Ceritra
Ceritra Warga

Tahukah Kamu Foto Proklamasi Hampir Tak Pernah Ada? Ini Kisah di Baliknya

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 12:00 PM

Background
Tahukah Kamu Foto Proklamasi Hampir Tak Pernah Ada? Ini Kisah di Baliknya
Alex Mendur dan Frans Mendur (sastra-indonesia.com/sastra-indonesia.com)

Frans dan Alex Mendur: Duo Fotografer "Nekat" yang Menyelamatkan Bukti Indonesia Merdeka

Bayangkan sebuah pesta ulang tahun paling besar dalam sejarah sebuah bangsa, tapi hampir tidak ada dokumentasinya. Itulah yang nyaris terjadi pada 17 Agustus 1945. Di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, suasananya jauh dari kata mewah. Tidak ada panggung megah dengan tata lampu gemerlap, tidak ada barisan wartawan luar negeri dengan peralatan canggih, apalagi siaran langsung di YouTube atau TikTok. Yang ada hanyalah kerumunan warga yang berkumpul dengan rasa waswas sekaligus antusias, menyaksikan Soekarno membacakan secarik kertas yang kelak mengubah nasib jutaan orang.

Beruntung, di tengah ketegangan itu, ada seorang pria yang menenteng kamera Leica. Berkat keberaniannya, dunia punya bukti visual otentik tentang detik-detik lahirnya Republik Indonesia. Tanpa dia, kemerdekaan kita mungkin hanya akan dianggap mitos atau cerita mulut ke mulut tanpa bukti sejarah yang valid. Sosok itu adalah Frans Mendur, yang bersama kakaknya, Alex Mendur, menjadi "penjaga gerbang" memori bangsa.

Duo Minahasa di Pusaran Propaganda Jepang

Frans Mendur (lahir 1913) dan Alex Mendur (lahir 1907) adalah kakak beradik asal Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Mereka tumbuh dengan minat yang sama besar pada dunia fotografi. Sebelum peristiwa proklamasi, keduanya punya pekerjaan yang sebenarnya "berbahaya" secara politis. Mereka bekerja sebagai fotografer untuk Domei Tsushin, kantor berita milik pemerintah Jepang. Frans bahkan juga tercatat sebagai wartawan foto untuk koran Asia Raya.

Ada sisi ironis di sini: mereka digaji oleh sistem pendudukan Jepang, namun insting nasionalisme mereka justru membuat mereka menjadi kunci untuk meruntuhkan legitimasi penjajah tersebut. Mereka bekerja di bawah hidung tentara Dai Nippon, menunggu momen yang tepat untuk mengabadikan sesuatu yang paling dilarang oleh atasan mereka sendiri: kemerdekaan Indonesia.

Malam yang Penuh Kecurigaan

Informasi soal rencana pembacaan teks proklamasi tidak datang lewat grup WhatsApp, melainkan dari bisikan-bisikan rahasia. Alex mendengar kabar itu di kantor Domei, Pasar Baru, sementara Frans mendengarnya di kantor Asia Raya. Untuk memastikan kebenaran info tersebut, mereka nekat menuju rumah Soekarno pada malam 16 Agustus 1945.

Perjalanan malam itu penuh drama. Bayangkan, Jakarta saat itu masih di bawah jam malam yang ketat. Alex Mendur bahkan sempat terkena razia atau sweeping oleh tentara Jepang di tengah jalan. Kameranya hampir disita, menunjukkan betapa ketatnya pengawasan Jepang saat itu. Mereka tahu ada sesuatu yang besar sedang dipersiapkan, dan mereka tidak ingin satu frame foto pun bocor ke publik.

Hanya Tiga Kali Jepretan untuk Sejarah

Pada pagi harinya, 17 Agustus 1945, suasana di kediaman Soekarno semakin riuh. Frans bergerak lincah di antara kerumunan, mencari sudut terbaik agar momen ini terekam sempurna. Menariknya, dalam sebuah catatan sejarah, Frans mengaku sempat "terlena" oleh euforia. Saat massa berteriak "Merdeka!" dengan penuh emosi, dia ikut terbawa suasana sampai lupa memencet tombol rana kameranya.

Untungnya, dia segera sadar bahwa tugasnya bukan cuma bersorak, tapi merekam. Dia hanya menekan tombol rana kameranya sebanyak tiga kali. Tiga jepretan itu mengabadikan momen legendaris: Soekarno membacakan teks proklamasi, serta pengibaran bendera merah putih oleh Latief Hendradiningrat. Cuma tiga foto, tapi nilainya lebih dari seribu kata.

Aksi "Kucing-Kucingan" dengan Tentara Jepang

Setelah acara selesai, masalah sebenarnya baru dimulai. Jepang yang baru saja kalah perang setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki sedang dalam kondisi sensitif. Mereka tidak ingin ada kabar kemerdekaan yang bisa memancing kemarahan Sekutu. Maka, dimulailah perburuan terhadap negatif film tersebut.

Alex Mendur tidak beruntung. Dia tertangkap oleh tentara Jepang, dan seluruh negatif fotonya dirampas lalu dimusnahkan. Harapan satu-satunya ada pada Frans. Menyadari dirinya dalam bahaya, Frans melakukan langkah cerdik yang terdengar seperti adegan film mata-mata. Ada beberapa versi ceritanya: ada yang bilang dia menyembunyikan negatif film di kantor Asia Raya, tapi versi yang lebih populer menyebutkan bahwa istrinya, Djamilah, membantu mengubur gulungan film tersebut di bawah pohon di kebun belakang rumah mereka di kawasan Petojo.

Bagi Frans, taruhannya bukan lagi sekadar karier, tapi nyawa. Jika tentara Jepang menemukan film yang dikubur itu, habislah mereka. Namun, demi sejarah, risiko itu diambil tanpa ragu.

Operasi Senyap di Laboratorium Foto

Menyelamatkan negatif film hanyalah setengah dari perjuangan. Setengah sisanya adalah mencetaknya. Frans dan beberapa rekannya harus menyelinap di tengah kegelapan malam, melompati pagar dan memanjat pohon untuk masuk ke laboratorium foto kantor Domei. Mereka mencetak foto-foto itu secara sembunyi-sembunyi saat penjaga sedang lengah.

Hasilnya tidak bisa langsung terbit. Sensor Jepang masih sangat ketat. Baru pada 20 Februari 1946—tepat enam bulan setelah kejadian—foto proklamasi itu akhirnya muncul di Harian Merdeka. Dunia akhirnya tahu, lewat bukti visual yang tidak bisa dibantah, bahwa Indonesia benar-benar sudah merdeka. Foto Frans Mendur menjadi satu-satunya dokumentasi otentik yang kita miliki hingga saat ini.

Penjaga Sejarah yang Nyaris Terlupakan

Lucunya, meski jasanya sangat monumental, nama Mendur bersaudara sempat tenggelam di balik nama besar tokoh-tokoh politik lainnya. Memang benar, Frans Mendur akhirnya mendapatkan bintang kehormatan dari Presiden SBY di kemudian hari, tapi bagi sebagian besar anak muda sekarang, nama mereka mungkin terdengar asing.

Ini adalah refleksi kritis buat kita semua. Seringkali kita hanya memuja mereka yang berada di depan podium, tanpa menyadari ada orang-orang nekat di balik layar yang memastikan peristiwa itu tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Tanpa keberanian Alex dan kecerdikan Frans, mungkin kita sekarang hanya bisa membayangkan suasana 17 Agustus 1945 lewat lukisan atau reka adegan fiksi belaka.

Menjelang Hari Kemerdekaan, ada baiknya kita tidak hanya mengingat teks proklamasinya, tapi juga mengingat "klik" kamera Leica yang memastikan sejarah itu abadi. Warisan Mendur bersaudara bukan cuma lembaran kertas foto yang mulai menguning, tapi bukti bahwa keberanian bisa datang dari mana saja, bahkan dari balik sebuah lensa kamera.

Logo Radio
🔴 Radio Live