Skill yang Tetap Aman Meski Zaman Berubah: Menjadi Lebih Manusiawi
Nisrina - Thursday, 01 January 2026 | 10:15 AM


Ketakutan akan tergantikannya peran manusia oleh kecerdasan buatan atau AI semakin hari semakin nyata. Banyak pekerjaan teknis yang dulunya dianggap aman kini mulai terotomatisasi. Namun di tengah gelombang disrupsi ini, ada satu kategori keterampilan yang justru nilainya semakin mahal dan tak tergantikan, yaitu keterampilan yang murni bersifat manusiawi atau human-centric skills. Ironisnya, untuk bertahan di zaman robot, kita justru harus menjadi semakin manusiawi, bukan semakin seperti mesin.
Keterampilan pertama yang aman dari gempuran zaman adalah berpikir kritis dan penyelesaian masalah yang kompleks. Mesin memang jago mengolah data dan memberikan jawaban berdasarkan pola masa lalu, namun mereka belum memiliki nalar dan intuisi untuk menghubungkan titik-titik yang tidak terlihat dalam situasi yang baru dan ambigu. Kemampuan untuk bertanya "mengapa", melihat konteks di balik data, dan mengambil keputusan etis di situasi genting adalah ranah yang masih dikuasai oleh otak manusia.
Selanjutnya adalah kemampuan komunikasi interpersonal dan negosiasi. Bahasa bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan pertukaran rasa dan emosi. Seorang mesin mungkin bisa menulis naskah pidato, tapi ia tidak bisa membaca ruangan, merasakan ketegangan lawan bicara, atau membujuk seseorang dengan empati yang tulus. Kemampuan untuk membangun hubungan, meyakinkan orang lain, dan berkolaborasi dalam tim yang beragam adalah aset emas. Di dunia kerja, orang tidak hanya membeli produk atau jasa, mereka membeli kepercayaan dari orang yang menyajikannya.
Adaptabilitas dan kegesitan belajar atau learning agility juga menjadi kunci bertahan hidup. Di zaman dulu, apa yang kita pelajari di kuliah bisa dipakai untuk bekerja selama 30 tahun. Sekarang, ilmu bisa kedaluwarsa dalam hitungan bulan. Orang yang aman bukanlah yang paling pintar, melainkan yang paling cepat belajar hal baru dan paling cepat membuang ilmu lama yang sudah usang (unlearn). Mental pembelajar seumur hidup adalah perisai terkuat menghadapi ketidakpastian masa depan.
Terakhir adalah kreativitas dan imajinasi. AI bekerja berdasarkan algoritma dan data yang sudah ada, sementara kreativitas manusia sering kali lahir dari ketidakteraturan, mimpi, dan lompatan logika yang absurd. Seni, inovasi bisnis yang radikal, dan penemuan orisinal lahir dari percikan jiwa manusia yang unik. Jadi jangan takut tergantikan oleh teknologi, asalkan kita terus mengasah sisi kemanusiaan kita yang penuh rasa, karsa, dan cipta, kita akan selalu memiliki tempat di peradaban ini.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 7 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 6 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 6 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 6 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 5 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 5 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 4 hours

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 6 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 3 hours

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in 3 hours






