Ceritra
Ceritra Warga

Gercep! Pemkot Surabaya Tindak Parkir Liar Usai Aduan Ojol

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 10:00 AM

Background
Gercep! Pemkot Surabaya Tindak Parkir Liar Usai Aduan Ojol
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Menyikapi Pungli daerah Trunojoyo (sapanusa.id/sapanusa.id)

Suroboyo Sat-Set: Cerita Driver Ojol yang Bikin Jukir Nakal di Trunojoyo Kena Mental

Di tengah teriknya cuaca Agustus 2026, ada satu hal yang lebih panas dari sekadar suhu udara: isu parkir liar yang nggak ada habisnya. Tapi kali ini, ceritanya beda. Ini bukan lagi soal warga yang pasrah dipalak, melainkan soal keberanian seorang driver ojek online (ojol) dan gercepnya Pemerintah Kota Surabaya merespons aduan lewat kanal 'Lapor Cak Eri'.

Mari kita bayangkan sejenak suasana di Jalan Trunojoyo. Kawasan yang dikenal sebagai pusat distro, kafe-kafe estetik, dan tempat nongkrong anak muda ini memang selalu ramai. Di mana ada keramaian, di situ biasanya muncul "penguasa lahan" tidak resmi alias juru parkir liar. Masalah klasik, kan? Kita sudah masuk tahun 2026, era di mana teknologi seharusnya sudah membereskan urusan recehan begini, tapi ternyata masih ada saja oknum yang hobi main kucing-kucingan.

Tragedi Uang Tunai di Era Digital

Kejadiannya bermula ketika seorang driver ojol—sebut saja namanya Mas Bambang demi privasi—sedang menjemput pesanan pelanggan di salah satu gerai makanan di Jalan Trunojoyo. Setelah memarkir motornya sebentar, ia disamperin oleh seorang pria berompi kusam yang nggak jelas asal-usulnya. Tanpa karcis resmi, tanpa senyum, si jukir ini langsung menagih biaya parkir secara tunai. Padahal, Mas Bambang tahu persis kalau Pemkot Surabaya sudah lama menggembar-gemborkan sistem parkir non-tunai atau digital sebagai standar pelayanan kota.

Biasanya, orang bakal malas ribut. Alibi "cuma dua ribu perak" seringkali jadi pemenang ketimbang harus debat panjang di bawah terik matahari. Tapi Mas Bambang ini beda. Dia merasa ada yang nggak beres. Bukan soal nominalnya, tapi soal prinsip. Di Surabaya yang sudah semakin modern ini, praktik pungli sekecil apa pun rasanya jadi noda yang bikin mata perih. Apalagi instruksi Wali Kota Eri Cahyadi sudah jelas: kalau nggak ada karcis dan nggak bisa bayar pakai QRIS, ya jangan dibayar.

Tanpa banyak cincong di lokasi—karena berdebat dengan jukir liar itu seringkali sebanding dengan menjelaskan fisika kuantum ke kucing—Mas Bambang memilih jalur elegan. Dia merogoh ponselnya, membuka layanan hotline Lapor Cak Eri, dan mengirimkan aduan lengkap dengan lokasi serta ciri-ciri jukir tersebut. Gak pakai lama, laporan itu langsung meluncur ke pusat komando Pemkot Surabaya.

Hotline yang Bukan Sekadar Pajangan

Banyak dari kita yang mungkin skeptis dengan hotline pengaduan pemerintah. Seringkali muncul asumsi kalau laporan warga cuma masuk ke kotak masuk dan berdebu tanpa tindak lanjut. Tapi, peristiwa di Agustus 2026 ini membuktikan kalau sistem Lapor Cak Eri sudah mengalami peningkatan level yang signifikan. Responsnya bukan lagi hitungan hari, tapi hitungan jam—bahkan menit.

Hanya selang beberapa waktu setelah laporan Mas Bambang masuk, tim dari Dinas Perhubungan (Dishub) bersama jajaran Satpol PP Surabaya langsung meluncur ke lokasi di Jalan Trunojoyo. Mereka nggak datang untuk sekadar survei, tapi langsung melakukan penindakan di tempat. Si jukir yang tadi merasa jadi raja kecil di pinggir trotoar langsung terlihat ciut saat petugas berseragam menanyakan surat tugas dan ketersediaan mesin bayar elektronik.

Gerak cepat alias "sat-set" ini yang bikin warga Surabaya merasa punya sandaran. Pemerintah Kota Surabaya seolah ingin menegaskan bahwa mereka nggak main-main dengan janji digitalisasi dan pemberantasan pungli. Respons kilat ini adalah sebuah flexing positif yang menunjukkan kalau birokrasi kita bisa banget diajak lari kencang kalau memang niat.

Mengapa Kita Masih Harus Peduli Soal Parkir?

Mungkin ada yang membatin, "Cuma masalah jukir liar aja kok sampai segininya?" Eits, jangan salah. Parkir liar itu hulu dari banyak masalah di kota besar. Mulai dari kemacetan karena parkir yang memakan badan jalan, kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD), sampai menciptakan rasa tidak aman bagi warga. Bayangkan kalau ribuan titik parkir di Surabaya dikelola secara liar, berapa banyak potensi uang yang seharusnya bisa buat bangun taman atau sekolah, malah masuk ke kantong pribadi oknum?

Bagi anak muda Surabaya, tindakan Mas Bambang ini adalah bentuk nyata dari civic engagement. Kita sering teriak-teriak pengen kota yang bagus, tapi kadang malas buat lapor kalau ada yang nggak beres di depan mata. Mas Bambang mengajarkan kalau jadi warga negara yang baik itu nggak harus jadi politisi atau aktivis besar. Cukup dengan jadi "cepuh" yang cerdas lewat jalur resmi pemerintah.

Selain itu, langkah Pemkot Surabaya menindak jukir di Trunojoyo ini memberikan pesan moral yang kuat buat para pelaku pungli lainnya: "Jangan macam-macam, warga Surabaya sekarang sudah melek teknologi dan punya jalur langsung ke Wali Kota." Ini adalah bentuk edukasi publik yang sangat efektif. Tidak perlu baliho besar-besar, cukup dengan aksi nyata di lapangan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Menuju Surabaya yang Lebih Mbois

Keberhasilan penertiban di Jalan Trunojoyo ini diharapkan bukan cuma jadi kejadian sekali lewat atau sekadar pencitraan sesaat. Harapannya, ini jadi standar baru bagi seluruh wilayah di Surabaya. Dari wilayah Surabaya Barat yang elit sampai gang-gang sempit di Surabaya Utara, rasa aman dari tarikan uang parkir ilegal harus bisa dirasakan semua orang.

Ke depannya, kita sebagai warga Surabaya juga harus mendukung sistem parkir digital ini. Jangan malah kita sendiri yang manja dan malas scan QRIS, lalu milih kasih uang tunai karena dianggap lebih praktis. Perubahan itu butuh kerja sama dua arah. Pemerintah menyediakan sistem yang mumpuni, warga juga harus mau menyesuaikan diri dengan cara-cara baru yang lebih transparan.

Akhir kata, apa yang dilakukan Mas Bambang si driver ojol dan tim Pemkot Surabaya adalah kolaborasi yang mbois banget. Di bawah kepemimpinan Cak Eri, Surabaya sepertinya sedang berusaha keras membuktikan kalau kota ini bukan cuma besar secara luas wilayah, tapi juga besar dalam hal integritas dan kepedulian terhadap hal-hal kecil yang menyentuh harian warga. Semoga saja, ke depannya nggak ada lagi cerita jukir liar yang bikin muka kecut saat kita lagi asyik nongkrong di Jalan Trunojoyo atau di sudut kota mana pun. Surabaya sudah saatnya bebas dari segala bentuk pungli, demi kenyamanan bersama dan masa depan kota yang lebih cerah. Gak bahaya ta? Jelas nggak, kalau semuanya taat aturan!

Logo Radio
🔴 Radio Live