Ceritra
Ceritra Update

No-na Rilis HONK: Gebrakan Musik Baru yang Lebih Berwarna

Zaza - Tuesday, 11 August 2026 | 02:20 PM

Background
No-na Rilis HONK: Gebrakan Musik Baru yang Lebih Berwarna
(detik.com/)

No-na dan Ledakan Kreativitas di Album HONK: Saat Pop Gak Harus Selalu Jaim

Kalau kita bicara soal girl grup di Indonesia, mungkin yang terlintas di kepala adalah formasi rapi, koreografi sinkron yang bikin pusing, dan lagu-lagu cinta yang mendayu-dayu. Tapi, lupakan sejenak standar itu kalau kita sedang membicarakan No-na. Grup yang satu ini memang sejak awal sudah memposisikan diri di jalur yang berbeda—lebih indie, lebih berisik dalam artian positif, dan tentu saja, lebih autentik. Setelah sukses mencuri perhatian lewat "ROLLERBLADE" yang kental dengan nuansa nostalgia dan synth-pop manis, kini mereka kembali menggebrak lewat album terbaru bertajuk HONK.

Mendengarkan HONK itu rasanya seperti diajak naik roller coaster yang remnya sengaja dilepas sedikit. Ada rasa ngeri tapi nagih. Jika di album sebelumnya mereka terdengar lebih "smooth" dan retro, di album kali ini No-na seolah-olah berteriak, "Ini lho kami, dan kami nggak peduli kalau kalian merasa ini terlalu aneh." Jujurly, di tengah gempuran musik pop yang makin seragam karena tuntutan algoritma TikTok, keberanian No-na merilis sesuatu yang sekasar dan seberani HONK adalah sebuah oase yang sangat menyegarkan.

Evolusi Nada: Dari Retro-Pop ke Eksperimentasi yang "Centil"

Hal pertama yang bakal kamu sadari saat memutar track pertama di album HONK adalah palet suaranya. No-na masih mempertahankan elemen retro, tapi kali ini mereka tidak cuma main di wilayah aman pop 80-an. Ada sentuhan funk yang kental, bassline yang "ngedubrak", dan tentu saja penggunaan sound perkusi yang lebih organik. Nada-nada di album ini terasa lebih bertekstur. Kalau "ROLLERBLADE" adalah es krim vanilla yang lembut, maka HONK adalah permen asam yang meledak-ledak di mulut.

Nada yang mereka usung di album ini terasa sangat "urban". Bayangkan kamu lagi macet-macetan di tengah Jakarta, lalu tiba-tiba ada suara klakson yang nadanya malah enak buat dibuat goyang. Itulah vibes dari HONK. Mereka mengambil kebisingan kota, keresahan anak muda, lalu membungkusnya dengan melodi yang catchy namun tetap punya sisi eksperimental. Penggunaan brass section (alat musik tiup) di beberapa track memberikan kesan megah tapi tetap santai, menjauhkan mereka dari kesan "girl grup pabrikan" yang biasanya terlalu bergantung pada instrumen MIDI standar.

Kenapa "HONK" Terasa Begitu Unik?

Pertanyaan besarnya: apa yang membuat album ini beda dari rilisan grup lain, atau bahkan dari karya mereka sendiri sebelumnya? Jawabannya ada pada keberanian mereka untuk menjadi "berantakan" secara terukur. Di album ini, No-na berani mengeksplorasi vokal yang tidak melulu harus terdengar manis. Ada bagian-bagian di mana mereka bernyanyi dengan gaya bercakap-cakap (spoken word), ada teriakan spontan, bahkan ada harmoni yang sengaja dibuat agak "miring" untuk memberikan kesan mentah (raw).

Keunikan lainnya adalah liriknya. No-na tidak lagi bicara soal cinta monyet yang klise. Mereka bicara tentang eksistensi, tentang rasa tidak nyaman di keramaian, hingga soal merayakan kegagalan. Judul "HONK" sendiri seolah menjadi simbol—seperti suara klakson di tengah kemacetan, No-na ingin bilang kalau mereka ada di sini, ingin lewat, dan meminta perhatian tanpa harus memohon. Ini adalah bentuk kepercayaan diri yang tidak intimidatif, melainkan terasa seperti ajakan untuk menjadi diri sendiri tanpa batas.

Secara visual pun, album ini didukung oleh estetika yang sangat kuat. No-na mampu mengemas identitas visual mereka menjadi sesuatu yang sangat "Gen Z tapi dewasa". Tidak ada lagi kostum seragam yang kaku. Mereka tampil dengan gaya berpakaian yang lebih personal, seolah masing-masing personil adalah karakter utama dalam film indie yang berbeda-beda namun berada dalam satu universe yang sama.

Sentuhan Personal yang Bikin Nagih

Sebagai pendengar, kita bisa merasakan kalau album HONK ini dibuat dengan hati, bukan sekadar proyek kejar tayang. Setiap track punya ceritanya sendiri. Ada lagu yang membuat kita ingin berdansa di kamar sendirian, tapi ada juga lagu yang membuat kita melamun sambil melihat hujan dari balik jendela TransJakarta. Transisi antar lagunya pun sangat rapi, membuat album ini lebih enak dinikmati secara utuh dari awal sampai akhir, ketimbang didengarkan secara acak lewat playlist.

Gue secara pribadi merasa bahwa No-na berhasil membuktikan kalau menjadi "berbeda" itu nggak harus selalu berat atau susah dimengerti. Mereka tetap menyajikan musik pop, tapi pop yang punya otak dan punya nyawa. Mereka nggak berusaha jadi K-Pop, nggak berusaha jadi J-Pop, mereka cuma berusaha jadi No-na. Dan di industri musik yang sering kali memaksa artisnya jadi "orang lain" demi angka streaming, pilihan ini sungguh luar biasa keren.

Kesimpulan: Album Wajib Dengar Tahun Ini

Secara keseluruhan, HONK adalah bukti pendewasaan No-na yang sangat berhasil. Mereka berhasil keluar dari bayang-bayang suksesnya "ROLLERBLADE" tanpa harus meninggalkan akar mereka. Album ini punya karakter yang kuat, sound yang unik, dan energi yang menular. Kalau kamu sedang bosan dengan lagu-lagu yang itu-itu saja di radio atau chart top hits, cobalah kasih telinga kamu kesempatan untuk mendengarkan HONK.

Siapkan earphone terbaikmu, matikan notifikasi HP, dan biarkan No-na membawamu keliling kota dengan suara klakson mereka yang paling merdu. HONK bukan cuma sekadar album; ini adalah pernyataan sikap bahwa musik Indonesia masih punya banyak ruang untuk eksplorasi yang gila dan autentik. Jangan kaget kalau setelah dengerin satu album penuh, kamu bakal merasa jauh lebih bersemangat buat menghadapi hari, atau minimal, jadi lebih berani buat jadi versi dirimu yang paling "berisik".

Logo Radio
🔴 Radio Live