Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra' Mi'raj dengan Cara Berbeda
Refa - Thursday, 15 January 2026 | 04:00 PM


Di tanah Jawa, bulan Rajab (bulan terjadinya Isra' Mi'raj) disambut dengan suasana yang hangat dan guyub. Peringatan ini sering disebut dengan istilah "Rajaban". Bagi masyarakat Jawa, Isra' Mi'raj bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan momentum untuk memperbarui kerukunan warga melalui dua elemen utama: ngaji (belajar agama) dan sedekah (berbagi makanan). Perpaduan antara santapan rohani dalam bentuk pengajian dan santapan jasmani dalam bentuk "berkat" menjadi ciri khas yang tak terpisahkan.
Pengajian Meneladani Kisah Sang Nabi
Inti dari peringatan ini adalah pengajian umum yang digelar di masjid, mushola, atau bahkan di halaman rumah warga. Biasanya, panitia mengundang seorang Kyai atau penceramah untuk menguraikan kembali kronologi perjalanan Nabi Muhammad SAW.
Dalam kultur Jawa, penyampaian kisah ini sering kali dibawakan dengan gaya bertutur yang khas, menyentuh hati, namun tetap diselingi humor segar agar jamaah tidak bosan. Fokus utama ceramah biasanya berpusat pada pentingnya sholat lima waktu sebagai "oleh-oleh" Isra' Mi'raj, mengingatkan warga yang mungkin mulai lalai dalam ibadahnya agar kembali rajin bersujud.
"Berkat" Bukan Sekadar Nasi Kotak
Setelah pengajian usai, acara ditutup dengan pembagian makanan yang disebut "Berkat". Istilah ini berasal dari kata Arab Barakah (keberkahan). Dalam tradisi Jawa, berkat adalah bungkusan makanan (bisa berupa besek anyaman bambu, kotak kardus, atau sterofoam) yang dibawa pulang oleh jamaah.
Filosofinya sangat dalam, yaitu makanan yang telah didoakan bersama dalam majelis ilmu dipercaya mengandung kebaikan dan keberkahan. Membawa pulang berkat berarti membawa pulang doa-doa baik untuk keluarga yang menunggu di rumah yang tidak sempat hadir di pengajian.
Isi Berkat Simbol Kemakmuran dan Kesederhanaan
Isi dari berkat Rajaban sangat bervariasi tergantung kemampuan ekonomi penyelenggara atau desa setempat, namun biasanya terdiri dari nasi putih atau nasi uduk, lauk pauk (seperti ayam goreng, telur rebus, mie goreng, sambal goreng kentang), kerupuk, dan buah pisang.
Di beberapa desa, masih ada tradisi di mana setiap warga membawa ambengan (nasi dan lauk) sendiri dari rumah untuk dikumpulkan, didoakan, lalu ditukar secara acak (tukar berkat) untuk dibawa pulang kembali. Hal ini mengajarkan kerendahan hati dan menghilangkan sekat status sosial; semua orang menikmati makanan yang sama.
Kegembiraan Keluarga di Rumah
Salah satu sisi paling manis dari tradisi berkat adalah antusiasme anggota keluarga di rumah, terutama anak-anak. Bagi anak-anak di pedesaan, menunggu ayah atau kakek pulang dari pengajian Isra' Mi'raj sambil membawa berkat adalah kegembiraan tersendiri. Makanan tersebut terasa jauh lebih nikmat karena dimakan bersama-sama (kembul) dengan keluarga.
Tradisi ini secara tidak langsung menanamkan kecintaan anak-anak terhadap masjid dan majelis agama, karena mereka mengasosiasikan pengajian dengan sesuatu yang membawa kebahagiaan dan kelezatan.
Next News

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
12 hours ago

Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial
17 hours ago

Penyelamat Nasi Putih: Bagaimana Sambal Menjadi Simbol Kemewahan Paling Murah di Indonesia
5 hours ago

Kenapa Radang Tenggorokan Lebih Sering Menyerang Anak-Anak Daripada Orang Dewasa?
18 hours ago

Lebih dari Sekadar "Jamet": Membedah Filosofi di Balik Gaya Rambut Sasuke dan Subkultur Emo
3 days ago

Jangan Kaget Dulu! Membedah Kenapa "Jancok" Jadi Bahasa Cinta Arek Suroboyo
3 days ago

Tren Jorts dan Baggy Jeans 2026: Alasan Mengapa Celana Lebar Lebih Disukai daripada Skinny Jeans
3 days ago

Emang Masih Jaman Baca Koran? Alasan Koran Masih Tetap Layak Untuk Dibeli di Era Digital
4 days ago

Bukan Sekadar Mendayu, Ini Alasan Politis di Balik Vibe Melayu pada Lagu Nasional Indonesia
6 days ago

Bukan Sekadar Lomba 17-an, Egrang adalah "Life Lesson" Tentang Keseimbangan dan Ego
7 days ago






