Ceritra
Ceritra Update

Surabaya Gempar: Dua Oknum Pemkot Resmi Diberhentikan

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 01:00 PM

Background
Surabaya Gempar: Dua Oknum Pemkot Resmi Diberhentikan
Oknum Sedang di Sidang Mengenai Modus Penerimaan Pekerjaan di Pemkot Surabaya (b-news.com/b-news.com)

Drama di Balai Kota: Ketika 'Main Belakang' Berujung Surat Pemecatan

Surabaya itu kota yang panas. Bukan cuma soal suhu udaranya yang sering bikin dahi berkeringat meski sudah berteduh di bawah pohon tabebuya, tapi juga soal dinamika di dalam gedung megah Balai Kota. Belakangan ini, suhu politik dan birokrasi di Kota Pahlawan kembali mendidih. Bukan karena ada demo besar-besaran, melainkan karena kabar tentang dua oknum pegawai Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang resmi didepak dari kursinya alias dipecat.

Kabar ini bukan sekadar gosip warung kopi yang lewat begitu saja. Ini adalah bukti nyata kalau Wali Kota Eri Cahyadi sepertinya sudah habis kesabaran dengan tingkah laku bawahannya yang masih saja "main belakang". Di tengah upaya keras membangun citra Surabaya yang transparan dan serba digital, keberadaan oknum-oknum ini ibarat setetes tinta dalam segelas susu. Sedikit, tapi cukup buat bikin satu kota geleng-geleng kepala.

Modus Lama di Era yang Baru

Kalau kita bicara soal alasan pemecatan, sebenarnya polanya klasik banget. Masalahnya nggak jauh-jauh dari urusan perut dan penyalahgunaan wewenang. Dua oknum ini kabarnya terlibat dalam praktik pungutan liar atau pungli yang cukup bikin elus dada. Bayangkan saja, di tengah susahnya mencari pekerjaan dan beratnya beban ekonomi saat ini, masih ada saja orang yang tega memanfaatkan celah jabatan untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Modus yang dijalankan pun konon berkaitan dengan janji-janji manis. Ada yang menjanjikan posisi pekerjaan, ada juga yang main mata dalam urusan perizinan. Istilahnya, "kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?". Pola pikir purba semacam inilah yang sedang berusaha dikikis habis oleh Cak Eri, sapaan akrab sang Wali Kota. Beliau sering bilang kalau pelayanan publik itu harusnya cepat, tepat, dan tanpa "biaya tambahan" di bawah meja.

Tapi ya gitu, yang namanya godaan duit emang kadang lebih kuat daripada sumpah jabatan. Mereka mungkin merasa aman karena merasa punya "pelindung" atau berpikir aksinya nggak bakal terendus. Padahal, di zaman sekarang, tembok saja bisa bicara lewat media sosial atau kanal pengaduan warga yang makin canggih.

Ketegasan yang Bukan Sekadar Gimik

Langkah pemecatan ini tentu bukan diambil dalam semalam. Ada proses panjang, mulai dari pemeriksaan di Inspektorat sampai verifikasi bukti-bukti yang ada. Eri Cahyadi seolah ingin mengirim pesan kuat: "Jangan main-main sama saya, dan jangan main-main sama warga Surabaya."

Kita sering melihat pemimpin yang cuma berani gertak sambal. Marah-marah di depan kamera, tapi setelah itu kasusnya menguap begitu saja. Nah, kasus dua oknum di Pemkot Surabaya ini menunjukkan kalau sanksi administratif itu nyata adanya. Tidak ada lagi kata kompromi untuk mereka yang berani mencoreng integritas korps pegawai negeri.

Sebagai warga biasa, melihat ada pejabat atau pegawai yang dipecat karena korupsi atau pungli itu rasanya seperti menang lotre tipis-tipis. Ada rasa puas karena keadilan akhirnya bekerja. Kita sudah bosan dengan narasi "oknum" yang selalu jadi tameng setiap kali ada borok birokrasi yang terbongkar. Kali ini, oknum tersebut benar-benar harus angkat kaki dan meninggalkan seragam kebanggaannya.

Dampak Sosial: Antara Kasihan dan Syukuri

Kalau kita mau sedikit melipir ke sisi manusiawi, pemecatan tentu membawa dampak besar bagi yang bersangkutan. Kehilangan pekerjaan, nama baik tercoreng, dan tentu saja sanksi sosial dari tetangga kanan-kiri. Tapi, apakah kita harus kasihan? Tunggu dulu. Mari kita lihat dari sudut pandang korban yang diperas atau warga yang haknya diserobot oleh ulah mereka.

  • Pertama: Kepercayaan publik itu mahal harganya. Sekali dirusak oleh oknum, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangunnya kembali.
  • Kedua: Praktik pungli menciptakan ketidakadilan sistemik. Orang yang punya kompetensi kalah sama orang yang punya duit buat nyogok. Ini yang bikin mentalitas bangsa jadi rusak.
  • Ketiga: Tindakan tegas ini adalah bentuk edukasi bagi ASN lainnya agar tidak mencoba-coba meniru langkah serupa.

Jadi, kalau ditanya pilih kasihan sama oknum atau kasihan sama sistem yang dirusak, jawabannya sudah jelas. Surabaya butuh orang-orang yang mau kerja keras, bukan orang yang cuma mau cari "sampingan" dari keringat rakyat.

Sebuah Refleksi untuk Masa Depan

Kejadian ini seharusnya jadi alarm keras buat semua perangkat daerah di Surabaya. Di era keterbukaan informasi, ruang untuk bersembunyi di balik birokrasi yang gelap itu makin sempit. Warga Surabaya itu kritis. Mereka punya mata dan telinga di mana-mana. Sekali saja ada yang merasa dirugikan oleh layanan publik, laporannya bisa langsung viral dalam hitungan jam.

Harapannya, pemecatan dua oknum ini bukan akhir dari cerita, melainkan awal dari pembersihan besar-besaran. Kita nggak ingin ini cuma jadi seremoni sesaat biar dianggap tegas. Konsistensi adalah kunci. Jangan sampai hari ini tegas, besok lembek lagi karena yang melanggar adalah "orang dekat" atau punya koneksi kuat.

Untuk kita para warga, kejadian ini juga jadi pengingat. Jangan pernah mau diajak main belakang. Jangan mau menyuap demi mempercepat urusan. Karena kalau tidak ada yang menyuap, tidak akan ada yang menerima suap. Kita juga punya peran besar untuk memutus rantai setan ini. Laporkan kalau ada yang mencurigakan, karena suara kita adalah pengawas terbaik bagi jalannya pemerintahan.

Akhir kata, selamat tinggal buat dua oknum tersebut. Semoga ini jadi pelajaran berharga bagi kalian, dan jadi babak baru yang lebih bersih bagi Pemkot Surabaya. Kota Pahlawan memang harus diisi oleh orang-orang berjiwa pahlawan yang siap melayani, bukan mentalitas makelar yang siap memalak. Surabaya, ayo terus berbenah!

Logo Radio
🔴 Radio Live