Ceritra
Ceritra Update

Kebakaran Bromo dan Musim Kemarau Panjang, Kenapa Wilayah Wisata Ini Rawan Terbakar Setiap Tahun?

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 02:25 AM

Background
Kebakaran Bromo dan Musim Kemarau Panjang, Kenapa Wilayah Wisata Ini Rawan Terbakar Setiap Tahun?
Kebakaran Gunung Bromo (ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)

Bromo Terbakar Lagi: Kisah Klasik Kecerobohan di Tengah Padang Savana yang Merana

Bayangkan kamu sudah merencanakan liburan impian ke Gunung Bromo sejak jauh-jauh hari. Sudah beli tiket kereta atau pesawat, sudah sewa jeep yang harganya lumayan menguras kantong, hingga sudah menyiapkan outfit paling estetik demi konten media sosial. Tapi begitu sampai di sana, yang kamu temukan bukan hamparan savana hijau yang menyegarkan mata, melainkan kepulan asap hitam dan barisan petugas yang melarangmu masuk. Nyesek, kan? Itulah potret pilu yang kembali terjadi di salah satu ikon wisata terbaik Indonesia belakangan ini.

Hingga Senin, 10 Agustus 2026, data dari BPBD Provinsi Jawa Timur mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo telah melahap sekitar 550 hektare lahan. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ini adalah luka bagi ekosistem pegunungan. Dampaknya pun langsung terasa nyata bagi para pelancong. Sejak Sabtu, 8 Agustus 2026, akses menuju kawasan wisata Bromo terpaksa ditutup total demi keselamatan dan kelancaran proses pemadaman. Sebuah awal yang pahit bagi siapa pun yang mendambakan udara segar pegunungan.

Kenapa Selalu Bromo?

Pertanyaan besarnya adalah: kenapa tempat seindah dan seikonik Bromo justru jadi langganan kebakaran hampir setiap tahun? Apakah alam memang sedang marah, atau jangan-jangan kita sendiri yang hobi mengundang bencana? Kalau kita melihat pola yang ada, sepertinya faktor kedua punya porsi yang jauh lebih besar.

Menko Polkam Djamari Chaniago sempat memberikan pernyataan bahwa situasi di Bromo sebenarnya sudah mulai terkendali. Titik api yang meluas secara signifikan beberapa hari sebelumnya kini kemungkinan hanya tersisa satu titik saja. Pemerintah pun tidak main-main dalam menangani hal ini. Berbagai peralatan canggih seperti helikopter untuk water bombing hingga pesawat khusus dikerahkan atas koordinasi antara Menteri Kehutanan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Bagi wisatawan yang terlanjur "kecele" karena penutupan ini, pihak pengelola memang memberikan opsi refund tiket atau penjadwalan ulang kunjungan. Tapi jujur saja, pengalaman yang rusak tidak akan pernah bisa di-refund secara utuh, bukan?

Bukan Karena Petir, Tapi Karena Kita

Mari kita bicara jujur. Kebakaran di Bromo jarang sekali dimulai oleh fenomena alam yang luar biasa seperti sambaran petir atau gesekan pohon secara alami. Menko Polkam menduga kuat bahwa karhutla di Bromo kali ini kembali dipicu oleh kecerobohan manusia. Salah satu dugaan utamanya adalah pengunjung yang menyalakan api untuk menghangatkan diri dari suhu dingin Bromo yang menggigit, namun lupa—atau malas—untuk memadamkannya secara sempurna sebelum ditinggalkan.

Kebiasaan sepele seperti membuat api unggun kecil atau membuang puntung rokok sembarangan di tengah padang rumput yang kering kerontang adalah resep sempurna untuk bencana. Suhu dingin di Bromo memang sering kali membuat wisatawan mencari kehangatan dengan cara-cara berisiko. Sayangnya, keinginan sesaat untuk merasa hangat ini justru berakhir dengan hangusnya ratusan hektare lahan. Ini adalah bentuk egoisme yang dibalut ketidaktahuan, atau mungkin ketidakpedulian yang sudah mendarah daging.

Pola Klasik: Dari Flare hingga Puntung Rokok

Kalau kita mau jujur melihat sejarah, kejadian ini adalah pengulangan dari kesalahan-kesalahan konyol di masa lalu. Kita tentu belum lupa dengan kejadian beberapa tahun silam ketika sebuah sesi foto prewedding menggunakan properti flare atau obor genggam malah membakar habis kawasan Bukit Teletubbies. Hanya demi satu jepretan foto yang dianggap estetik, ribuan makhluk hidup di kawasan tersebut harus kehilangan rumahnya.

Masalahnya bukan cuma pada individu yang melakukan kesalahan tersebut, tapi pada pola yang terus berulang. Ada semacam minimnya kesadaran kolektif dan pengawasan yang masih lubang di sana-sini terhadap aktivitas berisiko wisatawan. Bromo seolah dibiarkan menjadi panggung di mana siapa pun boleh melakukan apa pun tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.

Musim Kemarau sebagai "Bahan Bakar"

Tentu saja, kita tidak bisa menafikan faktor musim kemarau panjang. Kondisi vegetasi yang mengering, terutama di area savana, membuat api menyebar dengan kecepatan yang mengerikan begitu tersulut. Rumput yang berubah menjadi cokelat dan rapuh itu sebenarnya adalah bahan bakar yang sangat mudah terbakar. Djamari Chaniago sendiri sudah mengingatkan berkali-kali pentingnya kewaspadaan di tengah cuaca panas dan kering ini.

Kombinasi antara lahan yang kering kerontang dan tingginya jumlah kunjungan wisatawan di puncak musim kemarau adalah "bom waktu" yang meledak setiap tahun. Dan sedihnya, Bromo bukan kasus tunggal. Di kawasan Gunung Gede Pangrango, pola serupa juga ditemukan. Secara nasional, total lahan yang terbakar bahkan mencapai angka yang bikin geleng-geleng kepala: 107.000 hektare. Ini menunjukkan bahwa masalah kelalaian manusia di kawasan konservasi adalah krisis nasional, bukan sekadar isu lokal di Jawa Timur.

Refleksi: Apakah Imbauan Saja Cukup?

Sekarang saatnya kita bertanya secara kritis: apakah cukup bagi pemerintah dan pengelola hanya memberikan imbauan di spanduk-spanduk atau media sosial? Sepertinya tidak. Mungkin sudah saatnya aturan lebih ketat diberlakukan tanpa pandang bulu. Larangan total api unggun, razia ketat terhadap rokok di jalur pendakian atau area savana, hingga pelarangan properti foto yang berisiko harus ditegakkan dengan sanksi yang bikin jera.

Kita memang tidak bisa memastikan secara rinci satu penyebab tunggal karena variabel di lapangan sangat banyak. Namun, jika kecerobohan manusia selalu muncul sebagai tersangka utama, maka manusianya lah yang harus "didisiplinkan" dengan regulasi yang lebih dari sekadar kata-kata manis.

Menjaga Bromo bukan hanya tugas polhut atau petugas taman nasional yang harus berjibaku dengan asap siang dan malam. Ini adalah tanggung jawab setiap orang yang pernah menapakkan kaki di sana. Keindahan Bromo sebagai ikon wisata nasional berbanding lurus dengan tanggung jawab kita untuk menjaganya tetap lestari. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya bisa melihat Bromo lewat arsip foto digital karena fisiknya sudah rusak dan gersang akibat ego kita yang tak pernah padam. Mencegah kebakaran berulang adalah harga mati, sebelum Bromo benar-benar hanya menyisakan abu dan kenangan pahit.

Logo Radio
🔴 Radio Live