Ceritra
Ceritra Kota

Bahasa Suroboyoan: Kasar atau Justru Tanda Keakraban?

Shannon - Monday, 06 July 2026 | 06:00 PM

Background
Bahasa Suroboyoan: Kasar atau Justru Tanda Keakraban?
(NIXX/)

Misuh Itu Seni: Menelisik Bahasa Suroboyoan yang Katanya Kasar tapi Bikin Kangen

Bayangkan kamu sedang asyik nongkrong di sebuah warkop pinggir jalan di Surabaya. Tiba-tiba, dari meja sebelah terdengar suara lantang, "Cuk, nang endi ae kon? Suwe gak ketok!" Bukannya marah atau tersinggung karena dipanggil dengan kata makian paling legendaris di Jawa Timur, orang yang disapa justru nyengir lebar dan membalas dengan nada yang tak kalah tinggi. Pemandangan ini mungkin bikin orang luar Surabaya terutama mereka yang terbiasa dengan kehalusan tata krama ala Jogja atau Solo bakal mengelus dada sambil istighfar pelan.

Ada sebuah stigma yang menempel sangat erat pada arek-arek Surabaya: bahasanya kasar. Banyak yang menganggap dialek Suroboyoan adalah bentuk degradasi dari bahasa Jawa yang luhur. Tapi, apakah benar sekadar kasar? Atau jangan-jangan, di balik rentetan misuh alias makian itu, tersimpan sebuah frekuensi persaudaraan yang sangat dalam?

Bukan Sekadar Kata, Tapi Sebuah Koma

Mari kita bedah kata "Jancok" atau versi singkatnya "Cuk". Secara etimologis, kalau kamu cari di kamus atau sejarah lisan, maknanya memang negatif. Namun, di Surabaya, kata ini sudah mengalami pergeseran fungsi linguistik yang luar biasa. Bagi Arek Suroboyo, "Cuk" itu multifungsi. Ia bisa jadi kata seru saat kaget, ungkapan kekaguman, tanda protes, hingga yang paling sering: sebagai tanda keakraban.

Dalam sosiolinguistik, ada istilah yang namanya solidarity marker. Nah, bahasa Suroboyoan adalah juara di bidang ini. Ketika seseorang sudah berani memaki kamu dengan santai tanpa ada niat berkelahi, itu tandanya kamu sudah dianggap "sedulur" atau keluarga. Penghalang formalitas yang kaku sudah runtuh. Di Surabaya, kalau kamu masih bicara sangat halus dan formal dengan teman sebaya, itu malah mencurigakan. Jangan-jangan kamu lagi mau pinjam duit atau ada maunya saja.

Egalitarianisme di Atas Segalanya

Kenapa sih bahasa Suroboyoan bisa sekasar itu kalau dibandingin sama dialek Jawa Tengah? Jawabannya ada pada sejarah dan letak geografis. Surabaya adalah kota pelabuhan. Sejak dulu, kota ini adalah titik temu berbagai macam etnis, mulai dari Madura, Arab, Tionghoa, hingga pedagang luar negeri. Di pelabuhan, nggak ada waktu buat muter-muter pakai bahasa kromo inggil yang berlapis-lapis. Semuanya harus serba cepat, lugas, dan blak-blakan.

Budaya pesisir ini melahirkan jiwa egaliter. Di Surabaya, nggak peduli kamu anak pejabat atau anak tukang becak, kalau lagi nongkrong di warkop yang sama, ya derajatnya sama. Bahasa Suroboyoan menabrak batasan-batasan kelas sosial itu. Dialek ini adalah bahasa perlawanan terhadap feodalisme yang mengagung-agungkan kasta dalam berkomunikasi. Makanya, gaya bicaranya keras dan volumenya tinggi, seolah-olah setiap kalimat adalah pernyataan keberanian.

Seni Membaca Konteks

Meski terkenal dengan makiannya, bukan berarti Arek Suroboyo nggak tahu sopan santun. Di sinilah letak uniknya. Orang Surabaya punya "radar" konteks yang sangat tajam. Kamu akan jarang mendengar seorang pemuda misuh-misuh di depan orang tua atau guru. Mereka tahu kapan harus menekan pedal gas dan kapan harus mengerem.

  • Konteks Keakraban: Digunakan saat bersama teman dekat (konco plek). Di sini, kata-kata kasar berfungsi sebagai bumbu yang bikin suasana makin gayeng atau meriah.
  • Konteks Kekaguman: "Cuk, mbois temen mobilmu!" (Gila, keren banget mobilmu!). Di sini, makian berubah jadi pujian setinggi langit.
  • Konteks Kemarahan: Nah, ini baru fungsi aslinya. Bedanya ada pada intonasi dan sorot mata. Kalau sudah pakai urat leher, ya itu tandanya memang lagi emosi.

Jadi, bagi orang luar kota, jangan langsung baper atau tersinggung. Lihat dulu situasinya. Kalau mereka mengatakannya sambil tertawa dan merangkul pundakmu, itu adalah pelukan dalam bentuk kata-kata.

Kejujuran yang Terasa Kasar

Ada sebuah kejujuran yang jujur saja, kadang menyakitkan dalam bahasa Suroboyoan. Orang Surabaya itu paling nggak suka itungan atau bermuka dua. Kalau nggak suka, ya bilang nggak suka. Kalau jelek, ya dibilang elek. Tanpa tedeng aling-aling. Gaya bicara yang straight to the point ini sering dianggap kasar oleh budaya yang lebih mengedepankan "pemanis" dalam berkomunikasi.

Tapi coba deh pikir, bukankah lebih enak berurusan dengan orang yang apa adanya daripada orang yang bahasanya halus tapi di belakang menusuk? Inilah yang membuat banyak perantau di Surabaya merasa betah. Ada rasa aman karena tahu bahwa apa yang diucapkan oleh lawan bicara adalah apa yang benar-benar ada di pikirannya.

Penutup: Identitas yang Tak Lekang Waktu

Pada akhirnya, bahasa Suroboyoan bukan soal kasar atau tidak sopan. Ia adalah identitas, sebuah kebanggaan kolektif yang mempersatukan warganya. Di tengah gempuran bahasa gaul Jakarta atau bahasa Inggris yang makin mendominasi, dialek Suroboyoan tetap bertahan dengan gagah berani di gang-gang sempit hingga gedung perkantoran mewah di Surabaya.

Menganggap Suroboyoan itu kasar hanyalah melihat dari permukaan saja. Ibarat buah durian, kulitnya memang berduri dan tajam, aromanya menyengat, tapi isinya manis dan bikin ketagihan bagi mereka yang sudah paham rasanya. Jadi, kalau lain kali kamu main ke Surabaya dan ada yang menyapamu dengan kata sakti itu, jangan buru-buru panggil polisi. Cukup senyum, dan balas dengan, "Yo opo kabare, Rek?"

Logo Radio
🔴 Radio Live