Ceritra
Ceritra Warga

Bagaimana Danur Mengubah Takdir Karier Prilly Latuconsina Selamanya

Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 02:45 PM

Background
Bagaimana Danur Mengubah Takdir Karier Prilly Latuconsina Selamanya
Prilly Latuconsina (Instagram/@prillylatuconsina96)

Dalam peta industri perfilman Indonesia modern, nama Prilly Latuconsina telah bertransformasi menjadi sebuah jaminan mutu. Ia bukan lagi sekadar idola remaja yang digandrungi karena paras cantiknya, melainkan seorang aktris watak yang disegani, produser yang cerdas, dan figur publik yang memiliki pengaruh besar. Namun, perjalanan menuju puncak kredibilitas ini bukanlah lintasan yang lurus dan mulus. Jauh sebelum ia memenangkan Piala Citra atau memproduseri film-film kritis yang sukses secara komersial, Prilly pernah terjebak dalam stereotip yang sulit ditembus oleh banyak aktor televisi. Dalam sebuah refleksi mendalam mengenai perjalanan kariernya, Prilly secara terbuka mengakui bahwa film horor Danur: I Can See Ghosts yang dirilis pada tahun 2017 adalah titik balik paling krusial yang mengubah segalanya. Pengakuan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah penanda sejarah bagaimana satu keputusan berani dapat meruntuhkan tembok stigma yang kokoh.

Sebelum fenomena Danur meledak, publik dan pelaku industri mengenal Prilly Latuconsina lekat dengan citra pesinetron berkat peran ikoniknya sebagai Sisi dalam sinetron Ganteng-Ganteng Serigala. Popularitas yang ia raih kala itu memang masif, namun di mata para sineas layar lebar, label "artis sinetron" sering kali membawa beban tersendiri. Ada keraguan kolektif tentang apakah seorang aktor yang terbiasa dengan gaya akting televisi yang ekspresif dan jadwal syuting kejar tayang mampu beradaptasi dengan kedalaman emosi dan detail yang dituntut dalam film bioskop. Pada masa itu, transisi dari layar kaca ke layar lebar adalah jurang yang gagal diseberangi oleh banyak artis populer lainnya. Prilly membutuhkan sebuah kendaraan yang kuat untuk membuktikan bahwa ia memiliki rentang akting yang jauh lebih luas daripada sekadar drama percintaan remaja.

Keputusan untuk mengambil peran Risa Saraswati dalam Danur bisa dibilang sebagai perjudian besar pada masanya. Genre horor saat itu belum mendapatkan prestise artistik seperti sekarang dan sering kali dipandang sebagai genre kelas dua. Namun, Prilly mendekati proyek ini dengan totalitas yang mengejutkan banyak pihak. Ia tidak hanya sekadar menghafal naskah, tetapi melakukan metode pendalaman karakter yang ekstrem, termasuk keberaniannya untuk dibuka mata batinnya demi merasakan ketakutan yang autentik yang dialami oleh tokoh asli yang diperankannya. Dedikasi total ini terpancar jelas di layar. Penonton tidak lagi melihat sosok Sisi yang manja, melainkan melihat Risa, seorang gadis introvert yang tertekan oleh kemampuan supranaturalnya. Transformasi ini berhasil meyakinkan penonton dan kritikus bahwa Prilly Latuconsina adalah seorang aktor yang serius.

Kesuksesan komersial Danur yang luar biasa, dengan raihan jutaan penonton, menjadi bukti validasi yang tak terbantahkan. Film ini tidak hanya memecahkan rekor box office, tetapi juga melahirkan sebuah semesta perfilman atau cinematic universe yang jarang terjadi di Indonesia. Angka penjualan tiket yang fantastis tersebut memberikan pesan tegas kepada industri bahwa Prilly memiliki "nilai jual" atau star power yang nyata di bioskop, bukan hanya di televisi. Keberhasilan ini memberikannya posisi tawar yang jauh lebih kuat di hadapan para produser dan sutradara papan atas. Danur menjadi kunci pembuka pintu-pintu kesempatan yang sebelumnya tertutup rapat. Tanpa ledakan fenomena Danur, mungkin akan sulit bagi Prilly untuk mendapatkan kepercayaan memegang peran-peran kompleks di film-film selanjutnya yang lebih artistik.

Lebih jauh lagi, kesuksesan finansial dan reputasi yang dibangun lewat waralaba Danur memberikan Prilly fondasi yang kokoh untuk melebarkan sayapnya ke ranah di balik layar. Kepercayaan diri dan modal sosial yang ia kumpulkan memungkinkannya untuk mendirikan rumah produksi Sinemaku Pictures. Dengan kendali kreatif di tangannya, ia kemudian bisa memproduksi film seperti Kukira Kau Rumah yang mengangkat isu kesehatan mental, sebuah tema yang mungkin dianggap berisiko jika ia tidak memiliki rekam jejak sukses sebelumnya. Dengan demikian, Danur tidak hanya berdampak pada karier aktingnya, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi evolusinya menjadi seorang sineas yang memiliki visi untuk memajukan industri film Indonesia.

Melihat kembali ke belakang, pengakuan Prilly bahwa Danur adalah titik penting dalam hidupnya adalah sebuah pernyataan yang sarat makna. Film tersebut adalah jembatan yang menghubungkan dua era dalam hidupnya, yakni era idola remaja dan era aktor sinema yang matang. Ia berhasil membuktikan bahwa stigma bisa dilawan dengan karya dan kualitas. Kini, ketika Prilly Latuconsina tampil memukau dalam film-film drama berat seperti Budi Pekerti, kita harus mengingat bahwa keberaniannya untuk berteriak ketakutan dan berkomunikasi dengan hantu dalam Danur-lah yang pertama kali membuat dunia perfilman benar-benar berhenti sejenak dan mendengarkan bakat besarnya.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live