Ceritra
Ceritra Update

Tragedi Langit Kuning: Realita Musim Karhutla Kalimantan

Zaza - Thursday, 20 August 2026 | 11:15 AM

Background
Tragedi Langit Kuning: Realita Musim Karhutla Kalimantan
illustrasi kebakaran hutan (suara.com /)

Negeri di Atas Asap: Mengapa Kalimantan Membara Tapi Televisi Kita Masih Sibuk Urusan Jakarta?

Bayangkan kamu bangun pagi, membuka jendela dengan harapan menghirup udara segar, tapi yang menyambut justru aroma sangit menyengat yang bikin paru-paru protes. Langit yang seharusnya biru cerah mendadak berubah warna menjadi kuning pucat atau oranye pekat, persis filter film distopia yang sering kita tonton di Netflix. Bedanya, ini bukan film. Ini kenyataan yang harus ditelan bulat-bulat (bersama partikel debu) oleh saudara-saudara kita di Kalimantan saat musim kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla tiba.

Anehnya, kalau kita scrolling media sosial atau menyalakan televisi di ruang tamu, beritanya jauh panggang dari api. Kita lebih sering disuguhi drama perceraian artis, politisi yang saling sindir soal koalisi, atau tren makanan aneh yang viral di Jakarta. Kalimantan sedang sesak napas, tapi layar kaca kita seolah sedang pakai masker oksigen yang kedap suara. Pertanyaannya sederhana tapi nyelekit: kenapa sih bencana sebesar ini sering kali luput dari radar pemberitaan nasional?

Sindrom Jakarta-Sentris yang Belum Sembuh

Jujur saja, media kita itu masih sangat Jakarta-sentris. Ada semacam hukum tidak tertulis di dunia jurnalistik arus utama: kalau banjir melanda Jakarta setinggi mata kaki, itu berita nasional. Tapi kalau separuh pulau di luar Jawa tertutup kabut asap sampai sekolah harus libur berminggu-minggu, itu cuma dianggap "berita daerah". Miris, kan? Padahal, Indonesia itu luasnya dari Sabang sampai Merauke, bukan cuma dari Monas sampai Bundaran HI.

Redaksi media besar biasanya bermarkas di Jakarta. Ketika mereka mau meliput Karhutla di pelosok Kalimantan, biayanya nggak main-main. Butuh tiket pesawat, akomodasi, hingga risiko kesehatan bagi kru lapangan. Akhirnya, banyak media yang memilih main aman dengan mengambil footage dari media sosial atau rilis resmi pemerintah yang kadang bahasanya terlalu manis dan "terkendali". Alhasil, urgensi dari penderitaan warga yang setiap hari harus menghirup udara kategori "Berbahaya" tidak tersampaikan dengan utuh ke ruang keluarga masyarakat di Jawa.

"Lho, Bukannya Tiap Tahun Begitu?"

Ada satu istilah yang menyakitkan dalam dunia berita: normalisasi. Karhutla di Kalimantan sudah terjadi bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Karena saking seringnya terjadi, banyak orang (termasuk editor media) yang menganggap ini sebagai peristiwa rutin tahunan. "Ah, biasa, kan lagi musim kemarau," begitu kira-kira pikiran mereka. Padahal, tidak ada yang biasa dari anak bayi yang harus dilarikan ke rumah sakit karena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Ketika sebuah tragedi dianggap sebagai rutinitas, nilai beritanya atau news value-nya dianggap menurun. Publik dianggap bakal bosan kalau dikasih berita yang itu-itu saja. Padahal, intensitas dan dampak setiap tahunnya bisa berbeda-beda. Bagi warga di sana, kabut asap bukanlah "rutinitas yang bisa dimaklumi", melainkan ancaman nyawa yang dipaksakan untuk diterima. Kurangnya inovasi media dalam mengemas narasi Karhutla membuat isu ini kalah saing dengan berita-berita receh yang lebih klik-bait.

Logika Algoritma dan Kejar Tayang Rating

Mari kita bicara soal dapur media modern. Sekarang ini, banyak media yang hidup dari klik dan engagement. Berita tentang Karhutla di pelosok Kalimantan sering kali dianggap tidak punya performa bagus di mesin pencari atau media sosial dibandingkan berita yang sedang tren di kota besar. Orang lebih tertarik membaca siapa pacar baru seorang influencer daripada membaca data titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah atau Barat.

Sialnya lagi, isu lingkungan sering kali dianggap berat dan membosankan oleh sebagian besar netizen. Media akhirnya mengikuti selera pasar. Selama masyarakat umum tidak memberikan tekanan atau perhatian besar pada isu asap, media akan tetap menyimpan berita tersebut di halaman belakang atau slot tayang jam 2 pagi saat semua orang sudah tidur pulas. Ini adalah lingkaran setan: media tidak meliput karena dianggap nggak laku, dan publik nggak tahu karena media nggak meliput.

Kepentingan Ekonomi dan Politik di Balik Kabut

Bukan rahasia umum lagi kalau isu Karhutla sering kali bersinggungan dengan kepentingan besar. Kebakaran hutan jarang terjadi secara alami; mayoritas adalah akibat pembukaan lahan secara ilegal untuk perkebunan sawit atau pertambangan. Di sini ada tarik-ulur kepentingan antara korporasi besar, oknum yang bermain, dan kebijakan pemerintah.

Meliput Karhutla secara mendalam (investigasi) membutuhkan keberanian besar. Ada risiko tuntutan hukum atau tekanan dari pihak-pihak yang merasa terganggu kepentingannya. Beberapa media mungkin memilih untuk main "aman" dengan tidak terlalu vokal menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Kabut asapnya memang tebal, tapi kepentingan di belakangnya jauh lebih pekat dan sulit ditembus oleh kamera jurnalis.

Nasib Warga yang Terlupakan

Di saat kita di Jawa masih bisa asyik olahraga pagi di CFD, warga di Kalimantan harus berkutat dengan masker N95 yang sesak. Mereka merindukan matahari yang tidak tertutup asap. Dampaknya bukan cuma soal kesehatan, tapi juga ekonomi. Bandara tutup, pengiriman barang terhambat, dan anak-anak kehilangan waktu belajarnya. Rasa dianaktirikan ini makin nyata ketika suara mereka tidak menggema sampai ke istana lewat pemberitaan media.

Kita perlu sadar bahwa Kalimantan adalah bagian dari paru-paru dunia, dan yang lebih penting, mereka adalah bagian dari kita. Jangan sampai kita baru berteriak ketika asapnya sampai ke negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia dan bikin malu di kancah internasional. Seharusnya, rasa kemanusiaan kitalah yang bergerak lebih dulu, tanpa perlu nunggu viral atau nunggu teguran dari negara orang.

Sudah saatnya media kita berhenti menjadi sekadar "corong Jakarta" dan mulai benar-benar menjadi "suara rakyat Indonesia". Karena satu napas anak di Kalimantan yang tersengal karena asap, jauh lebih berharga daripada seribu gosip artis yang kita konsumsi setiap hari. Yuk, mulai sekarang kita kasih perhatian lebih buat isu-isu lingkungan di luar sana. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian di tengah kepungan asap yang membunuh perlahan.

Logo Radio
🔴 Radio Live