan, karatan, atau bahkan tertutup dagangan kaki lima.

Bukan Sekadar Keran Raksasa Biasa

Secara harafiah, hydrant itu sebenarnya adalah titik akses air yang terhubung langsung ke jaringan pipa air utama di bawah tanah. Pemadam kebakaran itu nggak selalu bawa air yang cukup di dalam truk mereka. Tanki air di mobil Damkar itu ada batasnya, kawan. Kalau apinya sudah sebesar ego netizen pas lagi debat di Twitter, air di tanki itu bakal habis dalam hitungan menit. Nah, di sinilah hidran jadi pahlawan. Dia adalah "power bank" air yang nggak terbatas buat petugas Damkar.

Tapi masalahnya, sering banget kita lihat hidran di kota-kota besar di Indonesia itu kondisinya memprihatinkan. Ada yang catnya sudah mengelupas sampai nggak kelihatan lagi warna merahnya, ada yang lubangnya mampet karena kemasukan sampah, atau yang paling parah: airnya nggak keluar pas diputar. Ini nih yang bikin nyesek. Sudah pasang pose gagah di pinggir jalan, pas mau dipakai malah "zonk". Fenomena hidran mati suri ini sering banget jadi bahan omongan kalau ada kebakaran besar yang susah padam.

Kita sering melihat di film-film Hollywood, kalau ada mobil nabrak hidran, airnya bakal muncrat tinggi ke langit kayak air mancur di Bundaran HI. Aslinya sih, nggak selalu dramatis kayak gitu, apalagi kalau tekanan air di wilayah tersebut lagi loyo. Tapi poinnya adalah, hidran harus selalu siap sedia dalam kondisi "on" 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Ego Manusia vs. Kebutuhan Darurat

Coba deh perhatikan di sekitar kamu. Pernah nggak lihat mobil mewah atau motor yang parkir tepat di depan hidran? Rasanya pengen bilang, "Woi, ini bukan spot parkir VIP!" Di luar negeri, kalau kamu parkir di depan hidran, petugas pemadam kebakaran berhak banget buat memecahkan kaca jendela mobil kamu cuma buat lewat selang air. Dan ya, itu legal. Di sini? Wah, bisa-bisa malah petugasnya yang diajak ribut sama pemilik mobil karena dianggap merusak properti.

Kurangnya kesadaran masyarakat kita terhadap fungsi hidran memang masih jadi PR besar. Belum lagi urusan PKL yang sering menjadikan hidran sebagai tiang buat nyantolin terpal atau meja dagangan. Padahal, setiap detik itu berharga banget pas kebakaran. Kalau petugas harus bongkar tenda dulu atau nunggu mobil geser dulu cuma buat nyambungin selang ke hidran, ya wassalam, apinya keburu merembet ke mana-mana.

Belum lagi soal vandalisme. Tangan-tangan jahil yang suka nyorat-nyoret pakai pilox atau malah ngerusak tutup hidran cuma buat dijual kiloan ke tukang loak. Duh, plis deh, itu alat keselamatan publik, bukan barang rongsokan. Kalau nanti lingkunganmu kebakaran dan hidrannya nggak bisa dipakai karena komponennya hilang, baru deh kerasa sedihnya.

Estetika Urban atau Sekadar Formalitas?

Kadang kita juga perlu mempertanyakan ke pemerintah kota atau pihak terkait: sebenarnya hidran-hidran ini dirawat nggak sih? Atau jangan-jangan cuma dipasang biar memenuhi syarat IMB (Izin Mendirikan Bangunan) atau regulasi tata kota doang, tapi setelah itu dibiarin mati kesepian. Kita butuh sistem yang lebih dari sekadar "ada". Kita butuh hidran yang benar-benar mengalirkan air, bukan cuma mengalirkan janji-janji manis keamanan.

Di beberapa negara maju, posisi hidran itu dipetakan secara digital. Jadi petugas pemadam sudah tahu lewat tablet mereka di mana titik hidran terdekat dan berapa tekanan airnya. Di kita, nyari hidran kadang kayak main petak umpet karena ketutup pot bunga atau baliho caleg. Miris, tapi nyata.

Sebenarnya, kehadiran hidran yang terawat juga bisa nambah estetika kota lho. Coba lihat hidran di Jepang atau beberapa kota di Eropa, mereka dicat rapi, bahkan ada yang diberi desain unik tanpa menghilangkan fungsinya. Jadi, selain bikin aman, juga enak dipandang buat konten street photography. Bukannya malah jadi benda kusam yang bikin trotoar kelihatan kumuh.

Kesimpulan: Yuk, Lebih Peka Sama Si Merah

Mulai sekarang, yuk kita coba lebih "ngeh" sama keberadaan fire hydrant di sekitar kita. Nggak perlu sampai diajak ngobrol juga sih, cukup dengan nggak menghalangi aksesnya saja itu sudah sangat membantu. Kalau kamu lihat ada orang yang parkir sembarangan menutup hidran, atau ada tangan jahil yang mau ngerusak, ya minimal ditegur atau lapor lewat aplikasi pengaduan warga yang sekarang sudah banyak tersedia.

Kita memang nggak pernah berharap bakal terjadi kebakaran. Tapi sedia payung sebelum hujan itu jauh lebih baik daripada bingung nyari air pas rumah sudah berasap. Fire hydrant itu ibarat asuransi di pinggir jalan; kamu mungkin nggak butuh dia setiap hari, tapi saat momen kritis datang, keberadaannya adalah penentu antara "terselamatkan" atau "ludes jadi abu".

Jadi, buat kalian yang sering nongkrong di trotoar, please, jangan jadikan hidran sebagai tempat sampah ya. Dan buat para pemilik kendaraan, ingat, hidran bukan rambu "boleh parkir di sini". Mari kita jaga si merah ini biar dia nggak cuma jadi saksi bisu kemacetan kota, tapi beneran jadi pahlawan saat dibutuhkan. Karena pada akhirnya, keselamatan itu bukan cuma tugas Damkar, tapi juga kepedulian kita semua yang lewat di jalanan setiap hari.

Logo Radio
🔴 Radio Live