Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Rasa Takut Bisa Menumpul? Psikologi Warga yang Terbiasa dengan Bahaya Setiap Hari

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 12:00 PM

Background
Kenapa Rasa Takut Bisa Menumpul? Psikologi Warga yang Terbiasa dengan Bahaya Setiap Hari
Pasar Dupak Magersari (tatkala.co/Jaswan)

Halah, Sudah Biasa: Mengapa Rasa Takut Kita Bisa Menumpul di Tengah Bahaya

Bayangkan kamu sedang berdiri di pinggir jalan raya Jakarta yang sedang sibuk-sibuknya. Klakson bersahutan, asap knalpot mengepul, dan motor-motor melaju selap-selip seolah-olah mereka punya nyawa cadangan di kantong celana. Bagi turis yang baru pertama kali datang, pemandangan ini mungkin terasa seperti adegan film aksi yang sangat menegangkan. Jantung mereka mungkin berdegup kencang hanya dengan melihat cara orang menyeberang jalan yang cuma bermodalkan angkat tangan layaknya Magneto menghentikan peluru.

Tapi bagi kita, warga lokal yang sudah makan asam garam aspal jalanan, semua itu dianggap angin lalu. Kita bisa menyeberang sambil membalas pesan WhatsApp atau bahkan sambil menyeruput kopi saset di pinggir trotoar. Di titik inilah kita bertanya-tanya: ke mana perginya rasa takut itu? Kenapa sesuatu yang jelas-jelas mengancam nyawa bisa berubah menjadi rutinitas yang membosankan?

Sihir Bernama Habituasi

Dalam dunia psikologi, fenomena ini punya nama keren: habituasi. Sederhananya, habituasi adalah proses di mana otak kita mulai mengabaikan rangsangan yang muncul terus-menerus karena dianggap tidak lagi memberikan informasi baru yang penting. Bayangkan otak kita punya alarm internal bernama amigdala. Awalnya, amigdala ini akan berteriak "Bahaya! Lari!" saat kita melihat motor ngebut di trotoar. Namun, kalau setiap hari kita melihat hal yang sama dan ternyata kita tetap baik-baik saja, si amigdala ini bakal capek sendiri.

Dia akan mulai berpikir, "Ah, paling cuma lewat doang, nggak bakal nabrak kok." Akhirnya, volume alarmnya dikecilkan, bahkan dimatikan sama sekali. Inilah yang membuat rasa takut kita terasa menumpul. Kita bukan jadi kebal peluru, kita hanya jadi terbiasa dengan kemungkinan tertembak.

Normalisasi Risiko: Hidup di Atas "Bom Waktu"

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai normalisasi risiko. Ini sering terjadi pada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana atau lingkungan yang keras. Lihat saja kawan-kawan kita yang tinggal di lereng gunung berapi aktif atau di bantaran sungai yang langganan banjir setiap tahun. Awalnya, peringatan evakuasi mungkin membuat mereka panik luar biasa. Tapi setelah puluhan kali mendengar sirine yang sama, rasa takut itu bergeser menjadi perhitungan logistik.

"Ah, baru air semata kaki, belum perlu ngungsi," atau "Asap gunungnya masih putih, belum hitam, tenang saja." Kita mulai melakukan negosiasi dengan maut. Bahaya yang tadinya bersifat luar biasa (extraordinary) ditarik paksa masuk ke dalam kotak kewajaran (normality). Masalahnya, risiko itu sendiri sebenarnya tidak pernah berkurang, hanya persepsi kita saja yang sudah bergeser saking seringnya berinteraksi dengan bahaya tersebut.

Adaptasi atau Kelalaian?

Di satu sisi, kemampuan otak untuk menumpulkan rasa takut ini adalah mekanisme bertahan hidup yang luar biasa. Coba bayangkan kalau setiap detik kita terus-terusan merasa cemas karena polusi, kemacetan, atau ancaman kriminalitas di kota besar. Kita pasti bakal stres berat dan kena gangguan kecemasan dalam waktu singkat. Jadi, menumpulkan rasa takut adalah cara tubuh agar kita tetap bisa berfungsi secara sosial dan produktif di lingkungan yang sebenarnya kacau.

Namun, ada sisi gelapnya. Ketika rasa takut hilang sepenuhnya, kewaspadaan kita juga ikut merosot. Inilah yang sering memicu kecelakaan kerja atau kelalaian fatal. Banyak orang yang bekerja di ketinggian atau berurusan dengan listrik tegangan tinggi justru celaka karena mereka merasa sudah "terlalu ahli" dan "biasa saja" dengan risiko tersebut, sehingga mereka mulai mengabaikan prosedur keselamatan (SOP).

Budaya "Santuy" yang Berbahaya

Di Indonesia, kita punya budaya "santuy" yang luar biasa kuat. Budaya ini seringkali menjadi bumbu yang mempercepat proses normalisasi risiko. Ungkapan-ungkapan seperti "Belum waktunya mati," atau "Yang penting yakin," seringkali menjadi mantra sakti untuk menjustifikasi tindakan berbahaya. Kita melihat orang bonceng tiga tanpa helm, atau angkot yang ngetem di tikungan tajam, dan kita hanya membatin, "Namanya juga hidup di Indo."

Kolektifitas kita dalam menormalisasi risiko ini membuat standar keamanan kita seringkali berada di bawah rata-rata. Karena semua orang melakukannya, kita merasa hal itu benar. Ini adalah tekanan sosial yang secara tidak langsung memaksa kita untuk membuang rasa takut agar dianggap "berani" atau "tidak ribet." Padahal, rasa takut adalah sinyal evolusioner yang sudah ada sejak zaman purba untuk memastikan spesies manusia tidak punah karena konyol.

Mengembalikan "Dosis" Takut yang Sehat

Lalu, apakah kita harus hidup dalam ketakutan setiap hari? Tentu saja tidak. Yang kita butuhkan adalah dosis rasa takut yang sehat. Kita perlu menyadari bahwa rasa takut bukanlah musuh, melainkan kawan yang mengingatkan kita untuk tetap pakai sabuk pengaman, tetap cek kabel listrik yang terkelupas, dan tetap waspada saat pulang malam.

Menumpulnya rasa takut adalah proses alami, tapi membiarkannya hilang total adalah kecerobohan. Sesekali, kita perlu menepi sejenak dan melihat sekeliling kita dengan kacamata "orang asing." Bertanya pada diri sendiri: "Apakah yang saya lakukan ini benar-benar aman, atau saya hanya sudah terbiasa dengan bahayanya?" Karena pada akhirnya, keberanian sejati bukanlah tentang hilangnya rasa takut, melainkan tentang kesadaran penuh terhadap risiko dan tetap memilih untuk bertindak dengan penuh perhitungan.

Jadi, besok-besok kalau mau menyeberang jalan atau melakukan hal berisiko lainnya, jangan cuma modal "yakin." Ingatlah bahwa nyawa kita cuma satu, dan dia tidak punya tombol respawn seperti di video game.

Logo Radio
🔴 Radio Live