Mengapa Like dan Komentar Tak Bisa Mengobati Rasa Sepimu?
Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 07:15 PM


Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja melewati hari yang melelahkan. Bos di kantor lagi hobi marah-marah, atau mungkin tugas kuliah menumpuk sampai-sampai kamu lupa kapan terakhir kali melihat matahari. Sepanjang jalan pulang, jempolmu sibuk menari di atas layar smartphone. Kamu membalas puluhan chat di grup WhatsApp, mengirim stiker lucu ke pacar, hingga memberikan tanda "love" di unggahan Instagram teman lama. Secara teknis, kamu sedang "berhubungan" dengan manusia lain. Tapi entah kenapa, sesampainya di kamar, ada perasaan hampa yang nyesek di dada. Ada sesuatu yang kosong, yang nggak bisa diisi cuma pakai emoji pelukan atau kata-kata penyemangat di kolom komentar.
Fenomena ini bukan sekadar rasa kesepian biasa atau gejala "kurang piknik". Dalam dunia psikologi dan biologi, kondisi ini punya nama yang cukup puitis sekaligus mengerikan: Skin Hunger atau kelaparan sentuhan fisik. Iya, kamu nggak salah baca. Kulit kita pun bisa merasa lapar, dan celakanya, ia nggak bisa dikenyangkan hanya dengan koneksi internet 5G.
Biologi di Balik Skin Hunger
Selama ini kita sering menganggap kulit hanyalah pembungkus daging dan tulang. Padahal, kulit adalah organ sensorik terbesar yang kita punya. Di bawah lapisan epidermis kita, terdapat jutaan saraf yang disebut C-tactile afferents. Saraf-saraf ini punya satu tugas khusus: merespons sentuhan lembut yang bersifat afektif atau penuh kasih sayang.
Ketika seseorang menepuk pundakmu saat kamu lagi sedih, atau ketika sahabatmu merangkul bahumu saat kalian lagi tertawa bareng, saraf-saraf ini mengirim sinyal langsung ke otak. Hasilnya? Tubuh kita bakal memproduksi hormon oksitosin, yang sering dijuluki sebagai "hormon cinta" atau "hormon ikatan". Oksitosin ini adalah penawar racun alami bagi kortisol, si hormon stres. Tanpa oksitosin yang dipicu oleh sentuhan, tubuh kita perlahan-lahan bakal masuk ke mode stres kronis. Efeknya nggak main-main: sistem imun menurun, detak jantung jadi nggak stabil, dan kualitas tidur berantakan. Jadi, kalau kamu merasa gampang sakit atau gampang cemas padahal sudah makan vitamin lengkap, mungkin yang kamu butuhkan bukan cuma suplemen, tapi jabat tangan yang erat atau pelukan dari orang tersayang.
Paradoks Generasi "Full Screen"
Lucunya, kita hidup di era di mana kita merasa paling terkoneksi, padahal secara fisik kita justru paling terisolasi. Kita bisa video call berjam-jam sampai HP panas, tapi kita kehilangan momen-momen kecil seperti berjabat tangan saat baru bertemu atau sekadar bersenggolan bahu saat berjalan bersama. Di media sosial, semua orang terlihat akrab, tapi di dunia nyata, banyak dari kita yang merasa kaku bahkan hanya untuk sekadar memberikan tepukan penyemangat di bahu teman.
Generasi muda saat ini seringkali terjebak dalam budaya "sentuhan romantis atau tidak sama sekali". Kita menganggap sentuhan fisik itu hanya milik pasangan atau keluarga inti. Padahal, manusia butuh sentuhan platonis—sentuhan yang tidak ada hubungannya dengan urusan romansa atau seksual. Tepukan di punggung setelah presentasi yang sukses, atau pelukan persahabatan saat ada teman yang lagi breakdown, itu adalah kebutuhan dasar biologis. Tanpa itu, kita mengalami apa yang disebut touch starvation atau kekurangan gizi sentuhan.
Kenapa Chattingan Saja Nggak Cukup?
Banyak orang berargumen, "Kan gue tiap hari chattingan, teleponan juga sering, kok masih merasa haus sentuhan?" Masalahnya, otak kita itu pintar tapi juga agak "kolot". Secara evolusi, otak manusia selama ribuan tahun sudah diprogram untuk mengenali kehadiran fisik sebagai bentuk keamanan. Bagi otak purba kita, kehadiran fisik berarti perlindungan. Sedangkan sinyal digital, meskipun canggih, belum bisa sepenuhnya menggantikan sensasi hangat dari suhu tubuh manusia lain atau tekanan lembut di kulit yang menandakan "Aku ada di sini bersamamu".
Efek dari skin hunger ini seringkali tersamar. Kita jadi lebih sensitif, gampang tersinggung, atau malah merasa hampa secara emosional. Ada semacam rasa rindu yang nggak jelas alamatnya ke mana. Kita merasa kesepian di tengah keramaian notifikasi. Itulah saat di mana kulitmu sebenarnya sedang berteriak minta diperhatikan.
Mengembalikan Koneksi yang Nyata
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita harus memeluk semua orang yang kita temui di jalan? Tentu nggak begitu juga, karena kita tetap harus menghargai batasan atau consent orang lain. Namun, kita bisa mulai dengan hal-hal kecil. Coba kurangi kebiasaan menyapa teman hanya lewat layar saat kalian sedang duduk di kafe yang sama. Taruh HP-mu, dan kalau situasinya tepat, berikan jabat tangan yang mantap atau rangkulan saat berpamitan.
Bagi yang punya hewan peliharaan, mengelus kucing atau anjing juga terbukti secara ilmiah bisa membantu mengurangi skin hunger. Namun tetap saja, interaksi antarmanusia adalah yang utama. Kita perlu menormalisasi kembali sentuhan-sentuhan kecil yang tulus dalam pertemanan. Jangan biarkan layar smartphone yang tipis itu menjadi tembok raksasa yang memisahkan kita dari kehangatan manusiawi.
Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa seberapa pun canggihnya teknologi AI atau seberapa pun jernihnya resolusi layar kita, mereka nggak punya suhu tubuh. Mereka nggak bisa memberikan ketenangan lewat tepukan lembut di pundak. Jadi, sempatkanlah untuk bertemu, bersalaman, dan merangkul orang-orang terdekatmu. Karena di dunia yang semakin serba virtual ini, sentuhan fisik adalah pengingat paling nyata bahwa kita masih menjadi manusia yang utuh.
Next News

Kenapa Kita Sering Bilang Belum Lima Menit Saat Makanan Jatuh?
in 35 minutes

Sering Merasa HP Bergetar Padahal Tidak? Simak Penjelasannya
an hour ago

Mitos atau Fakta Sinyal Ponsel Bisa Mengganggu Navigasi Pesawat
an hour ago

Sering Dapat Ide Pas Mandi? Kamu Gak Sendiri, Ini Alasannya
2 hours ago

Cuma Pajangan? Simak Fakta Menarik Mengapa Pria Memiliki Puting
3 hours ago

Trik Tetap Produktif Meski Ngantuk Melanda Setelah Makan
4 hours ago

Mengenal Istilah Generasi Micin dan Ironi di Balik Gurihnya MSG
5 hours ago

Sering Oles Odol ke Jerawat? Kenali Risikonya Sebelum Terlambat
5 hours ago

Benarkah Mandi Malam Picu Rematik? Simak Penjelasannya di Sini
6 hours ago

Suhu Jakarta Ekstrem? Tips Tidur Nyaman Tanpa Pasang AC di Rumah
8 hours ago






