Lebih dari Sekadar Liburan, Ini Wajah Baru Healing Gen Z
Shannon - Monday, 18 May 2026 | 01:00 PM


Hobi Baru Gen Z: Dari Mendaki Puncak Sampai Nyemplung Canyoneering, Demi Konten atau Waras?
Kalau kita scroll TikTok atau Instagram sekarang, pemandangannya sudah bukan lagi kafe estetik atau pamer outfit di mal. Sekarang, timeline kita penuh dengan kabut tipis, tenda warna-warni, dan orang-orang yang badannya basah kuyup di sela-sela tebing batu. Istilah "healing" yang dulu cuma sekadar kata ganti liburan, sekarang sudah naik level. Gen Z nggak cuma mau duduk diam di pinggir pantai; mereka mau yang lebih ekstrem, lebih capek, dan tentu saja, lebih picture-worthy.
Fenomena ini menarik banget buat dibahas. Dulu, naik gunung atau kegiatan alam bebas identik dengan mahasiswa pecinta alam yang penampilannya dekil, pakai tas carrier segede gaban, dan jarang mandi. Tapi sekarang? Mendaki gunung sudah jadi gaya hidup yang sangat stylish. Coba lihat di basecamp pendakian, rata-rata anak mudanya pakai jaket gore-tex mahal, sepatu hiking yang harganya bisa buat cicilan motor, sampai kacamata hitam yang bikin mereka lebih mirip model katalog outdoor daripada pendaki yang mau bertarung sama hipotermia.
Gorpcore dan Alasan di Balik "Naik Gunung"
Jujurly, tren ini didukung banget sama yang namanya gaya busana Gorpcore. Itu lho, tren pakai baju outdoor buat kegiatan sehari-hari. Karena baju-bajunya sudah keren, sekalian saja kan dibawa ke habitat aslinya? Tapi lebih dari sekadar fashion, Gen Z mendaki karena butuh pelarian dari hiruk-pikuk notifikasi Slack atau grup WhatsApp kantor yang nggak ada habisnya. Mendaki gunung itu semacam meditasi, tapi meditasinya sambil bawa beban berat dan napas ngos-ngosan.
Ada kepuasan tersendiri pas sampai di puncak dan melihat sunrise. Di momen itu, masalah hidup kayaknya jadi sekecil semut di atas batu. Meskipun ya, setelah turun gunung, badan pegal-pegal selama seminggu itu nyata adanya. Tapi demi "core memory" dan stok konten buat sebulan ke depan, rasa capek itu kayaknya terbayar tuntas. Kita sering melihat anak muda sekarang rela bangun jam dua pagi, menembus dingin yang menusuk tulang, cuma buat dapat satu foto estetik dengan latar belakang awan. Ambisius? Jelas. Tapi selama itu bikin mereka bahagia, kenapa nggak?
Canyoneering: Tantangan Baru yang Lebih Basah
Kalau mendaki gunung sudah dirasa terlalu mainstream atau "sudah banyak yang lakuin," sekarang ada tren baru yang lagi naik daun: canyoneering. Kalau kamu belum tahu, canyoneering itu paket lengkap dari kegiatan alam. Isinya ada jalan kaki (trekking), memanjat tebing, melompat ke kolam air alami, sampai meluncur di sela-sela air terjun pakai tali (rappelling). Singkatnya, ini adalah cara paling seru buat basah-basahan di alam liar.
Tempat-tempat kayak Cikahuripan di Bandung atau beberapa curug di daerah Bogor sekarang penuh sama anak muda yang pengen ngerasain sensasi adrenalin ini. Bedanya sama mendaki, canyoneering itu lebih intens dan singkat. Kamu nggak perlu menginap berhari-hari, tapi tingkat bahayanya lumayan bikin jantung mau copot. Bayangin, kamu harus lompat dari ketinggian lima meter ke kolam air yang kita nggak tahu dasarnya kayak gimana, cuma bermodalkan helm dan pelampung. Trust issue sama instruktur di sini benar-benar diuji!
Kenapa Gen Z suka? Karena ini sangat menantang dan "beda". Di dunia yang serba digital ini, ngerasain air dingin yang nyiprat ke muka dan batu licin di bawah kaki itu rasanya beneran "hidup". Selain itu, dokumentasi canyoneering biasanya pakai GoPro yang hasilnya dramatis banget. Pas banget buat diunggah ke Reels dengan lagu yang lagi viral.
Dampak FOMO dan Pentingnya Etika Alam
Tapi, di balik semua keseruan itu, ada satu masalah klasik: FOMO (Fear of Missing Out). Karena semua orang posting foto di puncak gunung atau di bawah air terjun, banyak yang akhirnya ikut-ikutan tanpa persiapan yang matang. Akhirnya apa? Banyak kasus pendaki yang cedera karena nggak bawa peralatan yang benar, atau yang paling sering, masalah sampah. Sayang banget kalau tujuan kita ke alam buat "healing," tapi malah ninggalin luka buat alamnya sendiri.
Kita sering melihat tisu magis, bungkus mi instan, sampai botol plastik berserakan di jalur pendakian. Ini yang harusnya jadi perhatian kita semua. Jadi anak alam itu keren, tapi jadi anak alam yang bertanggung jawab itu jauh lebih keren. Gen Z yang katanya paling sadar soal isu lingkungan harusnya bisa membuktikan kalau mereka bisa menikmati alam tanpa merusaknya. Jangan sampai slogan "take nothing but pictures, leave nothing but footprints" cuma jadi caption Instagram doang, tapi praktiknya nol besar.
Kesimpulan: Keseimbangan Antara Konten dan Pengalaman
Kegiatan alam bebas kayak mendaki dan canyoneering memang punya daya tarik yang luar biasa. Ini bukan cuma soal fisik, tapi juga soal mental. Belajar sabar, belajar kerja sama tim, dan belajar mengenal batas kemampuan diri sendiri. Mau itu demi konten atau memang murni buat cari ketenangan, nggak ada yang salah selama kita tetap menjaga etika dan keselamatan.
Beberapa poin yang bisa kita pelajari dari tren ini antara lain:
- Persiapan adalah kunci: Jangan cuma modal outfit keren, tapi pelajari medannya juga.
- Hargai alam: Apa yang kamu bawa naik, harus kamu bawa turun kembali. Sampahmu tanggung jawabmu.
- Nikmati prosesnya: Jangan terlalu fokus sama kamera sampai lupa ngelihat pemandangan di depan mata pakai mata sendiri, bukan lewat layar HP.
- Keselamatan nomor satu: Alam itu nggak bisa ditebak, jadi jangan sombong dan selalu dengerin instruksi pemandu.
Akhir kata, buat kalian para Gen Z yang lagi merencanakan trip akhir pekan ini, entah itu mau nanjak ke Gunung Prau atau mau nyemplung canyoneering di curug tersembunyi, have fun! Nikmati udaranya, syukuri capeknya, dan pulanglah dengan selamat. Ingat, puncak itu cuma bonus, tujuan utamanya adalah kembali ke rumah biar bisa kerja lagi buat nabung trip selanjutnya. Karena ya, healing itu mahal, kawan!
Next News

Benang Kusut Proyek Chromebook Nadiem: Dari Inovasi ke Sidang
in 6 hours

Rahasia Di Balik Viral Matcha dan Munculnya Polisi Matcha
9 hours ago

Bosan Gaya Kaku? Intip Cara Pakai Batik Untuk Nongkrong Cantik
11 hours ago

Kritik Seni di Atas Meja Demokrasi Ketika Pemerintah Tak Larang Nobar Pesta Babi
4 days ago

Hype Global Panggung Jakarta The Weeknd Siap Guncang Indonesia September 2026
6 days ago

Gebrakan atau Ancaman? Badan Gizi Nasional Beri Deadline Dua Minggu Bagi SPPG Untuk Tambah Penerima Gizi Atau Siap-Siap Hadapi Suspend
6 days ago

Tensi Nuklir Membara Amerika Serikat Terjebak di Persimpangan Perang Saat Iran Kirim Proposal Tuntutan Hak Kedaulatan Ekonomi
7 days ago

KAI Ubah Nama Argo Bromo Anggrek Jadi KA Anggrek: Ini Alasan di Baliknya
13 days ago

Mau Mulai Retinol Tapi Ragu? Ini Jawaban yang Sering Kamu Cari
14 days ago

Barrel Jeans Lagi Hype, Tapi Kenapa Susah Banget Buat Petite?
14 days ago




