Ceritra
Ceritra Update

Nonton Film atau Ikut Ujian? Fenomena 'Polisi Film' di Era Media Sosial

Shannon - Monday, 06 July 2026 | 11:00 AM

Background
Nonton Film atau Ikut Ujian? Fenomena 'Polisi Film' di Era Media Sosial
(machronicle.com/)

Skena Cinephile dan Munculnya Polisi Film: Antara Cinta Sinema atau Sekadar Flexing Intelek?

Pernahkah kamu lagi asyik nongkrong, lalu tiba-tiba ada teman yang bertanya, "Eh, udah nonton film terbaru garapan Wes Anderson belum? Visualnya itu lho, simetris banget, palet warnanya bener-bener berasa kayak lukisan era antah-berantah." Kalau kamu jawab belum atau malah bilang lebih suka nonton film Marvel terbaru, biasanya suasana langsung berubah agak canggung. Temanmu tadi mungkin bakal menatapmu dengan tatapan penuh simpati, seolah-olah kamu baru saja mengaku kalau kamu nggak tahu cara pakai sendok dan garpu.

Selamat datang di dunia cinephile, sebuah subkultur yang sekarang makin menjamur berkat kemudahan akses streaming dan aplikasi review film macam Letterboxd. Menjadi seorang pecinta film kelas berat atau cinephile dulunya mungkin identik dengan orang-orang berkacamata tebal yang hobi mendekam di perpustakaan film atau rajin datang ke festival film indie yang tiketnya susah dicari. Tapi sekarang, siapa pun yang punya akun Netflix dan langganan MUBI bisa merasa dirinya adalah seorang kritikus ulung.

Masalahnya, garis batas antara "pecinta film yang antusias" dan "polisi film yang menyebalkan" itu tipisnya minta ampun. Lebih tipis dari plot film horor murahan yang cuma ngandelin jumpscare setiap lima menit sekali.

Evolusi Cinephile: Dari Kolektor DVD ke Pemuja Letterboxd

Dulu, menjadi cinephile itu butuh usaha ekstra. Kamu harus berburu DVD impor, langganan majalah film fisik, atau rela naik bus antar kota cuma buat nonton film pendek di pusat kebudayaan asing. Sekarang? Cukup buka smartphone, semua ada di genggaman. Fenomena ini melahirkan gelombang baru kritikus amatir. Munculnya platform media sosial khusus film membuat semua orang merasa punya hak bahkan kewajiban untuk memberikan penilaian atas setiap frame yang mereka tonton.

Sebenarnya nggak ada yang salah dengan hal ini. Semakin banyak orang yang peduli dengan kualitas film, industri tentu akan semakin sehat. Penonton jadi lebih kritis, nggak gampang dikasih tontonan sampah. Tapi, ada satu penyakit kronis yang ikut terbawa: elitisme. Banyak cinephile baru yang merasa derajatnya lebih tinggi hanya karena mereka sudah menonton seluruh filmografi Akira Kurosawa atau bisa menjelaskan teori auteur sambil merem.

Di sinilah istilah "Polisi Film" lahir. Mereka adalah orang-orang yang merasa punya otoritas untuk menentukan mana film yang "layak" disebut seni dan mana yang cuma "sampah komersial". Kalau kamu bilang kamu suka film yang lagi box office, mereka akan langsung mengeluarkan jurus andalannya: "Ah, itu kan cuma produk industri, nggak ada jiwanya. Cobalah nonton film drama Iran berdurasi tiga jam tanpa dialog, itu baru sinema!"

Ketika Review Film Menjadi Senjata Gatekeeping

Polisi film ini seringkali bertindak sebagai penjaga gerbang atau gatekeeper. Mereka menciptakan standar yang sangat tinggi dan kaku tentang apa yang boleh dan tidak boleh dinikmati. Padahal, esensi dari menonton film adalah pengalaman personal. Apa yang menyentuh hati seseorang belum tentu memberikan efek yang sama bagi orang lain. Namun bagi polisi film, selera adalah masalah benar atau salah.

Lihat saja di kolom komentar media sosial atau forum film. Ketika ada orang yang memuji sebuah film populer, polisi film akan datang dengan komentar sinis yang intinya merendahkan selera si pembuat postingan. Mereka seolah ingin bilang bahwa kalau kamu nggak paham sinematografi, teknik lighting, atau metafora dalam sebuah film, kamu nggak berhak memberikan opini. Padahal, hey, menonton itu kan hiburan, bukan ujian akhir semester mata kuliah komunikasi visual!

Fenomena ini bikin banyak orang jadi takut untuk sekadar berpendapat. Banyak penonton awam yang merasa terintimidasi untuk bilang "film ini bagus" hanya karena takut diserang oleh para "ahli" dadakan ini. Akibatnya, diskusi film yang seharusnya seru dan inklusif malah jadi eksklusif dan bikin gerah.

Kritikus vs Polisi Film: Apa Bedanya?

Kita perlu membedakan antara kritikus film yang berdedikasi dengan polisi film yang cuma pengen flexing. Seorang kritikus film biasanya punya dasar ilmu yang kuat. Mereka membedah film bukan untuk menghina selera orang, tapi untuk memberi perspektif baru. Mereka menjelaskan kenapa sebuah adegan berhasil atau gagal, bagaimana naskah bekerja, dan apa pesan yang ingin disampaikan sutradara. Kritik yang bagus justru bikin kita makin penasaran buat nonton, bukan malah bikin malas.

Sebaliknya, polisi film lebih fokus pada "siapa yang paling tahu". Mereka lebih mementingkan status sosial sebagai orang yang berintelek tinggi daripada isi film itu sendiri. Mereka sering menggunakan istilah-istilah teknis yang rumit cuma buat bikin lawan bicaranya bungkam. Istilahnya, mereka lebih cinta pada label "cinephile"-nya daripada filmnya itu sendiri.

Di Indonesia, fenomena ini terasa banget pas lagi ada film lokal yang viral. Biasanya langsung muncul kubu-kubuan. Ada kubu yang memuja-muja karena merasa ini adalah kebangkitan sinema nasional, dan ada kubu polisi film yang kerjaannya cuma nyari-nyari kesalahan teknis atau membanding-bandingkannya dengan film luar negeri demi terlihat paling objektif. Padahal, konteks produksi dan budaya itu sangat berpengaruh pada hasil akhir sebuah karya.

Menikmati Sinema Tanpa Perlu Menghakimi

Pada akhirnya, film adalah jendela dunia. Kita menonton untuk merasakan emosi yang nggak kita rasakan di kehidupan nyata, entah itu tawa, tangis, atau rasa takut yang bikin bulu kuduk berdiri. Menjadi cinephile seharusnya adalah tentang merayakan keberagaman cerita, bukan tentang membatasi diri pada satu genre atau satu gaya penyutradaraan saja.

Nggak ada salahnya kok kalau kamu suka film dokumenter sejarah yang berat di hari Senin, tapi di hari Sabtu kamu pengen nonton film aksi yang banyak ledakannya cuma buat ngelepas penat. Nggak ada yang melarang kamu buat nangis nonton drama Korea setelah sebelumnya kamu baru saja selesai marathon film-filmnya Christopher Nolan. Selera itu cair, dan itu yang bikin diskusi tentang film jadi selalu menarik.

Buat kamu yang merasa dirinya cinephile, mungkin ada baiknya kita sedikit melonggarkan sabuk "polisi" kita. Alih-alih merendahkan orang yang seleranya beda, kenapa nggak kita ajak mereka buat kenalan sama film-film favorit kita dengan cara yang lebih asyik? Ceritakan kenapa film itu spesial buat kamu, bukan kenapa film pilihan mereka itu buruk.

Dunia ini sudah cukup penuh dengan aturan dan batasan. Jangan sampai aktivitas menonton film yang seharusnya jadi ruang bebas malah jadi tempat penuh penghakiman. Jadi, habis ini mau nonton apa? Mau film yang dapet standing ovation sepuluh menit di Cannes atau film horor lokal yang judulnya aneh-aneh? Terserah kamu. Selama kamu menikmatinya, itu sudah lebih dari cukup.

Karena pada akhirnya, film terbaik bukanlah film yang punya rating paling tinggi di IMDb, melainkan film yang berhasil meninggalkan kesan di hati penontonnya, nggak peduli seberapa "receh" atau "berat" film tersebut di mata orang lain. Jadi, simpan dulu lencana polisi filmmu, mari kita ambil popcorn, dan nikmati saja apa yang ada di layar.

Logo Radio
🔴 Radio Live