Ceritra
Ceritra Warga

Cinta Masih Ada, Tapi Hubungan Terasa Melelahkan? Ini Penyebabnya

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 02:30 PM

Background
Cinta Masih Ada, Tapi Hubungan Terasa Melelahkan? Ini Penyebabnya
Ilustrasi perempuan memegang bunga mawar (Pinterest/)

Di awal hubungan, semuanya terasa mudah. Rasa ketertarikan yang tinggi seringkali membuat kita merasa bisa menghadapi apa saja. Kita merasa sangat cocok dan sehati sejiwa.

Tapi, seiring berjalannya waktu, rasa cinta saja ternyata tidak cukup untuk mempertahankan hubungan agar tetap waras dan sehat. Banyak pasangan yang sebenarnya masih saling sayang akhirnya memilih berpisah, bukan karena orang ketiga atau masalah ekonomi, tapi karena mereka gagal "nyambung" satu sama lain.

Komunikasi bukan sekadar bumbu pelengkap, tapi fondasi utama yang menahan bangunan hubungan agar tidak roboh saat masalah datang. Berikut alasan logis kenapa cara kita bicara jauh lebih penting daripada sekadar perasaan cinta.

1. Menghapus Asumsi "Pembaca Pikiran"

Salah satu kesalahan terbesar dalam hubungan yang sudah berjalan lama adalah rasa "sok tahu". Karena sudah bersama bertahun-tahun, kita sering berasumsi bahwa pasangan pasti tahu apa yang kita pikirkan atau rasakan tanpa perlu diucapkan. Kita diam saja saat kesal, berharap dia peka sendiri.

Padahal, pasangan kita bukan paranormal. Mengharapkan mereka mengerti keinginan kita tanpa kita bicara adalah resep paling cepat menuju kekecewaan. Misalnya, kamu lelah mengurus rumah dan berharap pasangan inisiatif membantu. Tapi karena kamu diam saja, dia mengira kamu baik-baik saja. Akhirnya kamu memendam marah, dan dia bingung kenapa kamu mendadak uring-uringan. Keterbukaan untuk meminta apa yang kita butuhkan secara jelas akan memangkas drama tebak-tebakan yang melelahkan ini.

2. Pembeda Antara Solusi dan Perpisahan

Konflik dan perbedaan pendapat itu pasti terjadi. Mustahil dua orang manusia bisa setuju dalam segala hal selamanya. Yang membedakan hubungan yang langgeng dan yang kandas bukan seberapa sering mereka bertengkar, tapi bagaimana cara mereka berkomunikasi saat bertengkar.

Pasangan dengan fondasi komunikasi yang buruk cenderung menyerang pribadi saat marah. Kalimatnya fokus menyalahkan, seperti "Kamu memang egois" atau "Kamu selalu begitu." Sebaliknya, pasangan dengan komunikasi yang baik fokus pada masalahnya, bukan menyerang orangnya. Mereka bisa berkata, "Aku kecewa karena janji kita batal," tanpa melabeli pasangannya sebagai pembohong. Pola komunikasi saat konflik inilah yang menentukan apakah masalah itu akan selesai atau justru makin besar.

3. Mencegah Hubungan Jadi "Teman Sekamar"

Coba perhatikan topik obrolan dengan pasangan akhir-akhir ini. Apakah isinya hanya seputar siapa yang bayar listrik, jadwal jemput anak, atau menu makan malam? Dalam hubungan jangka panjang, komunikasi seringkali turun level menjadi sekadar urusan operasional atau logistik rumah tangga.

Jika ini dibiarkan, lama-kelamaan hubungan suami-istri atau pacaran rasanya hambar seperti teman sekamar (roommate). Kalian tinggal bareng, tapi tidak terkoneksi secara emosional. Komunikasi yang baik memaksa kita untuk menyisihkan waktu membahas hal-hal di luar rutinitas. Sekadar bertanya "Gimana perasaan kamu hari ini?" atau membahas mimpi masa depan bisa menghidupkan kembali rasa kedekatan yang mulai pudar karena kesibukan.

4. Mengimbangi Perubahan Diri

Manusia itu dinamis. Kita dan pasangan saat ini bukanlah orang yang sama persis dengan lima atau sepuluh tahun lalu. Selera kita berubah, tujuan hidup kita bergeser, dan cara pandang kita berkembang.

Tanpa komunikasi yang rutin dan mendalam, kita bisa kehilangan jejak perkembangan pasangan kita. Akibatnya, suatu hari kita bangun dan merasa tidur di sebelah orang asing. Komunikasi berfungsi sebagai alat untuk terus "memperbarui data" tentang siapa pasangan kita sekarang. Ini memastikan kita tumbuh bersama ke arah yang sama, bukan tumbuh sendiri-sendiri ke arah yang berlawanan dan akhirnya menjauh.

Logo Radio
🔴 Radio Live