Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 04:45 PM


Fenomena mabuk sering kali diasosiasikan dengan gaya hidup hedonisme atau konsumsi minuman keras yang berlebihan, namun bagi segelintir orang di dunia ini, mabuk adalah sebuah kutukan medis yang tidak bisa mereka kendalikan. Bayangkan sebuah skenario di mana seseorang bisa mengalami keracunan alkohol, lengkap dengan gejala bicara melantur, pusing hebat, dan bau napas beralkohol, padahal seumur hidupnya ia tidak pernah menyentuh satu tetes pun minuman keras. Kondisi medis langka dan membingungkan ini dikenal sebagai Auto-brewery Syndrome (ABS) atau sindrom fermentasi usus. Ini bukanlah cerita fiksi ilmiah, melainkan sebuah anomali biologis nyata di mana sistem pencernaan manusia secara harfiah berubah menjadi mesin penyulingan alkohol internal yang aktif memproduksi etanol dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Secara fisiologis, tubuh manusia memang memproduksi sejumlah kecil alkohol melalui proses pencernaan normal, namun jumlahnya sangat tidak signifikan sehingga tidak mempengaruhi kesadaran. Pada penderita ABS, mekanisme ini menjadi kacau balau. Saluran pencernaan mereka, terutama usus, dijajah oleh populasi jamur atau bakteri tertentu yang memiliki kemampuan fermentasi tinggi, seperti Saccharomyces cerevisiae atau Candida albicans, dan dalam beberapa kasus bakteri Klebsiella pneumoniae. Mikroorganisme ini bertindak layaknya ragi dalam proses pembuatan bir atau anggur. Ketika penderita mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat atau gula, seperti nasi, roti, kentang, atau soda, mikroba-mikroba ini akan langsung menyambar glukosa tersebut dan memfermentasikannya menjadi etanol di dalam perut. Akibatnya, kadar alkohol dalam darah pasien bisa melonjak drastis dalam waktu singkat, sering kali melampaui batas legal mabuk yang ditetapkan hukum, hanya karena mereka memakan sepiring pasta atau sepotong kue bolu.
Penyebab utama dari sindrom ini sering kali berakar pada ketidakseimbangan ekosistem bakteri dalam usus atau yang disebut disbiosis. Dalam kondisi sehat, bakteri baik dalam usus akan menekan pertumbuhan jamur atau bakteri fermentasi agar tidak mendominasi. Namun, penggunaan antibiotik jangka panjang yang tidak terkontrol sering kali menjadi pemicu awal bencana ini. Antibiotik membunuh bakteri baik, meninggalkan "lahan kosong" yang kemudian dikuasai oleh jamur ragi yang resisten. Selain itu, kondisi kesehatan lain seperti diabetes, penyakit Crohn, atau masalah hati juga dapat memperparah risiko seseorang mengembangkan sindrom ini. Lemahnya sistem kekebalan tubuh membuat organisme oportunistik ini tumbuh subur dan mengubah setiap asupan karbohidrat menjadi racun yang memabukkan bagi inangnya.
Dampak dari sindrom pabrik bir ini jauh melampaui masalah kesehatan fisik semata karena implikasi sosial dan hukumnya sangat menghancurkan. Banyak penderita ABS yang hidup dalam stigma buruk selama bertahun-tahun sebelum mendapatkan diagnosis yang tepat. Mereka sering dituduh sebagai pemabuk diam-diam atau alkoholik yang menyangkal kenyataan oleh keluarga, teman, bahkan dokter. Tidak sedikit kasus di mana penderita ditangkap polisi karena mengemudi di bawah pengaruh alkohol padahal mereka hanya minum air putih dan makan siang. Di mata hukum yang hanya melihat angka pada alat breathalyzer, mereka bersalah. Hal ini menyebabkan hilangnya pekerjaan, rusaknya reputasi, hingga keretakan rumah tangga karena pasangan mereka tidak percaya bahwa seseorang bisa mabuk tanpa minum alkohol. Beban psikologis akibat dituduh berbohong padahal tubuh mereka sendiri yang mengkhianati mereka sering kali memicu depresi berat.
Penanganan medis untuk kondisi ini pun tidak sederhana karena membutuhkan perubahan gaya hidup yang ekstrem dan disiplin tinggi. Dokter biasanya akan meresepkan obat antijamur yang kuat untuk membasmi koloni ragi yang membandel di dalam usus. Namun, obat saja tidak cukup. Pasien diwajibkan menjalani diet ketat rendah karbohidrat dan bebas gula. Ini berarti mereka harus menghindari hampir semua makanan pokok yang umum dikonsumsi masyarakat, seperti nasi, tepung, dan buah-buahan manis, karena bagi tubuh mereka, gula adalah bahan bakar fermentasi. Protein dan lemak menjadi sumber energi utama untuk memutus siklus produksi alkohol tersebut. Selain itu, pemberian probiotik dosis tinggi juga diperlukan untuk memulihkan populasi bakteri baik agar bisa kembali menjaga keseimbangan mikrobioma usus.
Kasus Auto-brewery Syndrome ini mengajarkan kita betapa kompleks dan misteriusnya tubuh manusia, khususnya peran mikrobioma usus yang sering disebut sebagai "otak kedua". Keseimbangan bakteri di perut ternyata memegang kendali vital atas kesehatan mental dan fisik kita. Fenomena ini juga menjadi peringatan keras bagi dunia medis dan masyarakat umum untuk tidak gegabah dalam menghakimi. Apa yang tampak seperti perilaku mabuk-mabukan yang tidak bertanggung jawab bisa jadi merupakan teriakan minta tolong dari tubuh yang sedang mengalami kekacauan metabolisme serius. Di balik setiap gejala yang tampak, mungkin tersembunyi mekanisme biologis rumit yang menuntut pemahaman dan empati, bukan sekadar stigma.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 5 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 4 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 4 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 4 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 3 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 3 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 2 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in an hour

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in an hour

Bagaimana Danur Mengubah Takdir Karier Prilly Latuconsina Selamanya
in 2 hours






