Thrifting: Tren Fashion Berkelanjutan yang Digandrungi Para Gen-Z
Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 12:10 PM


Berburu Harta Karun di Tumpukan Baju Bekas: Mengapa Gen-Z Gila Thrifting?
Bayangkan kamu sedang berada di tengah riuhnya Pasar Senen atau menyelinap di antara gang sempit Pasar Baru. Aromanya khas: perpaduan antara bau pembersih pakaian kimia, debu tipis dari karung-karung besar, dan sedikit aroma apek yang entah kenapa justru memicu adrenalin. Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin menyesakkan. Tapi bagi anak muda zaman sekarang, alias Gen-Z, tumpukan karung baju bekas atau yang kerennya disebut "bal-balan" adalah tambang emas yang siap digali.
Thrifting bukan lagi sekadar alternatif buat mereka yang berkantong cekak. Budaya ini sudah bergeser menjadi gaya hidup, sebuah pernyataan politik, dan tentu saja, urusan estetika yang nggak ada lawan. Kalau dulu pakai baju bekas mungkin bikin orang malu atau dicap nggak mampu, sekarang justru sebaliknya. Pakai jaket vintage tahun 90-an yang cuma ada satu di dunia justru bikin level "keren" kamu naik berlipat-lipat di mata tongkrongan.
Lantas, apa sih yang sebenarnya bikin generasi yang lahir di era digital ini begitu terobsesi dengan barang-barang dari masa lalu?
Eksklusivitas yang "Nggak Kaleng-Kaleng"
Satu hal yang paling dibenci Gen-Z adalah tampil kembaran sama orang asing di mal. Bayangkan kamu sudah dandan rapi, pakai baju yang baru dibeli dari brand fast fashion ternama, eh pas sampai di kafe, orang di meja sebelah pakai baju yang sama persis. Rasanya seperti kehilangan jati diri dalam sekejap. Sakitnya nggak berdarah, tapi malu.
Nah, thrifting menawarkan solusi buat masalah eksistensial ini. Barang vintage itu sifatnya "one of a kind". Kemungkinan kamu ketemu orang yang pakai kaos grafis band obscure tahun 80-an dengan tingkat kepudaran warna yang sama itu hampir nol persen. Ada rasa bangga tersendiri ketika ditanya, "Eh, beli di mana?" dan kamu bisa jawab dengan santai, "Oh, ini dapet pas nge-thrift di pasar loak." Jawaban itu punya vibe yang jauh lebih berkelas daripada sekadar menyebutkan nama brand yang cabangnya ada di tiap sudut kota.
Dopamine Hit dari Proses Berburu
Belanja di mal itu membosankan. Kamu datang, pilih ukuran, bayar, selesai. Tapi thrifting? Itu adalah olahraga jantung yang penuh kejutan. Ada kepuasan tersendiri saat jemari kamu membolak-balik gantungan baju yang padatnya minta ampun, lalu tiba-tiba tanganmu menyentuh bahan denim berkualitas atau melihat kerah jaket kulit yang masih kokoh. Menemukan harta karun di tengah tumpukan sampah adalah sumber dopamin yang nyata.
Istilahnya adalah "the thrill of the hunt". Kadang kamu pulang dengan tangan hampa, tapi sekali kamu dapat jaket harrington original atau sweater rajut dengan pola unik, rasanya seperti baru saja memenangkan lotre. Ini bukan cuma soal barangnya, tapi soal cerita dan usaha di baliknya.
Tameng Etis di Tengah Isu Lingkungan
Gen-Z adalah generasi yang paling vokal soal perubahan iklim. Mereka tahu betul kalau industri fast fashion adalah salah satu penyumbang polusi terbesar di bumi. Air limbah pewarna tekstil yang merusak sungai dan tumpukan sampah baju yang nggak bisa terurai adalah mimpi buruk kolektif.
Dengan melakukan thrifting, mereka merasa telah berkontribusi dalam memutus rantai limbah tersebut. Membeli baju bekas berarti memperpanjang umur pakai sebuah barang. Ini adalah bentuk protes diam-diam terhadap budaya konsumerisme yang serba cepat dan sekali pakai. Thrifting bikin mereka bisa tetap tampil stylish tanpa harus merasa bersalah karena sudah merusak planet. Istilahnya, "conscious fashion". Meski ya, kita tahu ada juga yang cuma ikut-ikutan biar kelihatan peduli lingkungan di media sosial, tapi setidaknya langkahnya sudah ke arah yang benar.
Nostalgia Era yang Bahkan Belum Mereka Alami
Ada fenomena menarik bernama "anemoia", yaitu perasaan rindu pada masa yang belum pernah kita jalani. Gen-Z sangat terobsesi dengan estetika tahun 90-an dan awal 2000-an (Y2K). Lewat film, musik, dan foto-foto lama di Pinterest, mereka merasa era itu jauh lebih autentik dan berwarna dibandingkan era sekarang yang serba digital dan minimalis serba putih.
Koleksi vintage adalah jembatan fisik menuju masa lalu itu. Memakai kemeja flanel kebesaran ala grunge atau celana corduroy memberikan sensasi nostalgia yang hangat. Ada kesan "old soul" yang ingin ditampilkan. Mereka ingin merasai tekstur masa lalu yang katanya lebih jujur dan nggak penuh kepura-puraan algoritma.
Cuan di Balik Barang Bekas
Jangan lupakan aspek ekonomi. Selain murah untuk dipakai sendiri, thrifting adalah ladang bisnis yang menggiurkan. Banyak anak muda yang memulai karier mereka sebagai "curated thrift seller". Mereka pergi ke pasar loak, mencari barang bermerek atau yang punya estetika tinggi, mencucinya sampai bersih dan harum, memotretnya dengan gaya ala katalog profesional, lalu menjualnya kembali di Instagram atau platform marketplace dengan harga berkali lipat.
Bagi mereka, thrifting bukan cuma soal hobi, tapi soal ketajaman mata melihat peluang. Mereka tahu mana tag baju yang asli dari tahun 70-an dan mana yang barang tiruan. Pengetahuan ini jadi modal berharga yang nggak diajarkan di sekolah formal.
Kesimpulan: Lebih Dari Sekadar Tren
Pada akhirnya, kegandrungan Gen-Z terhadap budaya thrifting dan koleksi vintage adalah ramuan dari berbagai keresahan: mulai dari kebutuhan untuk tampil beda, kepedulian pada bumi, hingga urusan isi dompet. Ini adalah cara mereka mendefinisikan ulang apa itu "mewah". Mewah bukan lagi soal harga mahal di label toko, melainkan soal cerita, sejarah, dan karakter yang ada pada sebuah pakaian.
Jadi, jangan heran kalau kamu melihat anak muda sekarang bangga banget pakai baju yang mungkin dulu pernah dipakai kakek-kakek di suatu tempat. Karena bagi mereka, baju itu bukan sekadar kain bekas, melainkan sebuah pernyataan bahwa mereka menghargai proses, keberagaman, dan masa depan bumi yang lebih baik. Dan jujur saja, siapa sih yang nggak mau tampil keren tanpa harus bikin dompet menangis?
Next News

Bukan Disney, Inilah Lagu Mocca yang Viral di Sekolah Luar Negeri
in 4 hours

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Anak Muda Hobi Kerja di Kafe
in 6 hours

Target 5.000, Tercapai 10.000 dalam 7 Jam, Kisah Viral di Balik Gerakan Wenanam Jerhemy Owen
in 34 minutes

Kenapa Lagu-lagu Galau Selalu Laris Manis? Psikologi di Balik Musik Patah Hati
2 hours ago

Tahukah Kamu Foto Proklamasi Hampir Tak Pernah Ada? Ini Kisah di Baliknya
in 24 minutes

Bukan Magnet, Ini Alasan Asli Pesawat Tak Lewat di Atas Ka'bah
in 24 minutes

Jangan Langsung Buka Sosmed Lakukan Ini Biar Pagi Kamu Lebih Happy
11 hours ago

Kenapa Rasa Takut Bisa Menumpul? Psikologi Warga yang Terbiasa dengan Bahaya Setiap Hari
in 24 minutes

Kenapa Ada Orang yang Makan Banyak Tapi Tetap Kurus? Ini Penjelasan Ilmiahnya
in an hour

PNS Bukan Lagi 'Kerja Impian': Membedah Pergeseran Prioritas Karier Gen Z
2 hours ago




