Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya

Refa - Thursday, 15 January 2026 | 03:30 PM

Background
Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
Ilustrasi Isra Miraj (Pinterest/vecteezy)

Peristiwa Isra’ Mi’raj sering kali hanya dilihat sebagai "wisata langit" atau momen turunnya perintah sholat. Namun, untuk memahami besarnya makna peristiwa ini, kita harus melihat konteks waktu terjadinya, yaitu periode yang dikenal sebagai Amul Huzni atau "Tahun Kesedihan".

Sebelum diangkat ke langit, Nabi Muhammad SAW mengalami rentetan ujian terberat dalam hidupnya. Kesabaran beliau dalam menghadapi fase inilah yang menjadi mukadimah (pembuka) bagi turunnya hadiah agung berupa Isra’ Mi’raj. Berikut adalah pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sikap beliau.

1. Sabar Bukan Berarti Tidak Boleh Bersedih

Pelajaran pertama adalah tentang sisi manusiawi seorang nabi. Pada tahun itu, Rasulullah kehilangan dua pilar utama hidupnya. Khadijah RA (istri tercinta yang menjadi pendukung emosional dan finansial) dan Abu Thalib (paman yang menjadi pelindung politik dan fisik). Rasulullah sangat bersedih hingga masa itu dinamakan Tahun Kesedihan.

Ini mengajarkan kita bahwa kesabaran tidak berarti menolak rasa sedih atau menahan air mata. Menjadi sabar adalah membiarkan hati berduka secara wajar tanpa menggugat takdir Allah atau kehilangan harapan akan pertolongan-Nya.

2. Memaafkan Saat Mampu Membalas (Tragedi Thaif)

Ujian kesabaran memuncak saat Nabi pergi ke kota Thaif dengan harapan mendapat perlindungan, namun justru disambut dengan lemparan batu, caci maki, dan pengusiran hingga kakinya berdarah. Saat Malaikat Jibril dan Malaikat Penjaga Gunung menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk Thaif sebagai balasan, Nabi justru menolaknya. Beliau berdoa, "Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Pelajaran ini sangat mahal, sabar yang tertinggi adalah kemampuan menahan diri untuk tidak membalas dendam, bahkan mendoakan kebaikan bagi mereka yang menyakiti, karena optimisme bahwa suatu saat keturunan mereka akan menyembah Allah.

3. Mengadu Hanya Kepada Allah (Munajat Ketergantungan)

Di tengah kepedihan di Thaif, Nabi Muhammad SAW memanjatkan doa yang sangat menyentuh hati, yang dikenal sebagai doa pengaduan orang yang lemah. Beliau tidak mengeluh kepada manusia, melainkan "curhat" total kepada Allah, "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia..."

Ini mengajarkan kita bahwa puncak kesabaran adalah tawakkal. Saat semua pintu bumi tertutup (Mekkah menolak, Thaif mengusir), seorang mukmin harus yakin bahwa pintu langit selalu terbuka lebar bagi hamba yang berserah diri.

4. Hadiah Terbaik Datang Setelah Ujian Terberat

Isra’ Mi’raj adalah jawaban langsung dari Allah atas kesabaran Nabi menghadapi Amul Huzni. Allah seolah ingin berkata, "Jika penduduk bumi menolakmu, maka penduduk langit menyambutmu. Jika engkau diusir dari tanahmu, maka Aku undang engkau ke tempat tertinggi (Sidratul Muntaha)."

Pola ini mengajarkan kita sebuah hukum kehidupan: bahwa anugerah terbesar, kenaikan derajat, dan kemudahan sering kali datang tepat setelah kita berhasil melewati fase ujian yang paling menyesakkan, asalkan kita tetap bersabar.

Logo Radio
🔴 Radio Live