Ceritra
Ceritra Warga

Sering Duduk Seharian? Kenali Risiko The New Smoking

Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 11:15 AM

Background
Sering Duduk Seharian? Kenali Risiko The New Smoking
Ilustrasi (Pexels/Ron Lach)

Bayangkan skenario ini: Kamu bangun pagi, sedikit terburu-buru karena alarm sempat terabaikan, lalu langsung duduk di depan laptop. Meeting pagi dimulai, disusul dengan deretan tugas yang menuntut konsentrasi penuh. Tanpa terasa, matahari sudah bergeser ke barat, dan satu-satunya alasan kamu berdiri hanyalah untuk ke toilet atau mengambil paket di depan pagar. Selamat, kamu baru saja menjalani gaya hidup yang oleh para pakar kesehatan disebut sebagai "the new smoking" atau kebiasaan merokok gaya baru.

Istilah ini mungkin terdengar agak berlebihan atau sekadar taktik nakut-nakutin dari kaum penganut hidup sehat. Tapi, kalau kita bedah pelan-pelan, perbandingannya masuk akal. James Levine, seorang profesor kedokteran di Mayo Clinic, adalah orang pertama yang mempopulerkan kalimat "Sitting is the new smoking". Menurutnya, duduk diam dalam durasi lama memiliki risiko kesehatan yang setara, bahkan dalam beberapa aspek lebih berbahaya, daripada kebiasaan menghisap tembakau. Bedanya, rokok punya peringatan bergambar menyeramkan di bungkusnya, sementara kursi kantor kita biasanya empuk, ergonomis, dan terlihat sangat tidak berbahaya.

Kenapa Tubuh Kita "Protes" Saat Terlalu Lama Duduk?

Secara evolusi, manusia itu didesain untuk bergerak. Nenek moyang kita dulu kerjanya lari-lari ngejar buruan atau bercocok tanam. Tubuh kita punya sendi yang fleksibel dan otot yang kuat untuk mobilitas. Begitu kita dipaksa duduk diam selama 8 sampai 10 jam sehari, sistem di dalam tubuh kita mulai "bingung".

Saat kamu duduk, aktivitas listrik di otot kaki langsung mati total. Pembakaran kalori turun drastis jadi cuma satu kalori per menit. Enzim yang bertugas memecah lemak, namanya lipase, turun sampai 90 persen. Artinya, lemak yang harusnya diolah jadi energi malah mampir dan menetap di pembuluh darah. Efek jangka pendeknya? Kamu merasa cepat lelah dan otak mulai "foggy" atau lemot. Efek jangka panjangnya? Ya, tumpukan lemak itu bisa memicu obesitas, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung yang datang tanpa permisi.

Ada anggapan bahwa olahraga satu jam di gym setelah pulang kantor bisa menghapus dosa duduk seharian. Sayangnya, riset terbaru bilang nggak semudah itu. Olahraga memang bagus, tapi ia tidak bisa sepenuhnya menetralkan efek negatif dari "sedentary lifestyle" yang dilakukan berjam-jam tanpa jeda. Ibaratnya, kamu mencoba memadamkan kebakaran hutan hanya dengan segelas air.

Sindrom "Pinggang Jompo" dan Bahaya yang Mengintai

Bagi para pejuang rupiah atau budak korporat, istilah "pinggang jompo" mungkin sudah jadi makanan sehari-hari. Kita sering bercanda soal koyo yang menempel di punggung atau bunyi "kretek" saat mencoba berdiri. Tapi di balik candaan itu, ada masalah struktural yang serius. Duduk terlalu lama memberikan tekanan luar biasa pada tulang belakang, terutama di bagian lumbal atau punggung bawah.

Selain masalah tulang, ada ancaman kesehatan mental yang jarang dibahas. Orang yang jarang bergerak cenderung lebih rentan terkena kecemasan dan depresi. Kenapa? Karena saat kita bergerak, tubuh melepaskan hormon endorfin dan dopamin yang bikin mood naik. Kalau seharian cuma duduk natap layar sambil baca email dari bos yang minta revisi, tingkat stres bakal naik tanpa ada penyaluran fisik. Akhirnya, kita jadi gampang emosi, burn out, dan merasa hidup hanya seputar meja kerja saja.

Gaya Hidup "Mager" dan Budaya Hustle Culture

Kita hidup di era yang mendewakan produktivitas. Seringkali, kita merasa bersalah kalau beranjak dari kursi sebelum kerjaan selesai. "Gas terus, mumpung lagi dapet flownya," pikir kita. Tanpa sadar, kita mengorbankan investasi paling berharga, yaitu kesehatan, demi angka-angka di spreadsheet yang mungkin bulan depan sudah dilupakan orang.

Ironisnya, banyak dari kita yang menghabiskan akhir pekan dengan "healing" alias rebahan seharian sambil scrolling media sosial atau marathon drakor. Niatnya mau istirahat, tapi polanya sama saja: tubuh tetap diam. Padahal, tubuh butuh variasi gerakan. Kita perlu menyadari bahwa duduk tegak di depan meja selama berjam-jam bukanlah sebuah prestasi, melainkan risiko yang harus dimitigasi.

Lalu, Harus Gimana? Rahasia Sehat Tanpa Harus Resign

Tenang, artikel ini bukan menyarankan kamu buat resign dan jadi instruktur zumba seketika. Ada cara-cara kecil yang bisa dilakukan untuk memutus rantai "smoking without a cigarette" ini:

  • Aturan 30 Menit: Usahakan berdiri atau berjalan kecil setiap 30 menit sekali. Set timer kalau perlu. Cuma sekadar ambil minum ke pantry atau stretching ringan sudah cukup buat "membangunkan" enzim di tubuhmu.
  • Stand-up Meeting: Kalau lagi rapat santai atau teleponan, coba lakukan sambil berdiri atau jalan mondar-mandir di ruangan. Selain sehat, biasanya ide-ide lebih lancar keluar saat tubuh bergerak.
  • Tangga adalah Teman: Kalau kantormu di lantai dua atau tiga, lupakan lift. Anggap saja itu sesi cardio gratisan di tengah jam kerja.
  • Postur Itu Kunci: Pastikan posisi layar sejajar mata supaya leher nggak pegal, dan posisi kaki menapak sempurna di lantai. Jangan sering-sering menyilangkan kaki karena itu menghambat sirkulasi darah.

Kesimpulannya, kursi kantor memang nggak mengeluarkan asap, tapi dampak buruknya bagi jantung dan metabolisme bisa setara dengan rokok jika kita abai. Jangan biarkan kursi empukmu jadi "kuburan" bagi kesehatanmu di masa depan. Yuk, mulai sekarang lebih peka sama sinyal tubuh. Kalau pinggang sudah mulai protes, itu kode keras dari tubuh buat berdiri dan bergerak. Ingat, kerja keras itu perlu, tapi sehat itu mutlak. Jangan sampai gaji yang kamu kumpulkan susah payah nantinya cuma habis buat bayar fisioterapi atau berobat ke spesialis dalam. Stay active, kawan-kawan pejuang cuan!

Logo Radio
🔴 Radio Live