Ceritra
Ceritra Update

Rahasia Di Balik Viral Matcha dan Munculnya Polisi Matcha

Shannon - Monday, 18 May 2026 | 08:00 PM

Background
Rahasia Di Balik Viral Matcha dan Munculnya Polisi Matcha
(Artikel | Masindo/)

Sengkarut Dunia Matcha: Antara Ritual Estetik, Kualitas Rasa, dan Munculnya Polisi Matcha

Beberapa tahun terakhir, kalau kita main ke mall atau sekadar scroll TikTok, warna hijau mentereng nggak pernah absen dari pandangan. Bukan, ini bukan soal partai politik atau kampanye lingkungan hidup, melainkan demam matcha yang seolah nggak ada habisnya. Dari yang harganya cuma sepuluh ribu di pinggir jalan sampai yang harganya setara jatah makan siang tiga hari di kafe mewah, matcha sudah jadi gaya hidup. Tapi, seiring dengan menjamurnya kedai matcha, muncul pula satu fenomena unik yang sering bikin netizen geleng-geleng kepala: Polisi Matcha.

Pernah nggak kalian lagi asyik posting foto matcha latte yang tampilannya cantik banget, terus tiba-tiba ada yang komen, "Duh, itu mah bukan matcha, itu mah bubuk teh hijau pasar yang dikasih krimer doang," atau "Yakin itu matcha? Kok warnanya kuning kusam gitu?" Nah, selamat, kalian baru saja kena tilang oleh Polisi Matcha. Mereka ini adalah sekumpulan orang (yang biasanya merasa diri mereka paling paham) yang hobi mengoreksi kualitas matcha orang lain. Tapi, sebelum kita emosi sama komentar mereka, sebenarnya ada benarnya juga sih. Dunia matcha itu memang luas, dalam, dan penuh tipu daya marketing.

Membedah Kasta Matcha: Gengsi di Balik Label

Masalah utama yang sering bikin "keributan" adalah soal grade atau tingkatan. Di Indonesia, banyak orang masih menganggap semua yang rasanya sepat dan warnanya hijau itu adalah matcha. Padahal, secara garis besar, matcha itu terbagi jadi dua kubu utama: Ceremonial Grade dan Culinary Grade. Perbedaannya bukan cuma soal harga, tapi soal filosofi dan cara lidah kita menyambutnya.

Ceremonial grade adalah kasta tertinggi. Ini adalah jenis matcha yang seharusnya diminum secara tradisional, cuma dicampur air panas dan diaduk pakai whisk bambu (chasen). Daunnya dipetik saat masih sangat muda, batangnya dibuang, dan proses penggilingannya pelan banget supaya nggak kena panas yang bisa merusak rasa. Hasilnya? Warnanya hijau neon yang vibran, teksturnya halus banget, dan rasanya punya sensasi "umami" atau gurih yang unik. Kalau kalian pakai ceremonial grade buat bikin martabak atau brownies, itu namanya penistaan dompet. Rasanya bakal kalah sama rasa gula dan tepung, padahal harganya bisa jutaan per kilogram.

Nah, di bawahnya ada Culinary grade. Seperti namanya, ini memang diperuntukkan untuk masak-memasak atau campuran minuman yang pakai susu banyak banget (latte). Rasanya lebih kuat, lebih sepat (astringent), dan warnanya sedikit lebih gelap atau kekuningan. Polisi matcha biasanya bakal ngamuk kalau ada kafe yang klaim pakai ceremonial tapi pas disajikan rasanya pahit kayak jamu godok dan warnanya butek. Di sinilah edukasi menjadi penting supaya kita nggak cuma bayar mahal buat "vibes" doang.

Kenapa Polisi Matcha Begitu Galak?

Mungkin kalian bertanya, kenapa sih orang-orang ini repot banget ngurusin minuman orang lain? Jawabannya ada pada integritas rasa. Banyak pedagang nakal yang mencampur bubuk teh hijau biasa (sencha yang digiling kasar) dengan pewarna atau perasa melati, lalu melabelinya sebagai "Matcha Premium dari Jepang". Bagi para purist, ini adalah penghinaan terhadap seni pengolahan teh Jepang yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Matcha yang asli itu diproses dengan teknik shading (dinaungi dari sinar matahari) selama beberapa minggu sebelum panen. Tujuannya supaya kadar klorofil dan asam amino L-theanine-nya meningkat drastis. Inilah yang bikin matcha punya efek menenangkan tapi tetap bikin fokus (calm alertness), beda sama kopi yang kadang bikin jantung deg-degan. Jadi, ketika seseorang dikasih minuman yang cuma rasa melati dan gula tapi dibilang matcha, para polisi matcha ini merasa perlu bertindak demi menyelamatkan selera massa.

Tapi ya, kadang gaya bicaranya itu lho yang bikin sebel. Pakai istilah-istilah teknis kayak "oxidized," "stone-ground," sampai "terroir," yang bikin orang awam malah jadi minder mau nyobain. Padahal, esensi minum matcha kan seharusnya bikin tenang, bukan malah bikin darah tinggi gara-gara adu argumen di kolom komentar.

Cara Sederhana Biar Nggak Kena Tipu (dan Nggak Ditilang)

Kalau kalian mau mulai serius di dunia per-matcha-an tanpa harus jadi elitist, ada beberapa tips simpel. Pertama, lihat warnanya. Matcha yang bagus itu warnanya hijau cerah, kayak rumput di lapangan bola yang baru disiram. Kalau warnanya sudah cenderung ke arah cokelat, kuning, atau hijau tentara yang gelap, kemungkinan besar itu sudah teroksidasi atau memang kualitasnya rendah.

Kedua, cium aromanya. Matcha berkualitas punya aroma yang segar, sedikit bau rumput, dan ada manis-manisnya (vegetal and sweet). Kalau baunya kayak ikan asin atau bau jerami kering, mending putar balik deh. Ketiga, cek harganya. Kita harus realistis. Matcha itu komoditas mahal karena prosesnya ribet. Kalau ada yang jual matcha latte seharga es teh manis lima ribuan, ya jangan berharap itu matcha beneran. Kemungkinan besar itu bubuk instan yang isinya 80% gula dan krimer nabati.

Menikmati Matcha dengan Santai

Pada akhirnya, mau itu ceremonial, culinary, atau bahkan matcha instan sekalipun, selera itu subjektif. Kalau kalian memang sukanya matcha yang rasanya manis banget sampai nggak berasa tehnya, ya itu hak kalian. Toh, yang beli pakai uang sendiri juga kalian, kan? Nggak perlu terlalu pusing sama standar tinggi para kolektor matcha di media sosial.

Tapi, nggak ada salahnya juga untuk mulai menghargai proses di balik satu mangkuk matcha. Belajar sedikit tentang grade bukan buat gaya-gayaan, tapi supaya kita tahu apa yang masuk ke tubuh kita. Buat para "Polisi Matcha," mungkin bisa sedikit menurunkan nada bicaranya. Edukasi itu lebih masuk kalau disampaikan dengan santai, bukan dengan nada menghakimi. Dunia sudah cukup berisik, jangan ditambah lagi dengan debat kusir soal bubuk hijau.

Jadi, hari ini kalian mau minum matcha yang mana? Yang harganya selangit dan bikin tenang, atau yang penting hijau dan manis buat nemenin kerja? Apapun pilihannya, yang penting nikmati saja setiap sesapannya. Karena di balik warna hijaunya yang tenang, ada cerita tentang kesabaran, tradisi, dan tentu saja, drama netizen yang nggak pernah mati.

Logo Radio
🔴 Radio Live