Ceritra
Ceritra Update

Bosan Gaya Kaku? Intip Cara Pakai Batik Untuk Nongkrong Cantik

Shannon - Monday, 18 May 2026 | 06:00 PM

Background
Bosan Gaya Kaku? Intip Cara Pakai Batik Untuk Nongkrong Cantik
(Beritabanten.com/)

Batik Bukan Cuma Buat Kondangan: Saat Jarik Bertemu Sneakers di Jalanan Surabaya

Dulu, kalau ada anak muda pakai batik atau kain lilit di hari biasa, komentar yang keluar paling tidak jauh-jauh dari, "Eh, mau ke kondangan siapa?" atau "Tumben rapi amat, mau lamaran ya?" Kita seolah sudah diprogram secara kolektif bahwa batik adalah seragam resmi untuk acara-acara kaku. Ia adalah pakaian yang hanya keluar dari lemari saat ada undangan pernikahan, acara kantor, atau peringatan hari besar nasional. Sisanya? Batik cuma jadi daster atau celana kolor buat tidur karena bahannya yang adem.

Tapi coba lihat sekarang. Kalau kamu main ke daerah Tunjungan di Surabaya saat sore hari, pemandangannya sudah jauh berbeda. Di antara deretan kafe kekinian dan bangunan tua yang estetik, kamu bakal sering menjumpai gerombolan anak muda yang tampil "nyeni". Mereka memakai atasan kaos oversize atau kemeja flanel, tapi bawahannya bukan jeans atau cargo pants, melainkan kain batik yang dililit sedemikian rupa. Alas kakinya? Bukan selop kulit, melainkan sneakers semacam Ventela, Converse, atau bahkan Docmart yang gagah itu.

Batik yang Lepas dari "Kekakuan"

Fenomena ini sering disebut sebagai gerakan "berkain". Ini adalah bentuk pemberontakan manis dari Gen Z dan milenial terhadap stigma bahwa pakaian tradisional itu kuno dan ribet. Di tangan anak muda zaman sekarang, batik nggak lagi punya aturan "pakem" yang harus diikuti sampai titik koma. Kita nggak lagi bicara soal motif ini hanya boleh dipakai raja, atau motif itu hanya untuk upacara kematian. Tentu, menghormati sejarah itu perlu, tapi memenjarakan batik dalam aturan kuno hanya akan membuatnya mati ditelan zaman.

Anak muda Surabaya, dengan karakter "arek"-nya yang ceplas-ceplos dan praktis, membawa tren berkain ini ke level yang lebih santai. Mereka membuktikan bahwa batik bisa diajak nongkrong di kopi shop pinggir jalan hingga nonton konser indie. Batik sudah bertransformasi menjadi sebuah fashion statement yang personal. Tren ini bukan cuma soal gaya-gayaan, tapi soal bagaimana kita "merebut kembali" identitas yang selama ini terasa jauh.

Bayangkan saja, memakai kain jarik yang biasanya identik dengan simbah-simbah di pasar, lalu dipadukan dengan tote bag dan kacamata hitam. Hasilnya? Keren abis. Ada semacam rasa bangga yang berbeda saat kita berjalan dengan kain yang melambai ditiup angin laut Surabaya yang cukup kencang itu. Kita merasa seperti membawa sejumput sejarah di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan.

Surabaya dan Semangat Berkain di Tunjungan

Kenapa Surabaya jadi menarik dalam konteks ini? Karena kota ini punya energi yang unik. Surabaya bukan Jogja atau Solo yang kental dengan aura keratonnya. Surabaya adalah kota pelabuhan, kota industri, dan kota yang egaliter. Di sini, berkain bukan berarti kamu sedang melakukan ritual budaya yang sakral, melainkan kamu sedang berekspresi secara bebas.

Area Tunjungan Romansa menjadi saksi bisu bagaimana tren ini meledak. Di sana, kita bisa melihat anak-anak muda berlenggak-lenggok melakukan street photography. Batik yang mereka kenakan nggak harus batik tulis yang harganya jutaan rupiah. Banyak yang berburu di pasar loak atau toko-toko batik lawas di kawasan Ampel atau sekitaran Pasar Turi. Mereka mencari motif yang unik, menabrakkan warna-warna berani, dan menjadikannya sebuah ootd yang layak masuk explore Instagram.

Gaya berpakaian ini juga menghapus batasan gender. Cowok-cowok di Surabaya sekarang nggak malu lagi pakai kain lilit. Dengan teknik ikatan yang pas, mereka tetap terlihat maskulin tapi dengan sentuhan seni yang kental. Ini membuktikan bahwa fashion itu cair, dan batik adalah media paling sempurna untuk menunjukkan kecairan tersebut.

Bukan Sekadar Tren Musiman

Banyak yang bertanya, "Ini bakal bertahan lama nggak sih? Atau cuma fomo sesaat?" Jawabannya ada pada bagaimana kita memperlakukan batik itu sendiri. Kalau kita melihat berkain hanya sebagai kostum untuk foto-foto estetik demi konten TikTok, mungkin umurnya nggak akan lama. Tapi kalau kita sudah merasa nyaman dan menjadikan batik sebagai bagian dari keseharian—seperti kita memakai kaos polos—maka tren ini akan berevolusi menjadi budaya baru.

Lagipula, mengenakan batik dalam balutan tren masa kini adalah cara paling masuk akal untuk melestarikan budaya. Kita nggak bisa memaksa anak muda pakai kebaya lengkap dengan sanggul atau beskap kaku setiap hari hanya untuk dibilang "cinta budaya". Itu menyiksa. Tapi dengan membiarkan mereka memadukan batik dengan streetwear, kita memberikan ruang bagi batik untuk tetap relevan. Batik jadi punya nafas baru. Ia nggak lagi berdebu di dalam lemari, tapi berkeringat bersama kita di bawah terik matahari Surabaya.

Ada kebanggaan tersendiri saat kita ditanya oleh turis asing di Jalan Veteran, "Eh, itu kain apa yang kamu pakai?" Dan kita dengan bangga bisa menjawab, "Ini Batik, asli Indonesia," sambil tetap merasa stylish. Di situ, misi pelestarian budaya sudah selesai tanpa perlu banyak pidato formal dari pejabat.

Tips Biar Nggak Kayak Mau Kondangan

Buat kamu yang masih ragu mau mulai berkain, kuncinya satu: jangan terlalu serius. Kamu nggak perlu pusing memikirkan cara melilit kain yang sempurna ala model katalog. Gunakan peniti, pakai ring khusus kain, atau ikat saja senyaman mungkin. Padukan dengan item fashion yang "kontras". Misalnya, kalau kainnya sudah punya motif ramai dan gelap, gunakan atasan kaos putih polos yang bersih.

Jangan lupa gunakan sepatu yang nyaman. Karena kita tinggal di Surabaya yang luasnya minta ampun, sneakers adalah kawan terbaik. Gabungan antara kain tradisional dan sepatu olahraga memberikan kesan sporty namun tetap elegan. Tambahkan aksesori seperti kalung etnik atau jam tangan simpel untuk mempermanis tampilan.

Pada akhirnya, batik adalah tentang cerita. Setiap goresan malam di atas kain itu punya filosofi, tapi cara kita memakainya adalah cerita kita sendiri. Jadi, jangan ragu buat keluar rumah pakai kain. Mau itu buat beli pentol di pinggir jalan, ngerjain tugas di kafe, atau sekadar jalan-jalan sore di Tunjungan, batikmu adalah identitasmu yang paling jujur. Yuk, mulai berkain hari ini, karena menjadi tradisional itu nggak pernah sekeren ini!

Logo Radio
🔴 Radio Live