Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Istilah Generasi Micin dan Ironi di Balik Gurihnya MSG

Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 02:15 PM

Background
Mengenal Istilah Generasi Micin dan Ironi di Balik Gurihnya MSG
Ilustrasi (Alodokter/)

Kalau ada satu hal yang paling sering disalahkan atas rendahnya nilai matematika atau kelakuan absurd anak muda zaman sekarang, jawabannya cuma satu: micin. Istilah "Generasi Micin" telanjur melekat sebagai label buat mereka yang dianggap kurang cerdas atau sering melakukan tindakan nggak masuk akal. Padahal, kalau mau jujur, banyak dari kita yang tetap saja memesan bakso dengan tambahan dua sendok MSG supaya kuahnya makin "nendang" di lidah. Ironis, bukan?

Selama puluhan tahun, Monosodium Glutamat (MSG) telah menjadi musuh publik nomor satu di dapur. Ia dituduh menyebabkan pusing, mual, hingga penurunan kecerdasan otak. Namun, pernahkah kita bertanya-tanya, dari mana asalnya stigma negatif ini? Kenapa garam dapur atau merica tidak pernah mendapatkan kebencian yang sama? Ternyata, kebencian terhadap micin bukan berawal dari laboratorium sains, melainkan dari sebuah surat pembaca dan sentimen rasisme yang terselubung.

Tragedi "Chinese Restaurant Syndrome"

Mari kita putar waktu kembali ke tahun 1968. Semuanya bermula ketika seorang dokter bernama Robert Ho Man Kwok menulis surat ke New England Journal of Medicine. Dalam surat pendek itu, ia menceritakan pengalamannya merasakan gejala aneh seperti mati rasa di tengkuk, kelelahan, dan jantung berdebar setelah makan di restoran China di Amerika Serikat. Ia berspekulasi, mungkinkah ini karena kecap asin, alkohol untuk memasak, atau MSG?

Celakanya, media massa saat itu langsung "menggoreng" spekulasi ini tanpa riset mendalam. Mereka menciptakan istilah "Chinese Restaurant Syndrome" atau Sindrom Restoran China. Sejak saat itu, micin resmi menjadi kambing hitam. Padahal, kalau dipikir-pikir pakai logika sederhana, banyak makanan Barat seperti keju Parmesan atau tomat yang punya kadar glutamat alami sangat tinggi, tapi kenapa nggak ada yang mengeluh kena "Sindrom Restoran Italia" setelah makan pizza?

Di balik kepanikan kesehatan ini, ada sejarah gelap xenofobia (ketakutan terhadap orang asing). Pada masa itu, imigran Asia di Amerika Serikat sering dipandang dengan sebelah mata. Restoran China dianggap sebagai tempat makan yang kotor dan menggunakan bahan-bahan eksotis yang berbahaya. Micin pun jadi senjata empuk untuk memojokkan budaya kuliner Asia. Jadi, kebencian terhadap micin sebenarnya lebih kental aroma politiknya daripada aroma dapurnya.

Sains Bicara: Apa Itu MSG Sebenernya?

Sekarang, mari kita buang jauh-jauh prasangka dan bicara soal data. MSG terdiri dari dua zat utama: Natrium (sodium) dan Glutamat. Natrium ya garam biasa yang ada di meja makanmu, sedangkan Glutamat adalah asam amino yang sangat lazim ditemukan di alam. Tubuh kita bahkan memproduksi glutamat sendiri untuk membantu fungsi otak.

Coba cek bahan-bahan alami ini: tomat, jamur, keju, daging sapi, bahkan ASI (Air Susu Ibu). Semuanya mengandung glutamat alami. Rasa gurih yang kita sebut "Umami" itu berasal dari glutamat ini. Secara kimiawi, tubuh kita nggak bisa membedakan mana glutamat yang berasal dari sepotong tomat organik dan mana yang berasal dari kristal micin putih di bungkus sasetan. Keduanya diproses dengan cara yang sama persis.

Lalu, apa benar micin bikin bodoh? Penelitian yang dulu sering dikutip untuk mendukung klaim ini biasanya melibatkan tikus laboratorium yang disuntikkan MSG dalam dosis yang sangat nggak masuk akal—langsung ke otak atau perutnya. Ya jelas saja tikusnya sakit! Kalau kamu disuruh minum air putih 20 liter dalam sejam juga pasti keracunan. Dalam konteks konsumsi manusia yang normal, belum ada studi kredibel yang mampu membuktikan bahwa MSG merusak sel otak atau menurunkan IQ.

Kenapa Kita Masih Sering Merasa Pusing?

Mungkin ada di antara kamu yang protes, "Tapi beneran, setiap gue makan micin kebanyakan, leher gue berasa kaku!" Oke, mari kita bedah secara subjektif. Rasa haus atau tenggorokan kering setelah makan makanan bermicin biasanya disebabkan oleh kandungan natriumnya. Namanya juga "Monosodium", berarti ada kandungan garam di sana. Konsumsi garam berlebih memang bikin haus dan bisa memicu tekanan darah naik, tapi itu berlaku buat semua jenis garam, bukan cuma micin.

Selain itu, ada faktor psikologis yang disebut efek plasebo (atau lebih tepatnya *nocebo*). Karena kita sudah didoktrin sejak kecil bahwa micin itu jahat, otak kita secara otomatis mencari-cari gejala sakit setelah makan makanan yang kita curigai banyak micinnya. Padahal, bisa jadi pusingnya itu karena kita makannya sambil mikirin tagihan pinjol yang belum lunas, atau sesederhana karena kita dehidrasi.

Berhenti Menyalahkan Micin

Hingga saat ini, lembaga kesehatan dunia seperti FDA (Amerika Serikat), WHO, hingga BPOM di Indonesia menyatakan bahwa MSG aman dikonsumsi. Tentu saja, kata kuncinya adalah "secukupnya". Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Makan nasi kebanyakan bikin diabetes, minum air kebanyakan bisa bikin hiponatremia, dan nonton mantan kebanyakan bisa bikin galau.

Jadi, sudah saatnya kita berhenti menjadikannya kambing hitam atas kebodohan kolektif. Kalau nilai ujian jelek, mungkin karena kurang belajar, bukan karena kebanyakan makan bakso. Kalau gagal fokus pas kerja, mungkin karena kurang tidur, bukan karena tadi siang makan ayam geprek level 10 dengan ekstra micin.

Sebagai penutup, micin adalah salah satu penemuan hebat dalam sejarah kuliner yang memungkinkan orang dengan budget terbatas bisa merasakan makanan enak. Tanpa MSG, industri kuliner dunia mungkin akan terasa lebih hambar. Jadi, yuk lebih bijak dalam mencerna informasi. Jangan sampai literasi kita kalah gurih sama kuah mi instan. Micin nggak bikin bodoh, yang bikin bodoh adalah malas membaca dan menelan mentah-mentah misinformasi dari masa lalu.

Logo Radio
🔴 Radio Live