Kenapa Ada Orang yang Makan Banyak Tapi Tetap Kurus? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 12:30 PM


Si Tukang Makan Banyak tapi Tetap Kerempeng: Antara Anugerah, Genetik, dan Misteri Isi Perut
Mitos Cacingan dan Ketidakadilan Dunia Kuliner
Kita semua pasti punya minimal satu teman yang kalau diajak makan kapasitas lambungnya mirip lubang hitam. Pagi sarapan bubur dua porsi, siang hantam nasi Padang pakai rendang plus kikil, sorenya masih sanggup ngemil martabak manis, tapi pas nimbang badan, angkanya cuma geser dikit ke kanan—itu pun kalau timbangannya lagi sensitif. Sementara kita? Baru lewat di depan gerobak gorengan sambil menghirup aromanya saja, pipi rasanya sudah langsung melebar satu senti. Dunia ini memang kadang terasa zolim, ya?
Masyarakat kita punya sejuta teori buat fenomena ini. Paling klasik tentu saja tuduhan cacingan. Katanya, nutrisinya habis dimakan sama "penumpang gelap" di usus. Ada juga yang bilang itu faktor keturunan atau "bawaan orok" yang bikin badannya tetap setipis lidi. Kita sering dijejali rumus saklek kalau berat badan itu cuma soal CICO (Calories In, Calories Out). Kalau makan lebih banyak dari yang dibakar, ya jadi lemak. Tapi jujur saja, realitanya nggak sesederhana kalkulator matematika. Ada variabel-variabel gaib dalam biologi manusia yang bikin hitungan kalori masuk vs kalori keluar jadi jauh lebih kompleks dan kadang bikin pusing kepala.
Ectomorph dan Mesin Pembakar di Balik Kulit
Kalau kita bedah secara ilmiah tanpa bahasa yang bikin kening berkerut, fenomena ini biasanya berawal dari tipe tubuh. Dalam dunia somatotype, orang-orang "beruntung" ini biasanya masuk kategori ectomorph. Mereka punya kerangka tulang yang cenderung kecil dan metabolisme yang bekerja secepat motor balap di sirkuit Mandalika. Nah, di sinilah peran Basal Metabolic Rate (BMR) bermain. BMR itu ibarat mesin yang tetap menyala meski mobilnya lagi parkir. Orang-orang kerempeng ini secara alami punya BMR yang lebih tinggi; artinya, saat mereka tidur rebahan sambil scroll TikTok sekalipun, tubuh mereka membakar energi lebih banyak dibanding orang normal lainnya.
Bukan cuma itu, ada faktor rahasia bernama NEAT (Non-Exercise Activity Thermogenesis). Pernah nggak kalian perhatikan teman yang kurus itu biasanya nggak bisa diam? Entah kakinya goyang-goyang pas duduk, sering jalan mondar-mandir pas teleponan, atau gestur tangannya heboh banget pas cerita. Gerakan-gerakan nggak sadar ini ternyata bisa membakar ratusan kalori tambahan setiap harinya. Ditambah lagi dengan Thermic Effect of Food (TEF), di mana tubuh mereka mungkin menghabiskan energi lebih besar hanya untuk mengolah makanan yang baru saja ditelan. Jadi, energi itu nggak sempat mampir jadi cadangan lemak karena sudah habis buat proses internal yang "boros" energi.
Hormon yang Ngegas dan Bakteri Usus yang Pilih-Pilih
Selain faktor "mesin" tadi, ada juga kendali dari pusat komando alias hormon. Salah satu yang paling berpengaruh adalah hormon tiroid. Kalau tiroid seseorang terlalu aktif—kondisi medisnya disebut hipertiroidisme—metabolisme tubuh bakal melaju kencang tanpa rem. Semua yang dimakan langsung dibakar jadi panas tubuh, makanya orang dengan kondisi ini sering merasa kegerahan dan sulit gemuk. Tapi ingat, kalau kurusnya disertai jantung berdebar atau tangan gemetar, itu bukan lagi anugerah, melainkan tanda harus segera ke dokter.
Hal yang nggak kalah menarik dan lagi jadi primadona riset kesehatan adalah mikrobioma usus. Di dalam perut kita ada triliunan bakteri yang menentukan nasib makanan kita. Penelitian terbaru menunjukkan kalau komposisi bakteri orang kurus dan orang gemuk itu beda banget. Orang yang sulit gemuk biasanya punya populasi bakteri tertentu yang sangat efisien dalam membuang energi, bukannya menyimpannya. Jadi, meskipun mereka makan sepiring nasi goreng yang berminyak, bakteri-bakteri ini seolah-olah "menolak" kalori tersebut untuk diserap sepenuhnya ke dalam darah. Jadi, ya, mereka memang punya filter internal yang lebih ketat daripada satpam kelab malam paling elit di Jakarta.
Bahaya Skinny Fat dan Realita di Balik Timbangan
Tapi tunggu dulu, sebelum kita makin iri dan dengki, ada satu konsep yang perlu dipahami: kurus bukan berarti otomatis sehat. Ada istilah kerennya "Skinny Fat" atau dalam bahasa medis disebut TOFI (Thin Outside, Fat Inside). Orang-orang ini terlihat langsing dari luar, tapi kalau di-scan, lemaknya malah numpuk di sekitar organ dalam (visceral fat). Ini justru lebih bahaya karena nggak kelihatan mata tapi bisa memicu kolesterol tinggi atau diabetes di masa depan. Jadi, makan sembarangan tanpa naik berat badan itu sebenarnya adalah pedang bermata dua.
Pada akhirnya, berat badan kita itu hasil kolaborasi epik antara genetik, tarian hormon, dan kerumunan bakteri di usus. Bukan cuma soal niat kuat diet atau seberapa besar porsi makan kita. Jadi buat kalian yang merasa "dikutuk" jadi kurus, nikmatilah rejeki itu dengan tetap olahraga biar nggak cuma jadi tulang dibalut kulit. Dan buat kita yang nafas saja sudah nambah berat badan, ya sudahlah, mungkin memang bakat kita adalah menjadi cadangan energi berjalan. Yang penting sehat, karena standar keren sekarang bukan cuma soal angka di timbangan, tapi seberapa bugar kita menjalani hari tanpa gampang ngos-ngosan.
Next News

Bukan Sekadar Bedak, Makeup Adalah Rekaman Sejarah
10 days ago

Mendengarkan Musik Saat Berkendara: Bikin Fokus atau Justru Bahaya?
13 days ago

Transformasi Artis: Tinggalkan Panggung Demi Kursi Politik
12 days ago

Waspada Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan dan Cat Mobil
13 days ago

Dari War Tiket ke OOTD: Rahasia Dibalik Ritual Konser Masa Kini
13 days ago

Mahalnya Harga di Balik Wajah yang "Nggak Pakai Apa-Apa"
13 days ago

Akademik vs Praktisi: Rahasia Memilih Sekolah yang Tepat
16 days ago

Alasan Kenapa Makanan Bioskop Lebih Mahal Daripada Tiket Film Yang Dijual
18 days ago

Kenapa Film Horor Selalu Laris di Indonesia? Membedah Fenomena Genre Paling Konsisten
18 days ago

Kenapa Abu Vulkanik Sangat Berbahaya Bagi Mesin Pesawat?
18 days ago


