Surabaya Makin Cantik: Apakah Sudah Nyaman untuk Jalan Kaki?
Shannon - Thursday, 09 July 2026 | 05:00 PM


Surabaya: Kota yang Katanya Ramah Pejalan Kaki, Tapi Kok Masih Bikin Keringat Dingin?
Ngomongin Surabaya itu nggak jauh-jauh dari dua hal: hawa panasnya yang sering dibilang punya "dua matahari" dan trotoarnya yang belakangan makin estetik. Kalau kamu main ke daerah Tunjungan atau Darmo pas sore hari, rasanya emang kayak lagi di luar negeri. Lampu-lampu ikonik, bangku taman yang rapi, sampai pohon Tabebuya yang kalau lagi musim mekar bikin kita berasa lagi syuting drakor di Busan. Tapi, pertanyaannya muncul ke permukaan: apakah Surabaya bener-bener sudah jadi kota yang walkable? Atau jangan-jangan, kita cuma dikasih "pemanis" di jalur-jalur protokol doang?
Jujur aja, kalau dibandingin sama sepuluh atau lima belas tahun lalu, kemajuan trotoar di Surabaya itu gila-gilaan. Zaman dulu, trotoar itu fungsinya cuma dua: kalau nggak jadi tempat parkir motor, ya jadi tempat sampah liar. Sekarang, kita harus angkat topi buat pemerintah kota yang sukses nyulap banyak titik jadi jalur pedestarian yang lebar dan nyaman. Jalan Tunjungan sekarang jadi ruang publik yang hidup banget. Orang-orang jalan kaki dari satu kafe ke kafe lain tanpa takut keserempet spion bus kota. Vibes-nya asik, anak muda nongkrong, musisi jalanan dapet panggung, dan ekonomi muter. Perfect, kan?
Tapi ya gitu, masalahnya Surabaya itu luas, bukan cuma sepanjang jalan Tunjungan atau depan Balai Kota doang. Begitu kamu melipir sedikit ke arah pinggiran atau masuk ke kawasan padat penduduk, narasi "kota ramah pejalan kaki" ini langsung berasa kayak ghosting. Sering banget kita nemu trotoar yang tiba-tiba putus di tengah jalan, seolah-olah perencana kotanya bilang, "Oke, sampai sini aja ya usahanya, sisanya silakan berjuang sendiri bareng knalpot motor." Belum lagi kalau trotoarnya berubah fungsi jadi "jalur alternatif" buat ojek online yang lagi ngejar rating pas macet. Kan ya bikin emosi.
PR Besar Bernama Kontinuitas dan Peneduh
Kalau ditanya gimana caranya nge-improve trotoar Surabaya biar nggak cuma menang di konten Instagram doang, jawabannya adalah kontinuitas. Masalah utama pejalan kaki di Surabaya itu bukan soal lebar trotoarnya aja, tapi soal nyambung apa nggak. Percuma trotoar selebar lapangan bola kalau ujungnya buntu karena ada tiang listrik gede di tengah-tengah, atau malah berubah jadi got terbuka. Jalan kaki itu sebuah perjalanan, bukan sekadar spot foto. Integrasi antar jalur ini yang harus dikejar. Kita pengennya bisa jalan kaki dari stasiun atau halte bus sampai ke tujuan akhir tanpa harus turun ke aspal dan bertaruh nyawa.
Terus, jangan lupain musuh terbesar semua orang Surabaya: teriknya matahari. Jalan kaki di Surabaya jam 12 siang itu bukan olahraga, tapi simulasi dibakar. Nah, di sinilah pentingnya shading atau peneduh alami. Pohon Tabebuya emang cantik kalau lagi musimnya, tapi kalau lagi rontok, rindangnya kurang dapet. Kita butuh lebih banyak pohon dengan tajuk lebar yang bisa nutupin jalur pejalan kaki. Kalau perlu, di beberapa titik yang emang nggak memungkinkan ditanem pohon, kasih kanopi atau desain arsitektur yang bisa kasih bayangan. Bikin orang nggak ngerasa "mager" buat jalan kaki karena takut kulitnya berubah warna jadi lebih eksotis dalam waktu lima menit.
Jangan Biarkan Pedestrian Jadi Anak Tiri
Selain soal fisik, keamanan juga jadi poin krusial. Surabaya butuh lebih banyak bollard atau pembatas trotoar yang bener-bener kuat. Fungsinya jelas: biar motor nggak seenaknya naik ke trotoar. Sering kali kita lihat pejalan kaki malah yang harus ngalah sama motor yang lewat di atas trotoar. Ini kan aneh? Logikanya kebalik. Trotoar itu hak mutlak pejalan kaki, bukan lahan ekspansi buat kendaraan bermotor atau bahkan lapak jualan yang nutup seluruh akses jalan. Penertiban ini harus dibarengi dengan solusi buat para pedagang juga, biar nggak main kucing-kucingan terus.
Terakhir, aksesibilitas buat temen-temen disabilitas juga harus diperhatiin banget. Guiding block atau ubin kuning yang ada di trotoar jangan cuma dijadiin hiasan. Kadang kita nemu ubin itu jalurnya malah nabrak pohon atau tiang listrik. Itu kan bahaya banget buat saudara kita yang tunanetra. Desain yang inklusif itu kunci kalau Surabaya emang pengen dibilang kota kelas dunia. Kota yang hebat itu bukan yang punya jalan tol paling banyak, tapi kota yang paling nyaman buat orang yang nggak punya kendaraan pribadi.
Kesimpulannya, Surabaya emang udah ada di jalur yang bener, tapi belum sampai di garis finish. Kita udah punya modal trotoar yang cantik di pusat kota, tinggal gimana caranya standar kualitas itu dibawa ke seluruh penjuru kota. Bukan cuma buat pamer ke wisatawan, tapi buat kenyamanan warganya sendiri. Bayangin kalau Surabaya bisa sejuk karena rimbun pohon dan jalannya nyambung ke mana-mana, pasti tingkat stres warga juga turun. Jadi, buat para pemangku kebijakan, ayo dong, bikin kita makin betah jalan kaki. Biar istilah "dua matahari" di Surabaya bisa dilawan sama ademnya trotoar kita sendiri.
Next News

Menanti Langit Bersih: Kapan Kekusutan Kabel di Langit Kota Hilang?
in an hour

Bahasa Suroboyoan: Kasar atau Justru Tanda Keakraban?
3 days ago

Rahasia Daya Tahan Ikan Sapu-Sapu di Sungai Surabaya
9 days ago

Kaget! Ternyata Bandara Juanda Bukan Milik Kota Surabaya
13 days ago

Menjelajahi Sudut Terangker Surabaya yang Melegenda Sejak Dulu
21 days ago

Cari Oleh-oleh Surabaya? Ini Daftar Jajanan yang Wajib Dibeli
22 days ago

Dibuang Hari Ini, Bisa Sampai Laut Besok: Surabaya Jadi Pilot Project Pengurangan Sampah Plastik
a month ago

Beli Atau Pinjam? Menelusuri Ruang Literasi Favorit Anak Surabaya
a month ago

Rek! Ini Lho Alasan Kenapa Surabaya Ulang Tahun Tiap 31 Mei.
a month ago

Ibukota Boleh Jakarta, Tapi Gudang Hits Tetap Jawa Timur: Menelusuri Jejak Dewa 19 hingga Letto
a month ago






