Sering Merasa HP Bergetar Padahal Tidak? Simak Penjelasannya
Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 06:15 PM


Bayangkan skenario ini: Kamu lagi asyik nongkrong di kafe, pesanan kopi susu gula arenmu baru saja datang, dan obrolan dengan teman lagi seru-serunya. Tiba-tiba, di balik saku celana jeans yang agak ketat itu, kamu merasakan sensasi getar yang familiar. Bzzzt... bzzzt...
Refleks, tanganmu langsung merogoh saku secepat kilat. Pikiranmu sudah melanglang buana: apakah ini balasan chat dari gebetan yang sudah di-ghosting tiga hari? Atau jangan-jangan bos di kantor lagi "kumat" mengirim revisi di jam luar kerja? Tapi pas layar HP menyala, kenyataan pahit menghantam. Layarnya bersih. Tidak ada notifikasi WhatsApp, tidak ada mention Instagram, bahkan SMS dari operator yang menawarkan paket kuota pun tidak ada. Nihil.
Selamat, kamu baru saja menjadi korban dari fenomena yang namanya Phantom Vibration Syndrome atau sindrom getaran semu. Dan tenang saja, kamu nggak sendirian. Ini bukan karena paha kamu lagi kesemutan atau ada makhluk halus penunggu kafe yang lagi iseng mencolek sakumu. Ini adalah bukti nyata bahwa otak modern kita sudah berhasil "di-hack" oleh teknologi.
Bukan Mistis, Ini Urusan Neurologis
Secara ilmiah, fenomena ini sering juga disebut sebagai Vibranxiety atau Ringxiety. Tapi pertanyaannya, kenapa otak kita bisa se-halu itu? Jawabannya ada pada cara otak kita mengolah informasi atau yang dalam psikologi dikenal sebagai Signal Detection Theory.
Gini lho logikanya: Otak kita itu sebenarnya adalah mesin pencari pola yang sangat ambisius. Di zaman purba, otak kita dilatih untuk waspada terhadap suara kresek-kresek di semak-semak. Pilihannya cuma dua: itu adalah harimau yang mau menerkam, atau cuma angin lewat. Karena taruhannya nyawa, otak lebih memilih untuk "salah sangka" menganggap angin sebagai harimau (false alarm) daripada menganggap harimau sebagai angin (mati dimakan harimau).
Nah, di abad ke-21 ini, "harimau" kita sudah berubah wujud menjadi notifikasi. Bagi manusia modern, pesan masuk atau likes di media sosial adalah bentuk validasi sosial yang sangat krusial. Kita sangat haus akan interaksi. Akibatnya, otak kita menjadi terlalu sensitif. Gesekan kain celana ke kulit, kontraksi otot paha yang kecil, atau bahkan suara gesekan kursi di lantai bisa salah ditafsirkan oleh sistem saraf kita sebagai getaran HP. Otakmu lebih memilih memberikan alarm palsu daripada kamu harus melewatkan satu notifikasi penting.
Dopamin dan Jebakan "Slot Machine"
Kalau kita mau jujur-jujuran, kenapa sih kita begitu peduli sama getaran itu? Kenapa kita nggak santai aja kalau ada chat yang telat dibalas? Masalahnya, aplikasi di HP kita itu didesain dengan prinsip yang sama dengan mesin judi slot di Las Vegas. Para desainer aplikasi tahu betul cara memanipulasi hormon dopamin di otak kita.
Setiap kali ada getaran dan ternyata itu adalah berita menyenangkan (misalnya: saldo masuk atau balasan chat manis), otak kita bakal banjir dopamin. Kita merasa senang, puas, dan tertantang untuk mencari sensasi itu lagi. Inilah yang membuat kita mengalami pengkondisian (conditioning). Kita sudah terlatih layaknya anjing eksperimen Pavlov; ada stimulus sedikit saja, kita langsung bereaksi. Kita jadi pecandu digital yang selalu menunggu "dosis" interaksi berikutnya.
Masalahnya, karena kita terlalu sering mengantisipasi dosis dopamin ini, tingkat kecemasan (anxiety) kita meningkat. Semakin sering seseorang merasa cemas atau merasa harus selalu terkoneksi (FOMO - Fear of Missing Out), semakin sering pula mereka bakal mengalami Phantom Vibration Syndrome. Jadi, kalau paha kamu sering bergetar palsu, mungkin itu sinyal dari tubuhmu kalau kamu lagi stres atau terlalu terobsesi sama dunia maya.
Efek Samping Jadi Manusia "Cyborg"
Ada pengamatan menarik dari para peneliti bahwa HP sekarang sudah bukan lagi sekadar alat komunikasi, tapi sudah dianggap sebagai perpanjangan dari anggota tubuh kita. Kita sudah seperti cyborg setengah manusia setengah silikon. Karena kita membawa HP ke mana-mana—bahkan sampai ke toilet atau tempat tidur—otak kita mulai memasukkan HP ke dalam skema citra tubuh (body schema) kita.
Itulah kenapa ketika getaran semu itu muncul, kita merasakannya secara fisik, bukan cuma bayangan di pikiran. Saraf kita benar-benar mengirimkan sinyal ke otak seolah-olah ada tekanan fisik di sana. Ini adalah bukti betapa dalamnya teknologi sudah merasuk ke dalam sistem biologis kita. Kita nggak cuma memakai teknologi, kita sudah "menyatu" dengannya.
Tentu saja, hal ini punya sisi gelap. Kebiasaan mengecek HP secara impulsif—yang dipicu oleh getaran palsu—bisa merusak konsentrasi. Lagi ngerjain tugas, cek HP. Lagi ngobrol serius, cek HP. Lagi deep talk sama pasangan, eh tiba-tiba tangan merogoh saku karena merasa ada yang manggil. Padahal ya nggak ada siapa-siapa.
Gimana Caranya Biar Nggak "Halu" Lagi?
Terus, apakah kita harus membuang HP ke laut supaya paha kita berhenti bergetar secara gaib? Ya nggak perlu sedrastis itu juga, sih. Ada beberapa cara simpel untuk mengistirahatkan otak kita dari "hack" notifikasi ini.
- Ganti Posisi HP: Kalau biasanya kamu taruh HP di saku kanan, coba pindahin ke saku kiri atau taruh di tas. Ini bakal memutus pola kebiasaan saraf di area paha yang biasanya sensitif.
- Matikan Mode Getar: Coba deh sehari-hari pakai mode senyap (silent) tanpa getar sama sekali. Ini bakal melatih otakmu untuk tidak selalu waspada terhadap stimulus fisik. Biar kamu yang mengecek HP saat kamu mau, bukan HP yang memerintah kamu lewat getaran.
- Digital Detox Tipis-tipis: Cobalah buat menjauh dari HP selama 30 menit saja setiap harinya. Tanpa distraksi, biarkan otakmu kembali mengenal realitas fisik tanpa embel-embel sinyal digital.
Pada akhirnya, Phantom Vibration Syndrome adalah pengingat bahwa di balik canggihnya teknologi yang kita pegang, biologi manusia kita masih tertinggal di masa lalu. Kita adalah makhluk purba yang dipaksa hidup di tengah badai algoritma. Jadi, kalau nanti paha kamu bergetar lagi padahal nggak ada notifikasi, jangan panik. Itu cuma cara otakmu bilang, "Eh, istirahat dulu yuk, jangan terlalu serius sama dunia tipu-tipu di layar itu."
Lagian, hidup itu lebih dari sekadar membalas chat dengan cepat, kan? Kadang, momen terbaik dalam hidup justru terjadi saat HP kita benar-benar diam dan kita benar-benar hadir di dunia nyata. Jadi, taruh dulu HP-mu, nikmati kopinya, dan berhentilah jadi budak getaran semu.
Next News

Kenapa Kita Sering Bilang Belum Lima Menit Saat Makanan Jatuh?
in 32 minutes

Mengapa Like dan Komentar Tak Bisa Mengobati Rasa Sepimu?
33 minutes ago

Mitos atau Fakta Sinyal Ponsel Bisa Mengganggu Navigasi Pesawat
2 hours ago

Sering Dapat Ide Pas Mandi? Kamu Gak Sendiri, Ini Alasannya
3 hours ago

Cuma Pajangan? Simak Fakta Menarik Mengapa Pria Memiliki Puting
4 hours ago

Trik Tetap Produktif Meski Ngantuk Melanda Setelah Makan
5 hours ago

Mengenal Istilah Generasi Micin dan Ironi di Balik Gurihnya MSG
6 hours ago

Sering Oles Odol ke Jerawat? Kenali Risikonya Sebelum Terlambat
6 hours ago

Benarkah Mandi Malam Picu Rematik? Simak Penjelasannya di Sini
7 hours ago

Suhu Jakarta Ekstrem? Tips Tidur Nyaman Tanpa Pasang AC di Rumah
8 hours ago






