Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq

Refa - Thursday, 15 January 2026 | 05:00 PM

Background
Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
Ilustrasi kuda bersayap (Pinterest/fayolaola20)

Persiapan keberangkatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar persiapan teknis perjalanan, melainkan sebuah upacara penghormatan (protocol) tingkat tinggi dari penduduk langit kepada penduduk bumi yang paling mulia. Saat Buraq didatangkan, Nabi Muhammad SAW tidak dibiarkan naik sendirian. Dua pemimpin malaikat, Jibril AS dan Mikail AS, mengambil peran spesifik untuk melayani Rasulullah, menandakan betapa agungnya tamu Allah yang satu ini.

Jibril Memegang Tali Kekang (Lijam)

Malaikat Jibril AS, sebagai pemimpin para malaikat dan penyampai wahyu, mengambil posisi di depan. Beliau bertugas memegang tali kekang atau kendali Buraq. Peran ini menyimbolkan fungsi Malaikat Jibril sebagai pemandu utama (guide) yang akan menuntun arah perjalanan menembus dimensi ruang dan waktu menuju Baitul Maqdis dan selanjutnya ke Sidratul Muntaha. Dengan Malaikat Jibril memegang kendali, ini menjamin bahwa perjalanan tersebut berada di bawah bimbingan ilahiah yang pasti dan aman.

Mikail Memegang Sanggurdi (Rikab)

Sementara itu, Malaikat Mikail AS, yang dikenal sebagai malaikat pengatur rezeki dan hujan, mengambil posisi di sisi tubuh Buraq. Beliau bertugas memegang sanggurdi (pijakan kaki pada pelana) dan menahannya agar stabil saat Nabi Muhammad SAW menginjakkan kaki untuk naik ke punggung Buraq. Tindakan Malaikat Mikail ini adalah bentuk pelayanan fisik (khidmah) yang luar biasa, seorang malaikat agung merendahkan diri untuk membantu manusia naik ke kendaraannya. Ini adalah simbol dukungan semesta terhadap misi kenabian Rasulullah.

Momen Buraq Terguncang Emosi

Seperti yang sempat disinggung, saat Nabi hendak naik dengan bantuan kedua malaikat ini, Buraq sempat "menolak" atau bergerak liar (syamas). Malaikar Jibril yang memegang tali kekang langsung menegur dengan tegas: "Wahai Buraq, apakah kepada Muhammad engkau bersikap seperti ini? Padahal tidak ada seorang pun yang menunggangimu yang lebih mulia di sisi Allah selain dia." Mendengar teguran Jibril, Buraq seketika diam mematung. Tubuhnya basah oleh keringat karena rasa malu yang amat sangat dan rasa hormat yang mendalam kepada sosok yang akan ditungganginya. Setelah Buraq tenang, Mikail membantu Nabi menempatkan kakinya, dan perjalanan suci pun dimulai.

Makna di Balik Pelayanan Dua Malaikat

Keterlibatan Jibril dan Mikail dalam prosesi "naik kendaraan" ini menunjukkan status Rasulullah SAW sebagai Sayyidul Anbiya wal Mursalin (Pemimpin para Nabi dan Rasul). Jika raja-raja dunia dilayani oleh pengawal manusia, maka Nabi Muhammad SAW dilayani langsung oleh para pembesar langit. Ini menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan dinas paling prestisius dalam sejarah alam semesta, di mana seluruh elemen langit bahu-membahu menyukseskannya.

Logo Radio
🔴 Radio Live