Ceritra
Ceritra Update

Benang Kusut Proyek Chromebook Nadiem: Dari Inovasi ke Sidang

Shannon - Tuesday, 19 May 2026 | 11:00 AM

Background
Benang Kusut Proyek Chromebook Nadiem: Dari Inovasi ke Sidang
Persidangan Nadiem Makarim (SinPo.id/Agus Priatna)

Antara Chromebook, Mas Menteri, dan Drama di Meja Hijau: Sebuah Kisah Teknologi yang Berujung Politis

Kalau kita bicara soal Nadiem Makarim, yang terlintas di kepala biasanya bukan cuma soal Gojek, tapi juga citra "Mas Menteri" yang progresif, muda, dan penuh terobosan. Namun, belakangan ini, nama Nadiem dan kebijakan andalannya, pengadaan laptop Chromebook untuk sekolah-sekolah, kembali mencuat ke permukaan. Bukan karena fitur baru atau integrasi AI yang canggih, melainkan karena rentetan drama hukum yang melibatkan tuntutan jaksa dan putusan hakim terhadap beberapa pihak yang terlibat dalam proyek ambisius tersebut.

Kisah ini bermula dari mimpi besar untuk mendigitalisasi pendidikan di pelosok negeri. Bayangkan, jutaan siswa yang tadinya hanya kenal buku cetak tiba-tiba disodori perangkat canggih. Tapi, seperti kata pepatah, "niat baik saja tidak cukup kalau eksekusinya berantakan." Proyek pengadaan laptop Merah Putih ini sejak awal sudah mengundang keraguan. Mulai dari spesifikasinya yang dianggap "kentang" alias pas-pasan, sampai harganya yang dinilai terlalu tinggi untuk ukuran perangkat sejenis di pasar retail. Di sinilah "gorengan" isu mulai memanas di media sosial.

Geger Tuntutan Jaksa dan Palu Hakim yang Mengetuk

Baru-baru ini, perhatian publik tersedot pada ruang sidang. Meskipun Nadiem Makarim sendiri tidak duduk di kursi pesakitan, orang-orang di bawah kementeriannya atau mereka yang terlibat dalam rantai pengadaan harus berhadapan dengan tuntutan jaksa. Jaksa penuntut umum menilai ada indikasi kerugian negara yang tidak sedikit dalam proyek pengadaan ini. Ada angka-angka miliaran rupiah yang dianggap menguap karena praktik yang tidak transparan atau penggelembungan harga.

Ketika tuntutan jaksa dibacakan, netizen langsung heboh. Kalimat-kalimat bernada sarkasme memenuhi kolom komentar. "Harganya sultan, speknya buat ngetik doang," begitu salah satu komentar yang sering muncul. Namun, yang paling dinantikan adalah putusan hakim. Hakim dalam beberapa kasus terkait pengadaan barang jasa pendidikan ini memberikan vonis yang bervariasi. Ada yang dianggap terbukti melakukan korupsi berjamaah, ada juga yang mendapatkan hukuman lebih ringan dari tuntutan. Dinamika ini membuat isu Chromebook bukan lagi sekadar soal teknologi pendidikan, tapi sudah jadi drama kriminal-politik yang seru buat diikuti.

Influencer dan Pertarungan Dua Kubu

Menariknya, isu ini tidak berhenti di ruang sidang. Seperti biasa, kalau ada isu besar, para influencer pasti ikut ambil bagian. Di sini kita melihat adanya pembelahan "kubu" yang cukup kontras. Di satu sisi, ada kubu pendukung Mas Menteri. Influencer di kubu ini biasanya berargumen bahwa digitalisasi adalah proses yang menyakitkan tapi perlu. Mereka bilang, "Jangan cuma liat korupsinya, liat niatnya buat majuin anak bangsa." Mereka memposisikan kegagalan atau penyimpangan ini sebagai "oknum" dan bukan kesalahan sistemik dari visi Nadiem.

Di sisi seberang, ada kubu pengkritik keras. Isinya adalah pengamat pendidikan, pegiat anti-korupsi, hingga influencer teknologi yang hobi melakukan teardown alias bongkar-bongkar komponen laptop. Kubu ini dengan tajam menyoroti betapa tidak efisiennya anggaran triliunan rupiah hanya untuk membagikan laptop yang masa pakainya mungkin tidak lama. Mereka merasa proyek ini lebih kental aroma bisnisnya daripada aroma edukasinya. Perdebatan antar kubu ini seringkali bikin ramai diperbincangkan di platform seperti X (Twitter) atau kolom komentar TikTok, di mana data-data teknis beradu dengan sentimen politik.

Kenapa Ini Sangat Ramai Diperbincangkan?

Ada alasan kenapa publik begitu sensitif soal Chromebook dan Nadiem. Pertama, ini soal uang rakyat. Anggaran pendidikan kita itu salah satu yang terbesar, dan ketika muncul kabar bahwa anggaran itu dikorupsi dalam bentuk perangkat yang "kurang memadai," siapa yang nggak kesal? Kedua, sosok Nadiem adalah simbol harapan baru. Banyak orang berharap dia bisa membersihkan birokrasi pendidikan yang kumuh. Jadi, ketika ada kasus hukum yang menyerempet programnya, ada rasa kecewa yang mendalam dari masyarakat.

Selain itu, fenomena "Chromebook Merah Putih" ini jadi simbol ironi. Di satu sisi kita bicara soal 4.0 dan Society 5.0, tapi di sisi lain, proses pengadaannya masih pakai gaya lama: main mata, suap, dan penggelembungan harga. Rasanya kayak kita mau terbang ke bulan pakai roket, tapi baut-bautnya hasil curian. Nggak sinkron, kan?

Melihat ke Depan: Evaluasi atau Sekadar Lewat?

Sekarang, pertanyaannya adalah: apa langkah selanjutnya? Putusan hakim mungkin sudah dijatuhkan untuk beberapa individu, tapi bayang-bayang kegagalan proyek ini tetap menghantui citra Kemendikbudristek di bawah kepemimpinan Nadiem sebelum masa jabatannya berakhir. Publik berharap ada evaluasi total. Kita nggak butuh sekadar gadget keren kalau gurunya belum siap atau kalau uangnya malah masuk ke kantong oknum.

Pada akhirnya, kasus Chromebook ini adalah pelajaran berharga buat kita semua. Teknologi itu cuma alat. Mau mereknya Chromebook, laptop rakitan lokal, atau tablet sekalipun, kalau integritas orang-orang yang mengelolanya masih "spek rendah," ya hasilnya bakal eror juga. Kita sebagai warga net atau rakyat jelata harus tetap kritis. Jangan sampai kita cuma jadi penonton yang terpecah antar kubu, sementara uang negara terus mengalir ke tempat yang salah.

Mari kita kawal terus perkembangannya. Siapa tahu, setelah keributan ini, kita benar-benar bisa melihat sistem pendidikan yang transparan, efektif, dan nggak cuma jago di *branding* atau postingan influencer saja. Sebab, pendidikan anak bangsa itu terlalu mahal harganya jika hanya dijadikan ajang eksperimen atau proyek sampingan bagi para pemburu rente.

Logo Radio
🔴 Radio Live