Mitos atau Fakta Sinyal Ponsel Bisa Mengganggu Navigasi Pesawat
Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 06:15 PM


Bayangkan skenario ini: Kamu sudah duduk manis di kursi pesawat, sabuk pengaman sudah klik, dan kamu baru saja mau asyik scroll feed Instagram buat pamer foto sayap pesawat yang estetik. Tiba-tiba, suara pramugari lewat interkom terdengar tegas mengingatkan semua penumpang untuk mengaktifkan "Mode Pesawat" atau mematikan perangkat elektronik. Di saat itu, mungkin ada secercah pikiran nakal di kepala kamu: "Emang beneran ya, kalau gue tetep nyalain data seluler, pesawat ini bakal tiba-tiba oleng terus jatuh?"
Selama bertahun-tahun, aturan soal mode pesawat ini seringkali dibumbui bumbu mistis dan ketakutan yang agak berlebihan. Seolah-olah, satu buah smartphone yang lupa dimatikan sinyalnya bisa menjadi senjata pemusnah massal yang mengacaukan sistem navigasi canggih seharga triliunan rupiah. Tapi, apakah kenyataannya memang seseram itu? Atau jangan-jangan, kita selama ini cuma "ditakut-takuti" demi kenyamanan kuping pak pilot saja? Mari kita bedah pelan-pelan, biar nggak salah paham lagi pas nanti mudik atau liburan.
Mitos Pesawat Jatuh Gara-Gara TikTok-an
Mari kita luruskan satu hal dulu: Sampai detik ini, hampir tidak ada catatan kecelakaan pesawat komersial yang penyebab utamanya murni karena satu atau dua orang penumpang lupa mematikan sinyal HP. Sistem pesawat modern itu dirancang dengan proteksi yang luar biasa ketat. Kabel-kabelnya dilindungi lapisan pelindung (shielding) yang sangat kuat agar tidak terpengaruh oleh gelombang radio dari luar. Jadi, bayangan bahwa pesawat bakal kehilangan kendali dan terjun bebas cuma gara-gara kamu lagi asyik kirim WhatsApp itu lebih cocok jadi plot film aksi kelas B di Hollywood daripada jadi kenyataan ilmiah.
Namun, bukan berarti aturan ini dibuat tanpa alasan. Meskipun tidak membuat pesawat jatuh, sinyal HP kamu bisa menimbulkan apa yang disebut dengan interferensi elektromagnetik. Masalahnya bukan pada "jatuh atau tidaknya", tapi lebih kepada gangguan komunikasi yang bisa bikin pusing kepala para kru di kokpit.
Suara "Dit-Dit-Dit" yang Bikin Pilot Emosi
Pernah nggak kamu naruh HP di dekat speaker atau radio jadul, terus tiba-tiba terdengar suara "dit-dit-dit-dit" yang berisik banget sebelum ada telepon masuk? Nah, fenomena itulah yang sebenarnya paling dihindari di dunia penerbangan. Pesawat berkomunikasi dengan menara pengawas menggunakan radio frekuensi tinggi. Saat ada puluhan atau ratusan HP di kabin yang terus-menerus "berteriak" mencari sinyal ke tower di darat, sinyal-sinyal ini bisa bocor ke sistem audio pilot.
Bayangkan kamu adalah seorang pilot yang sedang konsentrasi penuh melakukan pendaratan di tengah cuaca buruk, dan di telinga kamu lewat headset terdengar suara statis yang berisik gara-gara ada penumpang yang maksa pengen update status. Gangguan suara ini bisa menutupi instruksi penting dari Air Traffic Control (ATC). Kalau instruksi soal ketinggian atau jalur landasan nggak terdengar jelas gara-gara gangguan sinyal HP, di situlah letak bahaya yang sebenarnya. Jadi, aturan mode pesawat itu lebih ke arah menjaga etika komunikasi dan keselamatan prosedur, bukan karena mesin pesawat bakal meledak.
Masalah di Darat: Menara Seluler yang Bingung
Alasan lain yang jarang diketahui orang adalah masalah bagi operator seluler di darat. Saat kamu berada di darat, HP kamu biasanya terhubung ke satu atau dua menara seluler terdekat. Tapi saat kamu berada di ketinggian ribuan kaki dan melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, HP kamu bakal mencoba "menyapa" setiap menara seluler yang dilewatinya di bawah sana.
Perpindahan sinyal yang sangat cepat dari satu menara ke menara lain ini bisa bikin jaringan di darat kewalahan atau mengalami kemacetan (congestion). Jadi, mematikan sinyal di pesawat sebenarnya juga bentuk bantuan kita kepada para pengguna HP di darat supaya koneksi mereka nggak terganggu oleh "interferensi dari langit".
Era 5G: Tantangan Baru di Dunia Penerbangan
Mungkin ada yang bertanya, "Lho, bukannya sekarang sudah banyak maskapai yang menyediakan Wi-Fi di pesawat?" Betul banget. Tapi Wi-Fi pesawat itu beda jalur frekuensinya dengan sinyal seluler biasa. Wi-Fi di pesawat biasanya menggunakan koneksi satelit yang memang jalurnya sudah disiapkan supaya tidak bentrok dengan sistem navigasi.
Belakangan ini, perdebatan soal mode pesawat kembali memanas gara-gara teknologi 5G. Di Amerika Serikat, sempat ada drama antara maskapai penerbangan dengan perusahaan telekomunikasi. Ternyata, frekuensi 5G tertentu lokasinya sangat berdekatan dengan frekuensi yang digunakan oleh alat bernama "radio altimeter" di pesawat—alat yang berfungsi mengukur jarak pesawat dengan tanah secara akurat, terutama saat mendarat otomatis di tengah kabut. Inilah alasan kenapa otoritas penerbangan masih sangat berhati-hati dan tetap mewajibkan mode pesawat, karena teknologi seluler terus berkembang dan kita nggak mau ambil risiko sekecil apa pun.
Alasan Tersembunyi: Ketenangan Sosial
Selain alasan teknis, mari kita jujur-jujuran. Pernahkah kamu membayangkan kalau mode pesawat ditiadakan dan semua orang boleh menelepon sepanjang penerbangan? Ruang kabin yang sempit itu bakal berubah jadi pasar kaget. Kamu bakal mendengar orang di sebelahmu berantem sama pacarnya, bos yang marah-marah ke anak buahnya, sampai ibu-ibu yang asyik ngegosip lewat video call dengan suara kencang. Itu bakal jadi neraka di ketinggian 35.000 kaki.
Mode pesawat secara tidak langsung menjadi "penjaga kedamaian" di dalam kabin. Ia memaksa kita untuk tenang, membaca buku, menonton film, atau sekadar tidur tanpa gangguan dering ponsel orang lain. Jadi, aturan ini sebenarnya juga menyelamatkan kesehatan mental kita selama perjalanan panjang.
Ribet Dikit, yang Penting Selamat
Jadi, apakah HP bisa menjatuhkan pesawat? Secara teoritis sangat kecil kemungkinannya, tapi secara teknis ia bisa mengganggu komunikasi vital antara pilot dan pengawas lalu lintas udara. Menghidupkan mode pesawat bukan cuma soal mengikuti aturan yang kaku, tapi soal menghargai kerja keras pilot di depan sana yang sedang memastikan kita sampai dengan selamat.
Lagi pula, apa sih ruginya nggak online selama beberapa jam? Anggap saja itu waktu buat "digital detox". Duniamu nggak bakal runtuh cuma karena telat balas chat selama dua jam penerbangan Jakarta-Bali, kan? Tapi kalau kamu bandel, suara berisik di headset pilot bisa saja bikin mereka salah dengar instruksi, dan itu baru namanya masalah besar. Jadi, yuk, tetap patuhi aturan mode pesawat. Demi keamanan, demi ketenangan, dan demi telinga pak pilot yang nggak pengang.
Next News

Kenapa Kita Sering Bilang Belum Lima Menit Saat Makanan Jatuh?
in 37 minutes

Mengapa Like dan Komentar Tak Bisa Mengobati Rasa Sepimu?
28 minutes ago

Sering Merasa HP Bergetar Padahal Tidak? Simak Penjelasannya
an hour ago

Sering Dapat Ide Pas Mandi? Kamu Gak Sendiri, Ini Alasannya
2 hours ago

Cuma Pajangan? Simak Fakta Menarik Mengapa Pria Memiliki Puting
3 hours ago

Trik Tetap Produktif Meski Ngantuk Melanda Setelah Makan
4 hours ago

Mengenal Istilah Generasi Micin dan Ironi di Balik Gurihnya MSG
5 hours ago

Sering Oles Odol ke Jerawat? Kenali Risikonya Sebelum Terlambat
5 hours ago

Benarkah Mandi Malam Picu Rematik? Simak Penjelasannya di Sini
6 hours ago

Suhu Jakarta Ekstrem? Tips Tidur Nyaman Tanpa Pasang AC di Rumah
8 hours ago






