Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Saran Tulus Kadang Terasa Menyebalkan?

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 02:00 PM

Background
Kenapa Saran Tulus Kadang Terasa Menyebalkan?
Ilustrasi pasangan yang sedang berargumen (Pinterest/)

Pernah tidak, kamu memberikan saran ke teman yang sedang ada masalah, tapi dia malah marah dan bilang kamu tidak mengerti perasaannya? Atau kamu berinisiatif membereskan pekerjaan rekan kerja, tapi dia justru tersinggung dan merasa dianggap tidak becus?

Situasi ini sering membuat kita bingung dan frustrasi. Kita merasa sudah berbuat baik, tapi respons yang didapat malah negatif.

Masalah utamanya adalah kita sering lupa bahwa komunikasi itu melibatkan dua sis, si pengirim (kita) dan si penerima (orang lain). Niat baik ada di dalam pikiran kita, sementara yang diterima orang lain adalah tindakan dan ucapan nyata. Seringkali, ada jarak yang jauh antara apa yang kita maksud dan apa yang benar-benar dirasakan oleh orang lain.

Berikut adalah alasan logis kenapa niat baik seringkali gagal sampai ke tujuan.

1. Menggunakan Standar Diri Sendiri

Kesalahan paling umum adalah kita menilai kebutuhan orang lain berdasarkan apa yang kita suka. Kita berpikir, "Kalau aku di posisi dia, aku pasti senang dibeginikan." Padahal, kebutuhan setiap orang berbeda-beda.

Contoh sederhananya, saat kamu sedang sedih, mungkin kamu tipe orang yang suka ditemani dan diajak ngobrol agar lupa masalah. Tapi, temanmu mungkin tipe yang butuh ketenangan dan ingin sendirian dulu saat sedih. Kalau kamu memaksakan diri untuk terus mengajak dia ngobrol dengan niat "menghibur", dia justru akan merasa terganggu. Niat kamu baik, tapi caranya tidak sesuai dengan apa yang dia butuhkan saat itu.

2. Cara Penyampaian yang Kurang Pas

Isi pesan memang penting, tapi nada bicara, ekspresi wajah, dan pemilihan kata jauh lebih menentukan bagaimana pesan itu diterima. Niat yang sangat tulus bisa terdengar seperti serangan jika disampaikan dengan nada yang ketus atau menggurui.

Misalnya, kamu ingin mengingatkan pasangan untuk lebih menjaga kesehatan. Niatnya murni peduli. Tapi kalau kamu mengucapkannya dengan kalimat, "Kamu tuh makan gorengan terus, nanti sakit baru tahu rasa," lawan bicara akan langsung defensif. Dia tidak mendengar kepedulianmu, dia hanya mendengar kritikan dan penghakiman. Pada akhirnya, dia menolak saranmu bukan karena sarannya salah, tapi karena caranya membuat dia merasa tidak nyaman.

3. Memberi Solusi Tanpa Diminta

Melihat orang lain kesusahan sering memicu naluri kita untuk segera membantu atau memperbaiki keadaan. Namun, memberikan bantuan atau solusi saat tidak diminta seringkali dianggap sebagai tindakan yang tidak menghargai batasan (boundaries).

Bayangkan temanmu sedang curhat tentang masalah di kantornya. Dia sebenarnya hanya ingin didengar untuk meluapkan kekesalan. Tapi karena tidak sabar, kamu langsung memotong ceritanya dan memberikan daftar solusi: "Harusnya kamu lapor HRD, terus kamu bilang ke bos kamu begini..." Temanmu akan merasa tidak didengar dan dianggap tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Terkadang, menahan diri untuk tidak memberi solusi adalah bentuk bantuan terbaik.

4. Dampak Lebih Nyata daripada Niat

Ini adalah prinsip realita yang harus kita terima: Orang lain menilai kita dari tindakan dan dampaknya, bukan dari niat yang ada di dalam hati kita.

Jika kamu tidak sengaja menjatuhkan gelas kesayangan temanmu, gelasnya tetap pecah meskipun kamu tidak berniat memecahkannya. Kamu tidak bisa memaksa temanmu untuk tidak sedih hanya karena kamu "tidak sengaja". Dalam komunikasi juga sama. Jika ucapanmu menyakiti hati orang lain, penjelasan "Niatku kan cuma bercanda" atau "Niatku baik" tidak akan serta-merta menghapus rasa sakit hati mereka. Mengakui bahwa dampak tindakan kita menyakitkan—terlepas dari apa pun niatnya—adalah langkah penting untuk memperbaiki hubungan.

Logo Radio
🔴 Radio Live