Ceritra
Ceritra Kota

Beli Atau Pinjam? Menelusuri Ruang Literasi Favorit Anak Surabaya

Shannon - Tuesday, 02 June 2026 | 01:00 PM

Background
Beli Atau Pinjam? Menelusuri Ruang Literasi Favorit Anak Surabaya
(Deepublish/)

Antara Wangi Gramedia dan Dinginnya AC Balai Pemuda: Melacak Jejak Literasi di Kota Pahlawan

Surabaya itu, kalau boleh jujur, panasnya seringkali nggak masuk akal. Di tengah aspal yang seolah-olah bisa buat goreng kerupuk dan deru knalpot di sepanjang Jalan Ahmad Yani, warga kota ini selalu butuh tempat pelarian. Bukan cuma mall buat cuci mata, tapi tempat yang "adem" secara suhu dan juga adem buat pikiran. Pilihannya biasanya jatuh ke dua kutub literasi: Gramedia yang legendaris atau perpustakaan umum yang sekarang makin estetik.

Kalau kita bicara soal Gramedia di Surabaya, rasanya kayak membicarakan sahabat lama yang selalu ada tapi jarang dipuji. Dari Gramedia Manyar yang legendaris, Gramedia Expo yang luasnya minta ampun, sampai yang terselip di sudut-sudut mall besar kayak Tunjungan Plaza atau Pakuwon Mall. Buat anak Surabaya, Gramedia bukan sekadar toko buku. Ini adalah tempat window shopping paling aman kalau lagi bokek tapi pengen kelihatan intelek.

Gramedia: Ritual Bau Kertas Baru dan Godaan Alat Tulis

Ada sensasi yang nggak bisa digantikan saat kita melangkah masuk ke Gramedia. Wangi kertas baru yang bercampur dengan pendingin ruangan itu punya efek relaksasi instan. Jujur saja, berapa banyak dari kita yang niatnya cuma mau cari buku referensi tugas akhir, eh malah berakhir di pojokan komik atau malah bengong di depan rak alat tulis bermerek yang harganya kadang nggak masuk akal buat sebuah pulpen?

Gramedia di Surabaya punya "vibe" yang beda-beda. Kalau kamu ke Gramedia Basuki Rahmat, suasananya lebih tenang dan agak formal, cocok buat kamu yang emang niat berburu buku serius. Tapi kalau sudah masuk ke Gramedia Tunjungan Plaza, wah, itu sih namanya "wisata literasi". Kamu bakal ketemu gerombolan anak sekolah yang lagi baca komik gratisan di lantai (meskipun sudah dilarang mas-mas petugasnya), sampai mbak-mbak kantoran yang lagi nyari buku self-improvement biar nggak burnout sama kerjaan.

Masalahnya cuma satu: harga buku makin ke sini makin bikin dompet menangis. Buku impor atau novel terjemahan terbaru sekarang sudah di angka seratus ribuan ke atas. Di sinilah dilema muncul. Mau beli tapi sayang uangnya, nggak dibeli tapi penasaran sama isinya. Akhirnya, banyak dari kita yang cuma "numpang baca" daftar isinya doang, terus pulang dengan perasaan hampa atau paling banter cuma beli penghapus karena nggak enak keluar dengan tangan kosong.

Perpustakaan Umum Surabaya: Transformasi dari 'Gudang' Jadi 'Basecamp'

Nah, kalau dompet lagi nggak kompromi tapi haus asupan bacaan, Surabaya punya solusinya: Perpustakaan Umum. Dulu, bayangan kita soal perpustakaan daerah itu pasti tempatnya suram, bau apek, dan pustakawannya galak kayak penjaga gerbang neraka. Tapi tolong, buang jauh-jauh stigma itu kalau kamu di Surabaya.

Coba deh main ke Perpustakaan Umum Kota Surabaya yang ada di kawasan Balai Pemuda. Itu tempat sudah kayak kafe-kafe mahal di Jakarta Selatan, bedanya di sini gratis dan nggak perlu pesan kopi buat dapat duduk. Sejak Alun-alun Surabaya diresmikan, perpustakaan ini jadi primadona. Tempatnya bersih banget, kursinya empuk, dan yang paling penting: AC-nya dinginnya stabil! Ini adalah penyelamat nyawa paling hakiki buat mahasiswa yang kosannya nggak ada kipas angin apalagi AC.

Melihat anak-anak muda Surabaya sekarang nongkrong di perpustakaan itu rasanya adem di hati. Ada yang beneran baca, ada yang lagi nugas pakai laptop sambil memanfaatkan Wi-Fi gratis (kita semua tahu ini niat utamanya), sampai ada yang cuma pengen healing dari hiruk pikuk jalanan Gubernur Suryo. Perpustakaan di Rungkut juga nggak kalah keren. Koleksinya lumayan lengkap, dari buku masak sampai literatur teknik yang bikin pusing tujuh keliling.

Dilema Si Pembaca: Beli atau Pinjam?

Sebenarnya ada perdebatan kecil di kalangan pecinta buku di Surabaya. Pilih Gramedia yang bukunya up-to-date tapi bayar, atau Perpustakaan Umum yang gratis tapi kadang bukunya sudah agak "berumur" atau antrean pinjamnya sepanjang Jembatan Suramadu?

Menurut observasi saya yang sering mondar-mandir di kedua tempat ini, keduanya punya fungsi sosial yang berbeda. Gramedia itu kayak bioskop; kamu ke sana buat menikmati yang terbaru dan punya rasa kepemilikan. Ada kebanggaan tersendiri bisa memajang buku dengan cover cantik di rak buku kamar sendiri. Sementara itu, perpustakaan umum itu kayak taman kota; tempat berbagi, tempat komunal, di mana ilmu pengetahuan nggak dibatasi oleh saldo di rekening bank.

Yang unik dari Surabaya adalah bagaimana pemerintah kotanya cukup niat mengelola literasi. Nggak cuma di pusat kota, perpustakaan-perpustakaan kecil atau Taman Baca Masyarakat (TBM) tersebar sampai ke tingkat RW. Meskipun mungkin koleksinya nggak se-wah Gramedia, keberadaan mereka penting banget buat adik-adik kita yang jauh dari pusat perbelanjaan.

Kesimpulan: Mana yang Lebih Asyik?

Jadi, mending ke mana? Kalau kamu punya uang lebih dan pengen manjain diri dengan aroma plastik buku yang baru disobek, Gramedia adalah jawabannya. Nggak ada yang bisa ngalahin perasaan puas saat dapet bookmark lucu dari kasir Gramedia. Tapi, kalau kamu lagi pengen suasana baru, pengen nugas dengan tenang tanpa rasa bersalah karena nggak jajan, atau sekadar pengen lihat betapa kerennya fasilitas publik di kota ini, larilah ke Perpustakaan Balai Pemuda.

Surabaya mungkin kota industri, kota jasa, dan kota yang super sibuk. Tapi di sela-sela beton dan kemacetannya, keberadaan Gramedia dan perpustakaan umum ini adalah oase. Keduanya membuktikan kalau orang Surabaya itu nggak cuma jago makan penyetan dan teriak "Cuk", tapi juga punya sisi melankolis dan haus akan ilmu. Jadi, sudah baca buku apa hari ini, Rek?

Logo Radio
🔴 Radio Live