Ceritra
Ceritra Warga

Target 5.000, Tercapai 10.000 dalam 7 Jam, Kisah Viral di Balik Gerakan Wenanam Jerhemy Owen

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 12:10 PM

Background
Target 5.000, Tercapai 10.000 dalam 7 Jam, Kisah Viral di Balik Gerakan Wenanam Jerhemy Owen
Jerhemy Owen, influencer muda berumur 23 tahun (@jerhemy_owen/@jerhemy_owen)

Kado Ulang Tahun Paling Hijau: Saat 10 Ribu Pohon Tumbuh dari Modal Jempol Netizen

Bayangkan Anda baru saja menginjak usia 23 tahun. Di usia segitu, kebanyakan orang mungkin bakal sibuk bikin reservasi kafe hits, party bareng circle terdekat, atau minimal pamer kado mewah di Instagram Story. Tapi, Jerhemy Owen punya cara yang agak beda buat merayakan pertambahan usianya pada 29 April 2025 kemarin. Alih-alih meniup lilin di atas kue mahal, ia justru meniupkan semangat baru lewat sebuah gerakan digital bertajuk #WeNanamPohon.

Awalnya, target Owen terlihat cukup masuk akal, bahkan mungkin terdengar "aman" untuk influencer sekaliber dia: 5.000 pohon. Namun, siapa sangka kalau kekuatan jempol netizen Indonesia yang sering dianggap cuma jago julid itu bisa berubah jadi tenaga penghijauan yang masif? Dalam hitungan jam, angka itu meledak, melampaui ekspektasi siapa pun, termasuk Owen sendiri.

Anatomi 7 Jam yang Mengubah Segalanya

Semuanya bermula pada 30 April 2025, sehari setelah hari ulang tahunnya. Owen mengunggah sebuah video pendek di akun TikTok pribadinya. Mekanismenya sederhana banget, nggak pakai ribet, dan yang paling penting: nggak perlu keluar duit. Owen menjanjikan bahwa setiap 15 kali konten #WeNanamPohon dibagikan (share), itu bakal dikonversi menjadi satu bibit pohon yang akan ditanam secara nyata.

Strategi ini ternyata adalah "cheat code" viralitas. Gak butuh waktu lama, algoritma TikTok langsung menangkap sinyal positif. Video itu masuk FYP (For Your Page) secara ugal-ugalan. Bayangkan, dalam waktu kurang dari tujuh jam sejak video diunggah, jumlah share sudah menyentuh angka puluhan ribu. Target awal yang cuma 5.000 pohon pun langsung dipukul rata. Karena antusiasme yang nggak masuk akal ini, Owen dan tim akhirnya menaikkan komitmen mereka menjadi 10.000 pohon. Sebuah kado ulang tahun yang barangkali bikin pinggang pegal saat menanamnya nanti, tapi jelas bikin hati puas.

Kenapa Bisa Sesukses Itu? Bukan Cuma Faktor Hoki

Kalau kita bedah sedikit, kesuksesan kampanye #WeNanamPohon ini bukan cuma karena Owen ganteng atau punya banyak followers. Ada strategi psikologi media sosial yang bermain cantik di sini. Pertama adalah faktor "low barrier to entry". Penonton nggak perlu donasi lewat transfer bank yang ribet atau harus turun ke jalan panas-panasan. Cukup klik tombol share, dan boom, mereka sudah merasa berkontribusi bagi bumi.

Kedua, ada rasa memiliki secara kolektif (collective ownership). Setiap orang yang membagikan video itu merasa seperti sedang menanam selembar daun secara virtual. Efek snowball-nya pun gila-gilaan; semakin banyak yang share, semakin luas jangkauannya, dan semakin banyak pula orang yang merasa "ketinggalan" kalau nggak ikut ambil bagian. Ini adalah bentuk aktivisme digital yang paling pas buat generasi yang katanya "mageran" tapi sebenarnya peduli lingkungan.

Bukan Sekadar Konten, Ada Ekosistem di Belakangnya

Owen sadar betul bahwa viralitas itu seperti kembang api: terang sesaat lalu hilang. Supaya kampanye ini nggak cuma jadi gimmick konten ulang tahun, ia menggandeng pemain-pemain besar. Ada Mantappu Corp yang mengelola manajemennya, WWF Indonesia sebagai pakar lingkungan, hingga dukungan resmi dari Kementerian Kehutanan dan TikTok Indonesia.

Bahkan, platform Jejakin dilibatkan sebagai mitra teknologi untuk memantau realisasi penanaman. Kehadiran figur publik dan pejabat, termasuk Menteri Kehutanan yang ikut memberikan dukungan, memberikan legitimasi bahwa ini bukan sekadar janji manis influencer. Ini menunjukkan kalau mau bikin perubahan besar, kolaborasi itu harga mati. Viralitas adalah bensinnya, tapi ekosistem pendukung inilah mesin yang menjalankan kendaraannya sampai ke tujuan.

Dari Layar HP Turun ke Lumpur Kampung Cibulao

Janji digital akhirnya ditebus dengan peluh nyata. Lokasi penanaman dipilih bukan tanpa alasan, yaitu di Kampung Cibulao, kawasan hulu Sungai Ciliwung, Puncak, Bogor. Daerah ini punya sejarah penting; bekas perkebunan kopi yang sempat terdampak longsor parah. Jadi, penanaman 10.000 pohon di sini bukan sekadar simbolis biar kelihatan hijau di kamera, tapi benar-benar upaya mitigasi bencana bagi warga di hilir, termasuk warga Jakarta yang tiap tahun langganan banjir.

Suasana di lapangan terasa sangat kontras dengan kemilau layar smartphone. Owen, para relawan, petani kopi lokal, hingga beberapa influencer lain turun langsung membawa cangkul. Tidak ada baju rapi atau sepatu bersih; yang ada hanya sepatu bot yang terbenam lumpur dan senyum lebar saat bibit pohon masuk ke dalam tanah. Di sini, batas antara "dunia maya" dan "dunia nyata" benar-benar lebur.

Makna di Balik Angka: Gen Z dan Masa Depan Bumi

Pencapaian 10.000 pohon ini sebenarnya mengirimkan sinyal kuat bagi industri konten di Indonesia. Selama ini, konten edukasi atau lingkungan sering dianggap membosankan dan kalah saing dengan konten prank atau drama settingan. Namun, kampanye #WeNanamPohon membuktikan bahwa jika dikemas dengan cara yang partisipatif dan tulus, isu lingkungan punya daya ledak yang luar biasa.

Ini juga menjadi tamparan halus bagi mereka yang sering mencibir Gen Z hanya bisa aktivisme di kolom komentar. Ternyata, kalau diarahkan dengan strategi yang tepat, energi digital anak muda bisa dikonversi menjadi aksi nyata yang berdampak jangka panjang. Pohon-pohon yang ditanam Owen dan netizen mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk besar, tapi benih kesadaran lingkungan sudah tumbuh saat itu juga di benak jutaan penontonnya.

Pelajaran dari Kampanye Wenanam

Keberhasilan Jerhemy Owen lewat #WeNanamPohon adalah bukti sahih bahwa media sosial bisa menjadi alat mobilisasi sosial yang sangat efektif. Pelajaran pentingnya adalah: niat yang tulus harus dibarengi dengan strategi yang cerdas. Kita nggak bisa lagi cuma menyuruh orang "peduli lingkungan" tanpa memberi mereka cara yang mudah untuk memulai.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah: model kampanye seperti ini bakal direplikasi untuk isu apa lagi? Apakah masalah sampah plastik, pendidikan di daerah terpencil, atau isu kesehatan mental bisa digerakkan dengan cara yang sama? Jika satu momen ulang tahun saja bisa melahirkan 10.000 pohon, bayangkan apa yang bisa dilakukan kalau seluruh influencer Indonesia punya visi yang sama. Mungkin, bumi kita nggak bakal se-merana itu di masa depan.

Logo Radio
🔴 Radio Live