Kenapa Kita Sering Bilang Belum Lima Menit Saat Makanan Jatuh?
Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 08:20 PM


Pernahkah Anda berada dalam situasi krusial di mana sepotong martabak telur yang baru saja dibeli dengan penuh perjuangan tiba-tiba meluncur bebas dari tangan dan mendarat dengan tidak estetik di lantai? Dalam sepersekian detik, otak kita biasanya akan melakukan kalkulasi kilat yang lebih cepat daripada prosesor komputer tercanggih sekalipun. Sebelum debu sempat menempel, tangan kita sudah bergerak secepat kilat memungut martabak itu sambil merapalkan mantra sakti: "Belum lima menit!"
Fenomena "belum lima menit" atau dalam skala global dikenal sebagai the five-second rule adalah sebuah kearifan lokal yang entah bagaimana bisa disepakati secara kolektif oleh hampir seluruh penduduk bumi. Ini adalah bentuk pembenaran massal agar kita tidak merasa berdosa saat memakan kembali makanan yang sudah mencium lantai. Tapi, kalau kita mau jujur dan sedikit memakai logika sains, apakah bakteri di lantai memang punya rasa sopan santun untuk menunggu lima menit sebelum mereka "menyerbu" makanan kita?
Bakteri Tidak Punya Stopwatch
Mari kita mulai dengan fakta yang agak pahit: bakteri tidak punya jam tangan, apalagi stopwatch. Bayangan kita bahwa bakteri adalah sekumpulan makhluk kecil yang sedang duduk-duduk santai di lantai lalu kaget saat ada makanan jatuh dan butuh waktu lima menit untuk bersiap-siap menyerang adalah sebuah ilusi yang sangat menghibur namun keliru. Secara mikrobiologi, transfer bakteri terjadi dalam hitungan milidetik. Begitu makanan menyentuh permukaan, saat itulah proses kontaminasi dimulai.
Dalam sebuah penelitian populer yang dilakukan oleh Prof. Donald Schaffner dari Rutgers University, ditemukan bahwa bakteri tidak butuh waktu lama untuk berpindah tempat. Dalam beberapa skenario, perpindahan bakteri terjadi seketika, kurang dari satu detik setelah kontak terjadi. Jadi, jargon "belum lima menit" secara teknis adalah hoaks besar. Bakteri seperti Salmonella atau E. coli tidak akan berdiskusi dulu dengan teman-temannya sebelum memutuskan untuk menempel di potongan ayam goreng Anda.
Tekstur Makanan: Si Basah yang Lebih Rentan
Namun, sains juga memberikan sedikit kelonggaran. Tidak semua makanan yang jatuh memiliki risiko yang sama. Di sinilah variabel "tekstur" memegang peranan kunci. Jika yang jatuh adalah kerupuk atau biskuit kering, risiko kontaminasi bakterinya jauh lebih rendah dibandingkan jika yang jatuh adalah sepotong semangka atau spageti yang penuh saus. Mengapa demikian?
Air adalah kendaraan utama bagi bakteri. Makanan yang lembap atau basah memiliki daya serap yang jauh lebih tinggi untuk menarik bakteri dari permukaan lantai. Bakteri butuh kelembapan untuk bergerak. Jadi, kalau Anda menjatuhkan kerupuk kaleng yang kering kerontang ke lantai yang bersih, mungkin (sekali lagi, mungkin) Anda masih punya kesempatan untuk menikmatinya tanpa rasa khawatir berlebih. Tapi kalau yang jatuh adalah cilok bumbu kacang atau es krim, lupakan saja. Bakteri sudah melakukan pesta pora di sana sebelum Anda sempat mengedipkan mata.
Misteri Lantai: Karpet vs Keramik
Hal yang lebih mengejutkan lagi muncul dari jenis permukaan lantai. Logika awam kita mungkin berpikir bahwa karpet adalah tempat paling kotor karena menyimpan debu dan remah-remah masa lalu. Namun, penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya dalam konteks transfer bakteri. Karpet ternyata memiliki tingkat transfer bakteri yang paling rendah dibandingkan dengan ubin keramik atau kayu parket.
Kenapa bisa begitu? Ini masalah luas permukaan. Di atas keramik yang rata, seluruh permukaan makanan yang jatuh akan bersentuhan langsung dengan permukaan lantai yang mungkin penuh kuman. Sementara di karpet, serat-seratnya justru "menahan" bakteri agar tidak langsung menempel pada makanan. Meskipun demikian, ini bukan berarti Anda disarankan untuk lebih sering menjatuhkan makanan di atas karpet rumah teman. Ini hanya menunjukkan bahwa permukaan yang terlihat bersih secara visual (seperti keramik mengkilap) belum tentu lebih aman secara mikrobiologi.
Bahaya yang Mengintai: Bukan Sekadar Sakit Perut
Mungkin banyak dari kita yang merasa kebal. "Ah, saya sering makan makanan jatuh tapi sehat-sehat saja sampai sekarang," begitu biasanya pembelaan kaum mendang-mending. Memang betul, sistem imun manusia itu luar biasa kuat. Namun, jangan salah sangka, risiko terpapar kuman berbahaya itu tetap ada dan nyata.
Bakteri seperti Salmonella typhimurium bisa bertahan hidup di permukaan kering selama berminggu-minggu. Jika kebetulan lantai yang Anda anggap bersih itu pernah dilewati oleh kecoa atau alas kaki yang membawa kotoran dari luar, maka satu detik saja sudah cukup untuk memindahkan kuman penyebab diare akut atau keracunan makanan serius. Ini bukan lagi soal "belum lima menit", tapi soal keberuntungan. Apakah Anda sedang sial hari ini atau tidak?
Antara Logika dan Rasa Sayang pada Makanan
Pada akhirnya, aturan "belum lima menit" lebih merupakan masalah psikologis daripada biologi. Kita merasa sayang membuang makanan yang enak, apalagi kalau harganya mahal atau perjuangan mendapatkannya cukup berat (seperti antre berjam-jam). Kita menciptakan mitos ini sebagai mekanisme pertahanan diri agar tidak merasa bersalah karena bersikap boros atau mubazir.
Sikap kita terhadap makanan jatuh biasanya sangat subjektif. Kalau yang jatuh adalah nasi satu butir, kita akan dengan cuek membiarkannya. Tapi kalau yang jatuh adalah potongan terakhir daging steak premium, tiba-tiba kita menjadi ahli mikrobiologi amatir yang meyakinkan diri sendiri bahwa lantai tersebut baru saja dipel dengan karbol pembunuh kuman 99%.
Haruskah Kita Berhenti?
Jadi, apakah kita harus benar-benar membuang setiap makanan yang jatuh? Secara medis dan keamanan pangan: Iya. Tidak ada waktu aman bagi bakteri untuk berpindah. Namun, secara realitas kehidupan sehari-hari, pilihan ada di tangan Anda (dan sistem imun Anda). Jika lantai rumah Anda benar-benar bersih dan yang jatuh adalah makanan kering, risikonya mungkin minimal. Tapi kalau makanan tersebut jatuh di tempat umum seperti mal atau trotoar, sebaiknya ikhlaskan saja.
Dunia mikrobiologi tidak mengenal toleransi waktu. Bakteri adalah ninja yang efisien. Lain kali jika makanan Anda jatuh, ingatlah bahwa "belum lima menit" hanyalah cara kita untuk menghibur hati yang lara karena kehilangan satu suapan kebahagiaan. Kesehatan Anda tentu jauh lebih berharga daripada sepotong gorengan yang sudah bertukar kuman dengan lantai, bukan?
Next News

Mengapa Like dan Komentar Tak Bisa Mengobati Rasa Sepimu?
35 minutes ago

Sering Merasa HP Bergetar Padahal Tidak? Simak Penjelasannya
2 hours ago

Mitos atau Fakta Sinyal Ponsel Bisa Mengganggu Navigasi Pesawat
2 hours ago

Sering Dapat Ide Pas Mandi? Kamu Gak Sendiri, Ini Alasannya
3 hours ago

Cuma Pajangan? Simak Fakta Menarik Mengapa Pria Memiliki Puting
4 hours ago

Trik Tetap Produktif Meski Ngantuk Melanda Setelah Makan
5 hours ago

Mengenal Istilah Generasi Micin dan Ironi di Balik Gurihnya MSG
6 hours ago

Sering Oles Odol ke Jerawat? Kenali Risikonya Sebelum Terlambat
6 hours ago

Benarkah Mandi Malam Picu Rematik? Simak Penjelasannya di Sini
7 hours ago

Suhu Jakarta Ekstrem? Tips Tidur Nyaman Tanpa Pasang AC di Rumah
8 hours ago






